Kumpulan Berbagai Jenis Makalah

FILSAFAT DALAM PERPEKTIF ISLAM

Hasil gambar untuk FILSAFAT DALAM PERSPEKTIF ISLAMSophia asal kata Filsafat adalah philo yang berarti cinta, dan yang berarti ilmu kebenaran. Jadi arti kata filosofos adalah cinta ilmu atau pecinta ilmu. Biasanya filosof atau orang – orang bijak, dikatakan kepada orang – orang yang mencintai berbagai ilmu pengetahuan. Seperti matematika, logika, kimia, perbintangan, ketuhanan, sastra, keberadaan, dan sebagainya.

Namun demikian istilah Filsafat berkembang menjadi “ilmu yang membahas tentang wujud dilihat dari sisi wujud”, bukan dari sisi tertentu seperti kesehatan yang menjadi ilmu kedokteran dari sisi berfikir benar yang menjadi ilmu logika, dari sisi kuantitas yang menjadi al-jabar atau matematika, dari sisi kimia yang menjadi ilmu kimia dan seterusnya. Sebagaimana akan disebutkan contoh – contoh bahasannya melihat wujud dari sisi wujud, bukan dari sisi tertentu, adalah objek kajian filsafat. Seperti apa hakikat wujud itu ; apakah wujud itu bertingkat ; apakah satu wujud dengan wujud lain ; apakah wujud itu memiliki sumber dan juga tujuannya, dan seterusnya.

Seirama dengan batasan lama dan baru mengenai Filsafat, maka objek Filsafat bagi batasan lama apa saja yang menjadi objek berbagai ilmu. Tapi objek Filsafat baru batasan baru yang sampai sekarang telah menjadi baku, adalah wujud itu sendiri.

Kerancuan Pengertian dan Objek Filsafat

Sebagian pengkaji Filsafat, khususnya yang ada di barat, yang kemudian menjadi metodologi dan sumber rujukan muslimin, mengira bahwa objek Filsafat adalah keberadaan metafisik, alias non materi. Jadi bagi mereka Filsafat adalah ilmu metafisika dan objeknya adalah wujud – wujud non fisik. Oleh karenanya mereka tidak menjadikannya sebagai ilmu atau science (sains) yang, dapat menjadi pedoman dan pegangan. Tapi menggolongkannya kepada knowledge atau pengetahuan saja. Karena itulah kepercayaan – kepercayaan kepada Tuhan, malaikat, ruh, dan semacamnya adalah tergolong pengetahuan yang tak pasti dan tidak ilmiah, lantaran tidak bisa dieksperimen.

Sebab Munculnya Kerancuan

Sebagaimana tertulis dalam buku – buku master dan sejarah Filsafat yang kami pelajari selama belasan tahun di hauzah (pesantren) Qum di Iran, penyebab kerancuan trsebut bersumber pada pemberian sub judul pada karya aristoteles.

Aristoteles dalam bukunya, membahas banyak hal, dimana sesuai dengan batasan yang lama Filsafat adalah objek ilmu filsafat. Setelah ia membahas wujud dilihat dari sisi fisika, ia membahas wujud dilihat dari sisi wujud. Namun pada bahasannya ini ia tidak memberi judul. Penerjemah karya tersebut ke bahasa arab, memberikannya judul bahasan dengan nama “ma ba’da al tabi’ah”, yakni “pembahasan setelah pembahasan fisika”.

Karena dunia barat sampai akhir – akhir abad – 18 berkiblat pada keajuan Islam, mereka menerjemah buku terjemahan tersebut kedalam bahasa inggris. Pada sub judul “ma ba’da al thabi’ah” itu, diterjemah dengan “metaphysics”.

Sudah tentu, karena bahasan metaphysics ini adalah wujud dilihat dari sisi wujud, maka argumentasi yang digunakan adalah argumentasi – argumentasi akal. Artinya tidak melalui penelitian fisika atau panca idrawi sebagaimana ilmu –ilmu lainnya (sesuai batasan baru Filsafat), atau sebagaiman sub–sub judul lainnya (sesuai dengan batasan lama Filsafat). Akhirnya terjadilah kekeliruan dalam pahaman terhadap ilmu Fislsafat yakni dikiranya bahwa Filsafat itu adalah ilmu yang mempelajari tentang wujud – wujud non fisik. Terlebih lagi didalamnya terdapat pembahasan wujud-wujud non materi seperti Tuhan.

Tujuan Filsafat

Ketika Filsafat (dalam makna barunya) adalah ilmu yang membahas keberadaan dari sisi adanya, maka tujuan mempelajarinya adalah mengenali wujud itu sendiri dan yang tertinggi adalah sumbernya, maka tujuan puncak mempelajari filsafat adalah mengenal Tuhan.

Pandangan Islam Terhadap Filsafat

Islam, dalam hal ini Qur’an dan Hadits, ternyata sangat mendukung Filsafat baik langsung atau tidak. Berikut ini kami sebutkan sebagian contoh-contohnya :

“… maka maknanya (hikmah) adalah semacam kekuatan dan kekokohan (argumen) atau sesuatu yang kuat dan kokoh yang tidak mengandungi kebatilan dan kebohongan sama sekali”.
Dengan demikian karena hikmah adalah statemen atau ilmu yang kokoh dan benar (sesuai kenyataan), maka filsafat adalah salah satu dari hikmha tersebut. Hal ini karena filsafat membahas keberadaan dengan pembuktian dan argumentasi akal yang kuat dan kokoh. Dengan kata lain, dengan dalil-dalil akal yang umumnya absolut.

Keberatan Terhadap Keabsolutan Akal

Sebagian orang mengatakan bahwa akal itu tidak absolute, dan hanya al-Quranlah yang absolute. Dengan alas an ini mereka menolak filsafat.
Mereka tidak menyadari bahwa pernyataannya ini menentang isinya. Hal ini disebabkan oleh, kalau pernyataannya itu benar secara absolute berarti ada keabsolutan yang bisa dicapai akal. Dan kalu pernyataannya itu tidak absolut, maka pernyataannya yang menyatakan bahwa akal itu tidak absolute itu salah. Ini berarti bahwa bisa mencapai dan memiliki keabsolutan.

Pusat Kajian Filsafat dan Kitab-kitabnya

Pusat kajian filsafat yang sangat terkenal sejak dahulu kala adalah Iran, baik pada abad-abad terdahulu di Isfahan, atau masa kini di kota Qum.
Di Pesantren, yang biasa disebut Hauzah (ilmiah), kajian filsafat ditempuh dengan tahapan sebagai berikut:
1.     Pelajaran Muqaddimah: pelajaran ini berisikan pelajaran bahasa Arab (Tashrif, Nahwu Jurumiyah, Qathru al-Nadah, Nahwu Syarh Alfiyyah Ibnu Malik, Nahwu Mughni al-Labib, Sastra Balaghatu al-Wadhihah, Sastra Syarh Mukhtashr al-Ma’ani) dan Logika (Khulashatu al-Mantiq dan Mantiq al-Mudhaffar). Biasanya pelajaran Muqaddimah ini ditempuh selama 4 tahun.
2.   Setelah Muqaddimah kemudian pelajaran tengah yang intinya adalah fikih berdalil (al-Lum’ah dan al-Makasib) dan Ushulu al-Fiqhi (al-Ma’alim, al-Mudhaffar, al-Rasail dan al-Kifayah). Tingkatan tengah (shuthuh) ini biasanya ditempuh 8 – 9 tahun.
3.   Setelah pelajaran tengah, memasuki jenjang akhir yang dikenal dengan al-Bahtsu al-Kharij, pelajaran luar, yakni keluar dari teks. Hal itu karena pelajarannya adalah ijtihad guru yang mengajarnya. Artinya, sudah tidak menggunakan buku (kitab) lagi. Dan seorang murid di sini sudah dibolehkan mendebat (tidak setuju) dengan ijtihad gurunya.
Pelajaran ini ditempuh secara beraneka ragam sesuai kemampuan murid dalam mencapai ijtihad. Dimulai dari standar rata-rata 10 – 20 tahun.
4.  Untuk jurusan filsafat, maka setelah pelajaran Muqaddimah mereka mempelajari:
a.       Kalam (al-Babu al-Hadi ‘Asyr dan Syarhu al-Tajarid). Biasanya ditempuh ± 3 tahun.
b.      Filsafat Ringkas (bisa Bidayatu al-Hikmah dan bisa al-Manzhumah). Biasanya ditempuh selama 2 tahun.
c.       Filsafat Sedang (Ilahiyatu al-Syifa’ dan al-Isyarah wa al-Tanbihat yang keduanya karangan Ibnu Sina). Biasanya ditempuh 2 – 3 tahun.
d.      Filsafat Tinggi  (al-Asfaru al-Arba’ah karangan Mulla Shadra, 9 jilid). Biasanya ditempuh 9 – 18 tahun.
e.       Setelah itu masuk Irfan (Gnosis) dengan mempelajari al-Tamhidu al-Qawaid dan Fushushu al-Hikmah. Biasanya memerlukan waktu 3 tahun.
Labels: MAKALAH FILSAFAT

Thanks for reading FILSAFAT DALAM PERPEKTIF ISLAM. Please share...!

0 Comment for "FILSAFAT DALAM PERPEKTIF ISLAM"

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak

Back To Top