Home » » Pengertian, Macam-macam, dan Sejarah Yurispundensi dalam Hukum Islam

Pengertian, Macam-macam, dan Sejarah Yurispundensi dalam Hukum Islam

Pengertian, Macam-macam, dan Sejarah Yurispundensi dalam Hukum Islam

A. Pengertian Yurisprudensi

Secara etimologi, kata yurisprudensi berasal dari bahasa Inggris (jurisprudence), yang berarti general theory of law (teori ilmu hukum). Sedangkan dalam bahasa Latin dinamakan dengan jurisprudentia, yang berarti keputusan hakim, mengandung suatu ketentuan yang diciptakan sendiri untuk menuntaskan suatu perkara yang diserahkan wewenang kepadanya.

Dalam ekspansi maknanya, yurisprudensi berarti: 
(1) ilmu mengenai penerapan undang-undang peradilan
(2) himpunan keputusan-keputusan pengadilan, yang dibuntuti oleh semua hakim dalam mengadili atau menyimpulkan perkara yang serupa.

Dari dua arti yang dilafalkan di atas, yang menjadi titik penekanan makalah ini ialah dalam definisi yang dilafalkan kedua, yakni himpunan keputusan-keputusan pengadilan, terutama keputusan yang dikeluarkan oleh pengadilan negara tertinggi (Mahkamah Agung). Himpunan keputusan-keputusan tersebut, menjadi dasar keputusan hakim lainnya guna mengadili perkara serupa dan menjadi sumber hukum untuk pengadilan yang terdapat di bawahnya.

B. Macam-macam Yurisprudensi

Para berpengalaman hukum membagi yurisprudensi atas dua macam, yaitu: 
(1) yurisprudensi tetap
(2) yurisprudensi tidak tetap.

Yurisprudensi tetap merupakan keputusan-keputusan hakim yang berulang kali dipakai pada kasus-kasus yang serupa. Dengan kata beda bahwa yurisprudensi tetap terjadi, sebab suatu susunan keputusan-keputusan serupa, atau karena sejumlah keputusan yang diberi nama standaardarrenten. Keputusan standar yang dimaksud ialah keputusan Mahkamah Agung yang sudah menjadi dasar dan baku, yang secara prinsipil memberi suatu solusi tertentu untuk hakim lainnya.

Keputusan standar yang dilafalkan di atas menjadi pegangan yang kuat untuk kalangan pengadilan atau semua sarjana hukum. Bahkan, tidak jarang kali adalahsuatu pegangan yang powerful daripada undang-undang, terutama andai undang-undang itu tidak cocok dengan suasana sosial yang ada.

Adapun yurisprudensi tidak tetap ialah yurisprudensi yang belum masuk dalam katagori yurisprudensi tetap. Atau dengan kata beda keputusan hakim yang melulu dijadikan pedoman dalam memungut keputusan tentang satu perkara serupa.

C. Sejarah Perkembangan Yurisprudensi dalam Hukum Islam

Mengacu pada pengertian yurisprudensi yang telah dilafalkan di muka, maka yang tidak jarang dijumpai dalam pemakaian istilah yurisprudensi dalam hukum Islam ialah pada pengertiannya yang kesatu, yakni ilmu mengenai prinsip-prinsip utama hukum, yang mengutamakan diri pada bidang hukum dalam sekian banyak  aspeknya, analisis tradisionalnya, sejarah asal awal perkembangannya, serta karakter ideal hukum tersebut.

Pernyataan di atas diperkuat oleh pandangan semua fuqaha’ yang menuliskan sumber utama yurisprudensi hukum Islam ialah Alquran dan Sunnah. Kedua sumber hukum ini dijadikan sebagai yurisprudensi pada abad kesatu hijriah.[9] Maksudnya ialah semua permasalahan yang hadir di tengah-tengah masyarakat pada masa itu, penyelesaiannya melulu berdasar pada Alquran dan Hadis Nabi.

Berbeda halnya setelah menginjak abad kedua hijriah, saat umat Islam telah melalui perbatasan jazirah Arab dan menginjak wilayah-wilayah non-Arab. Pada masa tersebut persoalan yang hadir di tengah-tengah masyarakat Islam semakin berkembang dan ruwet, sampai-sampai dalam penyelesaiannya tidak lumayan hanya memakai Alquran dan Hadis Nabi, tetapi sudah berkembang dalam format ijmak (konsesnsus semua ulama), kias (analogi), istihsan, istishlah, dan sadd al-dzara’i. Pada masa ini telah hadir tokoh-tokoh pemikir hukum yang handal, laksana Abu Hanifah, Malik, al-Syafi’iy, dan Ahmad ibn Hanbal. Mereka-mereka tersebut telah mengeluarkan sekian banyak  teori guna memperkaya khazanah yurisprudensi hukum Islam.

Kalau istilah yurisprudensi hukum Islam dipindahkan dalam konteks keindonesiaan, terutama dalam era modern, terlihat adanya perbedaan dengan sejarah pertumbuhan di mula kemunculannya. Dalam konteks yang dilafalkan terakhir, istilah yurisprudensi tidak lagi ditafsirkan sebagai tatanan sumber-sumber hukum Islam, bakal tetapi telah mengarah untuk hasil keputusan pengadilan yang berlaku di lingkungan Peradilan Agama.

Yurisprudensi Peradilan Agama yang dimaksud ialah hasil keputusan Pengadilan Agama, Pengadilan Tinggi Agama, dan Mahkamah Agung. Hasil keputusan tiga tingkat peradilan tersebut dinyatakan sebagai di antara dari sumber hukum Islam yang terdapat di Indonesia, guna dijadikan acuan oleh semua hakim dalam mengecek dan menyimpulkan perkara serupa.

DAFTAR PUSTAKA

Basri, Cik Hasan, et al. Kompilasi Hukum Islam dan Peradilan Agama dalam Sistem Hukum Nasional. Cet. II; Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 8.  
--------. Peradilan Agama dalam Tatanan Masyarakat Indonesia. Cet. I; Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1997. 
--------. Peradilan Agama di Indonesia. Cet. I; Jakarta: Balai Pustaka, 2001. 
Dahlan, Abdul Azis, et al. Ensiklopedi Hukum Islam Indonesia. Jilid II Cet. I; Jakarta: PT Ichtiar Baru-van Hoeve, 1996.  
Hallaq, Wael B. A. History of Islamic Legal Theories, diterjemahkan oleh E. Kusnadiningrat dan Abdul Haris bin Wahid dengan judul Sejarah Teori Hukum Islam. Cet. I; Jakarta: PT Raja Grafinso Persada, 2000. 
Soeroso, R. Pengantar Ilmu Hukum. Cet. I; Jakarta: PT Sinar Grafika, 1993. 
Syarifin, Pipin. Pengantar Ilmu Hukum. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1998. 
Tim Penyusun. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jilid XVII. Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka, t.th.
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Pengertian, Macam-macam, dan Sejarah Yurispundensi dalam Hukum Islam

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 10/05/2017

0 komentar Pengertian, Macam-macam, dan Sejarah Yurispundensi dalam Hukum Islam

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak