Home » » Hubungan Timbal Balik Antara Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

Hubungan Timbal Balik Antara Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

Hubungan Timbal Balik Antara Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

A.Hubungan keluarga dan sekolah

Keluarga sebagai satuan organisasi terkecil mendapat peran yang sangat penting karena membentuk kepribadian dan watak keluarganya. Lingkungan keluarga yang pertama dan utama mempengaruhi seluruh aspek tingkah laku dan perkembagan anak. Dalam rangka menciptakan pendidikan yang baik untuk anak maka peranan orang tua sangat penting, karena keluarga merupakan dasar utama pembentukan manusia. Keluargalah yang memberi arah dan corak serta pandangan hidup yang akan dialami anak pada masa selanjutnya. Oleh karena itu, keluarga perlu menjaga stabilitas, ketenangan dan ketentraman di antara semua anggota keluarga, terutama ayah dan ibu sebagai pengendali dan penanggungjawab dalam keluarga. Pendidikan yang baik bukanlah hanya pendidikan yang di sengaja, latihan, kebiasaan-kebiasaan yang baik, tetapi yang jauh lebih penting adalah sikap dan cara orang tua dalam menghadapi hidup pada umumnya dan cara memperlakukan anak.[1]
Orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama atas anaknya   bertanggungjawab atas  kelakuan, pembentukan  kesusilaan, watak dan   kepribadian  anaknya. Orang tua harus mampu menanamkan kebiasaan yang baik tentang kesehatan, makanan dan minuman yang halal, menahan kecendrungan mementingkan diri sendiri, menanamkan sifat suka menolong, disiplin dan bertanggungjawab serta berkasih sayang dengan sesamanya.
Sikap dan cara orang tua memperlakukan anak sebagai mana kata terakhir dari pernyataan Zakiah Darajat, selain berakibat terhadap pembentukan kepribadian anak, juga terhadap pendidikan. Di dalam ajaran islam terdapat lima faktor yang menjadi dasar pembangunan rumah tangga yang stabil, bahagia dan sejahtera sebagai berikut:
1.      Suami istri mempunyai niat yang ikhlas dalam membangun rumah tangganya.
2.      Terciptanya suasana keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Setiap anggota keluarga memahami tugas dan perannya dalam kehidupan sehari-hari.
4.      Terpeliharanya kesehatan dan terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga.
5.      Tercapainya fungsi pendidikan keluarga terutama anak-anak.[2]
Karena keluarga adalah lapisan mikrosistem yang terpenting, maka islam mengajarkan untuk membina kasih sayang dan hubungan positif di dalam keluarga. Hubungan ini bersifat timbal balik yakni orang tua berkewajiban untuk menyayangi dan mendidik anak-anaknya dengan adil untuk mendapatkan perkembangan yang optimal. Sebaliknya anak memiliki kewajiban untuk hormat dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Apabila ayah, ibu dan anak-anak dapat memahami dan menyadari peran dan tugasnya masing-masing maka keluarga tersebut akan harmonis.
Anak yang hidup dalam rumah tangga yang harmonis akan tumbuh dan berkembang dengan optimal, baik dari segi fisik dan mentalnya. Anak ini akan siap memasuki dunia sekolah yang jelas pergaulannya akan menjadi luas sebab interaksi yang dilakukannya berhubungan dengan orang banyak, yakni teman-teman, guru, dan semua komponen yang berhubungan dengan sekolah.
Anak ini lebih siap dalam menerima perubahan-perubahan dan pelajaran yang diberikan guru. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa anak yang cerdas dan berpotensi disekolah ternyata berasal dari keluarga yang harmonis. Begitu juga sebaliknya anak yang kurang berprestasi bahkan cendrung menjadi anak “nakal” disekolah kebanyakan berasal dari keluarga yang berantakan (broken home), penuh dengan konflik-konflik internal antar anggota keluarga. Hubungan yang baik antara pihak orang tua (keluarga) dengan sekolah juga memegang peranan penting dalam pencapaian prestasi siswa sebab anak yang cerdas di sekolah tetapi berasal dari keluarga yang tidak harmonis, maka ia tidak akan mampu mengeksplo kemampuan intelegensinya secara optimal.[3]
Peralihan bentuk pendidikan dari jalur luar sekolah ke jalur pendidikan sekolah (formal) memerlukan “kerjasama”  antara orang tua dan pendidik. Sikap anak terhadap sekolah akan dipengaruhi oleh sikap orang tuanya. Olehnya itu sangat diperlukan kepercayaan orang tua terhadap sekolah (pendidik) yang menggantikan tugasnya selama di ruangan sekolah. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, mengingat akhir-akhir ini sering terjadi tindakan-tindakan kurang terpuji yang dilakukan anak didik, sementara orang tua seolah-olah tidak mau tahu, bahkan cendrung menimpakan kesalahan kepada sekolah.
Orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan menghargai segala usahanya. Orang tua harus menunjukkan kerjasamanya dalam mengarahkan cara anak belajar di rumah, mengarahkan anaknya untuk menyelesaikan pekerjaan rumahnya, tidak menyita waktu anak dengan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, orang tua memotivasi dan membimbing anak dalam belajar. Untuk menjalin kerjasama antara keluarga dengan sekolah, maka ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu:
1.      Melakukan kunjungan ke rumah anak didik
2.      Mengundang orang tua ke sekolah
3.      Mengadakan rapat atau konferensi tentang kasus
4.      Membentuk organisasi badan pembantu sekolah (komite sekolah)
5.      Mengadakan surat menyurat antara sekolah dengan keluarga
6.      Adanya daftar nilai atau raport anak didik yang disampaikan kepada orang tua[4]
Demikian beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjalin kerjasama antara sekolah dengan keluarga. Semua bentuk kerjasama tersebut sangat besar manfaatnya dalam memajukan pendidikan sekolah pada umumnya dan anak didik pada khususnya

B. Hubungan keluarga dan masyarakat

Interaksi sosial yang penting dan mempengaruhi peserta didik adalah interaksi dengan masyarakat. Lapisan mikrosistem lain yang penting setelah keluarga adalah tetangga sebagai masyarakat terdekat. Tetangga adalah lingkungan sekitar rumah yang sering berinteraksi secara sosial. Hubungan yang baik dengan tetangga merupakan suatu kebahagian. Sehingga harus dipelihara dengan baik. Agar tercipta kondisi masyarakat yang kondunsif maka kita harus saling hormat menghormati, harga menghargai, dan sayang menyayangi dengan tetangga (orang lain). Menyayangi orang lain dapat diartikan bahwa tidak menyinggung dan tidak pula menyakiti perasaan tetangga. Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w yang artinya “Orang islam itu ialah orang yang dapat membuat manusia merasa aman dan selamat dari ulah tangan  dan lisannya.”[5] Kemudian Nabi Muhammad s.a.w memberikan gambaran tentang keterkaitan hubungan antara orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lainnya. Yang apabila dipelihara dengan baik maka akan menciptakan suatu kebahagiaan, sebagaimana hadits Rasulullah s.a.w yang artinya “di antara kebahagiaan seorang muslim adalah mempunyai tetangga yang shalih, rumah yang luas dan kendaraan yang meriangkan .”(HR. Ahmad dan Al-Hakim).[6] Hubungan dengan tetangga ini merupakan hal yang penting sebab tetangga yang baik akan turut mempengaruhi perkembangan kepribadian anak menjadi generasi muslim yang baik pula. Sehingga anak tersebut akan baik pula dengan tetangga dan teman sepergaulannya dalam masyarakat di mana ia tinggal. Pembentukan sikap sosial ini sangat penting, sebab dalam ajaran islam “hablum minannas” ini sangat utama, karena manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan orang lain didalam kehidupannya. Maka anak sejak dari lingkungan kelurga telah disadarkan melalui keteladanan kedua orang  tuanya di rumah tangga, di lingkungan, dan masyarakat luas. Dalam rangka pembentukan interaksi sosial yang harmonis, maka harus dilakukan melalui pendidikan kunjungan (visiting education). Alangkah baiknya anak sesekali diajak untuk mengunjungi tetangga dan sanak keluarga. Hal ini dimaksudkan agar di dalam diri anak akan timbul rasa kecintaan kepada kaum kerabat orang tuanya, sehingga dalam dirinya ada perasaan bangga mempunyai sanak keluarga, baik yang dekat maupun yang jauh. Hendaknya betapa sibuknya orang tua dalam kehidupan sehari-hari, perlu diprogramkan sekali-sekali mengunjungi tetangga dan keluarga dekat. Kenapa visiting education ini diperlukan karena kenyataan sekarang sifat kehidupan sebagian masyarakat kita lebih menampakkan gejala-gejala individualistis akibat pengaruh kesibukan, ekonomi, waktu, tempat, dan sebagainya. Visiting education dalam ajaran islam dikenal dengan istilah pertemuan silaturrahmi. Apabila orang tua sering mengajak anak-anaknya bersilaturrahmi baik kepada tetangga maupun keluarga dekat maka akan menimbulkan kesan yang mendalam  dalam dirinya dan akan dibawanya sepanjang kehidupan dan tidak akan terlupakan selama hidupnya. Kebiasaan baik ini dapat menjadi budaya bangsa dan dapat dilestarikan di tengah-tengah masyarakat.Masyarakat bila dilihat dari konsep sosiologi adalah sekumpulan manusia yang bertempat tinggal dalam suatu kawasan dan saling berinteraksi dengan sesamanya untuk mencapai tujuan.”[7] Secara kualitatif dan kwantitatif anggota masyarakat terdiri dari berbagai ragam pendidikan, profesi, keahlian, suku bangsa, kebudayaan, agama, lapisan sosial sehingga menjadi masyarakat yang majemuk. Setiap anggota masyarakat secara tidak langsung telah mengadakan kerja sama dan saling mempengaruhi untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuannya. Bila dilihat dari konsep pendidikan, masyarakat adalah “sekumpulan banyak orang dengan berbagai ragam kualitas diri mulai dari yang tidak berpendidikan sampai kepada yang berpendidikan tinggi.”[8] Masyarakat yang ditata dengan nilai-nilai pendidikan dan budaya yang baik akan memberikan pengaruh yang positif bagi orang-orang yang berada dalam interaksi masyarakat tersebut. Masyarakat besar pengaruhnya dalam memberi arah terhadap pendidikan anak. Semua anggota masyarakat harus ikut bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan, sebab pada hakekatnya pendidikan merupakan tanggung jawab moral dari setiap orang dewasa baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok sosial. Oleh karena itu, jika ingin berada dalam sistem yang baik, maka keluarga juga harus di tengah-tengah masyarakat yang baik. Hubungan keluarga yang baik dengan masyarakat yang baik akan berdampak positif pada perkembangan anak, sebab anak menangkap nilai-nilai moral dan pembelajaran dari lingkungan keluarga dan masyarakat di mana anak tersebut berada. Pendidik dalam masyarakat adalah orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap pendewasaan anggotanya melalui sosialisasi lanjutan dari dasar-dasar kepribadian yang diletakkan oleh keluarga dan juga oleh sekolah sebelum mereka masuk dalam masyarakat. Melalui sosialisasi lanjutan ini maka rasa tanggung jawab terhadap kepentingan orang banyak akan terbentuk. Dengan demikian yang bersangkutan akan melaksanakan fungsinya sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada orang banyak. Dengan demikian para pemimpin resmi maupun tidak resmi adalah pendidik dalam masyarakat. Pemimpin resmi adalah orang-orang yang memegang jabatan di bidang pemerintahan mulai dari lurah sampai kepada pimpinan negara, sedangkan pemimpin tidak resmi adalah tokoh-tokoh agama, kepala suku, ketua adat, tokoh partai, dan sebagainya.”[9]
Mereka secara fungsional dan struktural di lingkungannya masing-masing bertanggungjawab terhadap perilaku dan tingkah laku warga masyarakatnya.

C. Hubungan sekolah dan masyarakat

Sekolah merupakan lembaga sosial formal yang tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat. Artinya sebagai lembaga sosial  formal, sekolah harus terikat pada tata aturan formal, berprogram dan bertarget atau bersasaran yang jelas serta memiliki kepemimpinan penyelenggaraan atau pengelolaan yang resmi. Karena itu fungsi sekolah terikat kepada target atau sasaran-sasaran yang di butuhkan oleh masyarakat itu sendiri.
    Sebagai masyarakat kecil dan sebagai bagian dari masyarakat, sekolah harus membina hubungan dengan masyarakat. Adapun hubungan antara sekolah dan masyarakat dapat dilihat dari dua segi, yaitu:
1.  Sekolah sebagai patner (mitra) dari masyarakat didalam melakukan fungsi pendidikan.
2.  Sekolah sebagai produsen yang melayani pesanan-pesanan pendidikan dari masyarakat dilingkunganya.[10]
Dilihat dari sudut pandang sekolah sebagai patner (mitra) masyarakat maka hubungan sekolah dan masyarakat bersifat korelatif bahkan seperti telur dengan ayam. Masyarakat maju karena pendidikan dan pendidikan yang maju hanya akan ditemukan dalam masyarakat yang maju pula.[11]
Sekolah sebagai salah satu lingkungan dilaksanakannya kegiatan pendidikan , di mana masyarakat mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap berlangsungnya segala aktivitas yang menyangkut masalah pendidikan. Kemajuan dan keberadaan suatu lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh peran serta masyarakat yang ada. Tanpa dukungan dan partisipasi masyarakat, jangan diharapkan pendidikan dapat berkembang dan tumbuh sebagaimana yang diharapkan.[12]
Agar sekolah dapat menjalankan tugasnya dengan baik maka perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1.      Menyesuaikan kurikulum sekolah dengan kebutuhan masyarakat.
2.      Metode yang digunakan harus mampu merangsang murid untuk lebih mengenal kehidupan riil dalam masyarakat.
3.      Menumbuhkan sikap pada murid untuk belajar dan bekerja dalam kehidupan sekitarnya.
4.      Sekolah harus selalu berintegrasi dengan kehidupan masyarakat, sehingga kebutuhan kedua belah pihak akan terpenuhi.
5.      Sekolah seharusnya dapat mengembangkan masyarakat dengan cara mengadakan pembaruan tata kehidupan masyarakat.[13]
          Masyarakat dengan ciri khasnya yang positif dan dinamis akan mempengaruhi keberadaan sekolah. Setiap masyarakat memiliki identitas tersendiri sesuai dengan pengalaman kesejahteraan dan budayanya. Identitas yang dimiliki dan dinamika suatu masyarakat, secara langsung akan berpengaruh terhadap tujuan, orientasi, dan proses pendidikan di sekolah. Ini bisa di mengerti karena sekolah merupakan institusi yang dilahirkan dari, oleh dan untuk masyarakat.
         Pengaruh identitas suatu masyarakat terhadap program pendidikan di sekolah-sekolah, dapat dibuktikan dengan berbedanya orientasi dan tujuan pendidikan pada masing-masing negara. Oleh karena itu dalam kenyataannya tidak pernah terdapat kurikulum pendidikan yang berlaku permanen, akan tetapi selalu dinilai,  disempurnakan,  disesuaikan dengan tuntutan perkembangan masyarakat yang terjadi.
          Berlangsungnya proses pendidikan di sekolah juga tidak terlepas dari pengaruh sosial budaya dan partisipasi masyarakat. Pengaruh sosial budaya yang dimaksud biasanya tercermin didalam proses belajar mengajar baik yang menyangkut pola aktivitas pendidik maupun anak didik didalam proses pendidikan. Katakanlah sekarang dikembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), implementasinya akan banyak diwarnai atau dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat. Nilai sosial budaya didalam masyarakat bisa menjadi penghambat atau pendukung terhadap proses pendidikan yang dipandang baik di dalam khasanah pendidikan. Oleh karena itu, usaha-usaha pembaruan terhadap proses pendidikan di sekolah, mau tidak mau mesti memperhitungkan pula pengaruh sosial budaya dari masyarakat lingkungannya.
 Kemudian dilihat dari sudut pandang sekolah sebagai produsen yang melayani pesanan-pesanan pendidikan dari masyarakat maka gambaran hubungan rasional di antara keduanya yakni :
1.      Sasaran atau target pendidikan yang ditangani sekolah ditentukan oleh kejelasan formulasi kontrak antara sekolah dengan masyarakat. Rumusan-rumusan kebutuhan dan cita-cita pendidikan yang diinginkan masyarakat terpenuhi atau tidak (fungsi layanan sekolah terpenuhi atau tidak).
2.      Penuaian fungsi sekolah untuk melayani pesanan-pesanan pendidikan oleh masyarakat, sedikit banyak akan dipengaruhi oleh ikatan-ikatan obyektif di antara keduanya. Ikatan obyektif  tersebut bisa berupa perhatian, penghargaan dan topangan-topangan tertentu seperti dana, fasilitas dan jaminan obyektif lainnya yang memberikan makna penting terhadap produk persekolahan,”[14]
Semakin luas penyebaran produk sekolah di tengah-tengah masyarakat, dengan tingkat kualitas yang memadai, tentu produk persekolahan tersebut membawa pengaruh positif dan berarti bagi perkembangan masyarakat bersangkutan. Dalam hubungan ini, sekolah bisa disebut sebagai lembaga investasi manusia. Investasi jenis ini sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan manusia, sebab manusia itu sendirilah subyek setiap perkembangan, perubahan dan kemajuan di dalam masyarakat. Rendahnya kualitas faktor manusia di setiap masyarakat, baik kualitas kemampuan maupun kualitas kepribadiannya, sedikit banyak akan berpengaruh terhadap prestasi yang bisa dicapai oleh masyarakat bersangkutan di dalam memajukan segi-segi kehidupannya.
Ada empat macam pengaruh pendidikan persekolahan terhadap perkembangan masyarakat di lingkungannya yaitu :
1.      Mencerdaskan kehidupan masyarakat.
2.      Membawa pembaruan perkembangan masyarakat.
3.      Melahirkan warga masyarakat yang siap bagi kepentingan kerja.
4.   Melahirkan sikap-sikap dan konstruktif bagi warga masyarakat, sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.[15]

D. Hubungan antara keluarga, sekolah dan masyarakat

Keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan tiga institusi yang tidak bisa dipisahkan dari kepentingan pendidikan. Keluarga (orang tua) telah meletakkan dasar-dasar pendidikan di rumah tangga dalam rangka pembentukan kepribadian anak. Orang tua membiasakan kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai ajaran islam, memberikan kemerdekaan kepada anaknya untuk berkembang secara fisik dan psikis. Orang tua membimbing dan mengontrol agar kebebasan gerak potensi yang dimiliki anak terealisasi secara maksimal. Kemudian dilanjutkan dan dikembangkan dengan berbagai materi pendidikan berupa ilmu dengan keterampilan yang dilakukan di sekolah. Sekolah merupakan perpanjangan tangan dari orang tua, karena sekolah tidak mampu menjalankan fungsinya dari nol. Sekolah bertugas mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri peserta didik secara maksimal, sehingga mereka memiliki sejumlah kemampuan yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan fungsinya di tengah-tengah masyarakat. Kemudian selanjutnya lingkungan masyarakat ikut pula berperan serta mengontrol, menyalurkan, dan membina serta meningkatkannya karena masyarakat adalah pemakai dari produk pendidikan yang diberikan oleh keluarga dan sekolah maka masyarakat mengharapkan lahirnya output yang berkualitas. Sebab semakin besar output sekolah tersebut dengan disertai kualitas yang mantap, dalam artian mampu mencetak sumber daya manusia yang berkualitas, maka tentu saja pengaruhnya sangat positif bagi masyarakat. Dengan demikian, bila lembaga pendidikan (sekolah) mampu melahirkan produk-produknya yang berkualitas tentu hal ini merupakan investasi bagi penyediaan SDM. Investasi ini sangat penting untuk pengembangan dan kemajuan masyarakat sebab manusia itu sendiri adalah subyek setiap perkembangan, perubahan, dan kemajuan di dalam masyarakat.[16] Kemudian investasi ini juga di harapkan mampu menghadapi tantangan demi tantangan yang merambah dalam kehidupan masyarakat, dan arus tantangan tersebut akan semakin deras dan berat seirama dengan perkembangan masyarakat yang semakin cepat, sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta terus memengaruhi dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. Di sinilah terlihat pentingnya menciptakan SDM yang berkualitas untuk menghadapi tantangan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Darajat,Zakiah,  Kesehatan Mental, Yogyakarta: PT. Gunung Agung, 1975.
Faisal, Sanafiah, Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, Surabaya: Usaha Nasional, 1988.
Farouk, Abdullah, Mimbar Ceramah Kultum 7 Menit, Surabaya: Amelin, 2005.
Habullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2001
Ihsan, Fuad, Darar-Dasar Kependidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1995.
Musdalifah, “Rumah Tangga Sebagai Salah Satu Wadah Pendidikan” , Makassar: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, 2007.
Noor Syam, Muhammad, Filsafat Pendidikan Dan Dasar Filsafat Pendidikan , Surabaya,Usaha Nasional. 1986.
Purwakania Hasan, Aliah, B, Psikologi Perkembagan  Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.
Salam, Burhanuddin,  Pengaruh Pedagogik (Dasar-Dasar Ilmu Mendidik), Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
Santrock, John, W, Psikolgi Pendidikan, Jakarta: Kencana Persada. Media Group, 2008.
Syamsudduha, St, Modul Evaluasi Pembelajaran Aqidah Akhlak, Makassar : Fakultas  Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, 2009.
Tafsir, Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.


[1] Zakiah Darajat, Kesehatan Mental, (Yogyakarta: PT. Gunung Agung, 1975), h. 75
[2] Musdalifah, Rumah Tangga Sebagai Salah Satu Wadah Pendidikan , Dalam Lentera Pendidikan, (Makassar: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar), h. 243
[3] St. Syamsudduha, Modul Evaluasi Pembelajaran Aqidah Akhlak, (Makassar : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar, 2009), h. 6
[4] Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2005), h 91-94
[5] Abdullah Farouk, Mimbar Ceramah Kultum 7 Menit, (Surabaya: Amelia, 2005), h. 87
[6] Aliah B. Purwakaria Hasan, Psikologi Perkembangan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), h 203.
[7] Fuad Ihsan, Darar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), h. 84
[8] Ibid, h. 85
[9] Ibid, h.86
[10] Sanafiah Faisal, Dalam Tim Dosen FIP IKIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar Kependidikan, Usaha Nasiaonal, Surabaya, 1988, h. 148-151
[11] Muhammad noorsyam, Filsafat Pendidikan Dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, Usaha Nasional, Surabaya, 1986, h. 199
[12] Hasbullah, op.cit, h. 100
[13] Fuad Ihsan, op., cit. h. 98
[14] Burhanuddin Salam, Pengaruh Pedagogik (Dasar-Dasar Ilmu Mendidik), (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h.137-138
[15] Ibid. h.139
[16] Hasbullah, Op., cit. h. 104
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Hubungan Timbal Balik Antara Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 9/21/2017

2 komentar Hubungan Timbal Balik Antara Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak