MODEL DAN METODE MENGAJAR

A. Pengertian Model dan Metode mengajar

Model Pembelajaran menurut Joyce dan Weil adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk Kurikulum ( rencana pembelajaran jangka panjang),merancang bahan-bahan pelajaran,dan membimbing pelajaran di kelas atau yang lain.[4]
Metode secara harfiah adalah”cara” Dalam pemakaian yang umum,metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis. Dalam dunia psikologi, metode berarti prosedur sistematis ( tata cara yang berurutan ) yang biasa digunakan untuk menyelidiki fenomena ( gejala-gejala) kejiwaan seperti metode klinik,metode eksperimen,dan sebagainya.[5]
Menurut Hasan Langgulung mendefenisikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan.[6]
Selain metode,dan pendekatan pembelajaran terdapat juga istilah lain yang kadang-kadang sulit dibedakan,yaitu teknik dan taktik mengajar. Teknik dan taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode pembelajaran. Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Misalnya cara yang bagaimana yang harus dilakukan agar metode ceramah yang dilakukan berjalan efektif dan efesien? Dengan demikian,sebelum seseorang melakukan proses ceramah sebaiknya memerhatikan kondisi dan situasi. Misalnya berceramah pada siang hari dengan jumlah siswa yang banyak tentu saja akan berbeda jika ceramah itu dilakukan pada pagi hari dengan jumlah yang terbatas.[7]
Selanjutnya yang dimaksud dengan metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan,khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa.[8]
Syarat-syarat yang harus diperhatikan seorang guru dalam penggunaan metode pembelajaran adalah sebagai berikut :
1.      Metode yang dipergunakan harus dapat membangkitkan motif,minat atau gairah belajar siswa.
2.      Metode yang digunakan dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut,seperti melakukan inovasi dan eksporasi.
3.      Metode yang digunaka harus dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk mewujudkan hasil karya.
4.      Metode yang digunakan harus dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian siswa.
5.      Metode yang digunakan harus dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memporoleh pengetahuan melalui usaha pribadi.
6.      Metode yang digunakan harus dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai dan sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari[9]

B.     Model  dan metode dalam  mengajar

Robert Glaser telah mengembangkan suatu model pengajaran yang membagi proses belajar mengajar dalam empat komponen yaitu :
1.      Instruktional Objektivites
2.      Entering Behavior
3.      Intruktional Procedur
4.      Performance assessement
Instruktional Objektivites ialah tujuan pengajaran,semua kualifikasi yang diharapkan dimiliki peserta didik bila ia telah mengikuti kegiatan belajar mengajar tertentu.
Entering Behavior. Bagian ini harus menggambarkan tingkat kemampuan peserta didik sebelum pengajaran dimulai.untuk itu perlu diadakan pretest. Bagian ini juga harus menjelaskan juga apa-apa yang dipelajari oleh peserta didik sebelumnya, kemampuan intelektualya,kesediaan motivasinya,determinan sosial yang mempenaruhi situasi belajarnya.
Intruktional Procedure. Bagian ini berkenaan dengan perencanaan proses belajar mengajar. Bagian ini harus menjelaskan langkah-langkah interaksi dilakukan dalam rangka mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
Performance Assesment yaitu bagian atau tahapan evaluasi untuk mengetahui apakah prose belajar mengajar tercapai.[10]
 Guru atau pendidik adalah seorang yang bertanggung jawab untuk memberikan bimbingan secara sadar terhadap perkembangan kepribadian dan kemampuan peserta didik baik itu dari aspek jasmani dan rohaniahnya agar ia mampu hidup mandiri dan dapat memenuhi tugasnya sebagai makhluk Tuhan sebagai individu dan juga makhluk sosial.[11]
Pada prinsipnya,tidak satupun metode mengajar yang dapat dipandang sempurna dan cocok dengan semua pokok bahasan yang ada dalam setiap bidang studi. Mengapa? Karena, setiap metode pasti memiliki keunggulan keunggulan dan kelemahan-kelemahan yang khas. Namun kenyataan ini tidak bisa dijadikan argumen mengapa seorang guru gagal dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar.
Sebaliknya guru yang profesional dan kreatif justru hanya akan memilih metode mengajar yang lebih tepat setelah menetapkan topik pembahasan materi dan tujuan pelajaran serta jenis kegiatan belajar siswa yang dibutuhkan.
Upaya guru untuk memilih metode yang tepat dalam mendidik peserta didiknya adalah disesuaikan pula dengan tuntunan berhadapan dengan peserta didiknya, ia harus mengusahakan agar pelajaran yang diberikan kepada peserta didiknya itu supaya mudah diterima. Tidaklah cukup dengan bersikap lemah lembut saja. Ia harus memikirkan metode-metode yang akan digunakannya,seperti memilih waktu yang tepat, materi yang cocok, pendekatan yang baik,efektivitas penggunaaan metode dan sebagainya.[12]
Untuk menggambarkan karakteristik metode-metode mengajar tadi, berikut ini penyusun buatkan tabel perbandingan yang berisi beberapa metode pokok mengajar sebagai contoh
Metode
Sifat materi
Tujuan
Keunggulan
Kelemahan
Ceramah


Demonstrasi



Diskusi
Informatif,
Faktual

Prinsipal,Faktual,
Keterampilan


Prisipal,
Konseptual
Keterampilan
Pemahaman,
Pengetahuan

Pemahaman Aplikasi


Pemahaman,Analisis
Sintesis,Evaluasi,
aplikasi
Lebih banyak
Materi tersaji

Siswa berpengalaman dan berkesan mendalam
Siswa aktif,berani dan kritis
Kelemahan siswa secara pasif
Lebih Banyak Alat dan Biaya
Meboroskan waktu,
Didomonasi
Siswa pintar[13]

Mengajar merupakan istilah kunci yang hampir tak  pernak luput dari pembahasan mengenai pendidikan karena keeratan hubungan antara keduanya. Sebagian orang menganggap mengajar hanya sebagian salah satu alat atau cara dalam menyelenggarakan pendidikan,bukan pendidikan itu sendiri. Konotasinya jelas,karena mengajar hanya salah satu cara mendidik maka pendidikan pun dapat berlangsung tanpa pengajaran. Anggapan ini muncul karena adanya asumsi tradisional yang menyatakan bahwa mengajar itu merupakan kegiatan seorang guru hanya menumbuhkembangkan ranah cipta murid-muridnya,.[14]
Guru adalah orang yang paling penting statusnya di dalam kegiatan belajar mengajar karena guru memegang tugas yang amat penting,yaitu mengatur dan mengemudikan bahtera kelas. Bagaimana situasi kelas berlangsung merupakan hasil kerja guru. Suasana kelas dapat “hidup” siswa belajar tekun tanpa merasa terkekang. Atau sebaliknya,suasana kelas “suram”siswa belajar kurang bersemangat dan diliputi rasa takut,itu semua sebagai akibat dari hasil pemikiran dan upaya guru.[15]
Dalam mengajar, guru harus pandai menggunnakan pendekatan secara arif dan bijaksana,bukan sembarang yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran. Guru merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran. Bagaimana pun idealnya suatu kurikulum tanpa ditunjang oleh kemampuan guru untuk mengimplementasikannya,maka kurikulum itu sebagai suatu alat pendidikan.[16]
Guru yang memandang anak didik sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik yang lainnya akan berbeda dengan guru yang memandang anak didik sebagai makhluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal. Maka adalah penting meluruskan pandangan yang keliru dalam menilai anak didik. Sebaiknya guru memandang anak didik sebagai sebagai individu dengan segala perbedaan,sehingga mudah  melakukan pendekatan dalam pengajaran.
Ada beberapa pendekatan yang dilakukan oleh guru untuk membantu memecahkan masalah dalam proses belajar mengajar.
a.       Pendekatan individual
Perbedaan individual anak didik tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual ini. Dengan kata lain,guru harus melakukan pendekatan individual dalam strategi belajar mengajarnya. Bila tidak,maka strategi belajar tuntas yang menuntut penguasaan penuh kepada anak didik tidak pernah menjadi kenyataan.
b.      Pendekata Kelompok
Dengan pendekatan kelompok diharapkan dapat ditumbuhkembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap anak didik. Mereka dibina untuk mengendali kan rasa egois yang ada dalam diri mereka masing- masing,sehingga terbina sikap kesetiakawanan sosial di kelas.
c.       Pendekatan Bervariasi
Dalam mengajar,guru yang hanya menggunakan satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam waktu yang relatif lama. Bila terjadi perubahan kelas,sulit menormalkannya kembali.
Dalam kegiatan belajar mengajar,  guru bisa saja membagi anak didik ke dalam  beberapa kelompok belajar. Tetapi dalam hal ini,terkadang diperlukan juga pendapat dan kemauanan anak didik. Baagaimana keinginan mereka masing-masing. Boleh jadi dalam satu pertemuan ada anak didik yang suka belajar kelompok,tetapi ada juga anak didik yang senang belajar sendiri. Bila hal ini terjadi,maka ada dua kemungkinan yang terjadi yaitu, belajar dalam kelompok dan belajar sendiri,terlepas dari kelompok tetapi masih berada pada pengawasan dan bimbingan guru.
d.      Pendekatan Edukatif
Guru yang hanya mengajar di kelas,belum dapat menjamin terbentuknya kepribadian anak didik yang berakhlak mulia.  Demikian juga halnya guru yang mengambil jarak dengan anak didik. Kerawanan hubungan guru dengan  anak didik disebabkan kemunikasi antara guru dengan anak didik kurang berjalan harmonis. Kerawanan hubungan ini menjadi kendala bagi guru untuk melakukan pendekatan edukatif kepada anak didik yang bermasalah.[17]
Pengajaran efektif bisa dirumuskan sebagai pengajaran yang berhasil mewujudkan pembelajaran oleh para murid sebagaimana dikehendaki oleh guru. Pada hakekatnya ada dua elemen sederhana dalam pengajaran efektif :
1.      Guru harus secara pasti memiliki ide yang jelas terkait pembelajaran yang hendak disampaikan.
2.      Pengalaman belajar dibangun dan diberikan untuk mewujudkan hal tersebut.[18]
Sejumlah studi telah mengeksplorasi pandangan para murid mengenai guru dan pengajaran. Pada umumnya,gambaran yang muncul adalah bahwa murid memandang guru yang baik sebagai seorang yang :
1.      Menciptakan lingkungan belajar yang tertib.
2.      Menerangkan pekerjaan yang harus dilaksanakan dan siap membantu
3.      Bersahabat dan memberikan dorongan.[19]
Selain itu,guru yang baik sering dipotret oleh para murid sebagai guru yang menggunakan beragam metode mengajar dan aktivitas belajar, mempraktekkan beraneka keahlian untuk menjaga minat murid dan menyelesaikan persoalan disiplin dengan siap, dan mengelola pelajaran sedemikian rupa sehingga murid bisa menekuni apa yang dikehendaki oleh guru.
Pada ujung lainnya ada studi-studi yang berusaha membeberkan secara detail berbagai atribut yang menjadi karakteristik pelajaran,dan kemudian menjajaki sejauh mana masing-masing karakteristik ini terkait dengan pengukuran efektivitas ( kriteria yang digunakan bisa berkisar dari  persepsi guru tentang arti pentingnya hingga hasil yang diperoleh murid dalam tes prestasi pendidikan terstandarisasi). Misalnya studi oleh Haydn meneliti pandangan para murid sekolah menengah tentang kualitas pedagogis, guru yang dirasa berpengaruh positif terhadap sikap mereka menuju pembelajaran. Empat kualitas yang berperingkat tinggi adalah :
1.      Benar-benar memahami isi pelajaran
2.      Menerangkan dengan baik
3.      Membuatnya menarik
4.      Bisa dengan baik menghentikan murid yang mengganggu jalannya pelajaran.[20]
Ketika para murid ditanya tentang karakteristik pribadi guru yang mereka rasa berpengaruh positif terhadap sikap mereka menuju pembelajaran,empat kualitas yang paling tinggi nilainya adalah :
1.      Berbicara secara normal
2.      Bersahabat
3.      Antusias terhadap pelajaran
4.      Memiliki rasa humor.[21]

C.    Macam- macam Metode dalam mengajar

Ada empat macam metode mengajar yang dipandang representatif dan dominan dalam arti digunakan secara luas sejak dahulu hingga sekarang pada setiap jenjang pendidikan formal. Tiga dari empat metode mengajar tersebut bersifat khas dan mandiri, sedangkan yang lainnya merupakan kombinasi antara satu metode dengan metode yang lainnya. Metode campuran ini disebut saja metode plus bersifat terbuka, artinya setiap guru yang profesional dan kreatif dapat momodifikasi atau merekayasa campuran metode tersebut sesuai dengan kebutuhan. Merekayasa metode plus bukanlah hal yang dianggap tabu dalam dunia pendidikan modern, asal tidak menyimpang dari prinsip-prinsip psikologi didaktis yang telah diakui keabsahannya dalam dunia pendidikan.
1.      Metode Ceramah
Metode ceramah adalah, penerangan dan penututan secara lisan oleh guru terhadap kelas. Dengan kata lain dapat pula dimaksudkan, bahwa metode ceramah atau lecturing itu adalah suatu cara penyajian atau penyampaian informasi melalui penerangan dan penuturan secara lisan oleh guru terhadap siswanya. Dalam memperjelas penuturan/penyajian,guru dapat menggunakan alat-alat bantu,seperti bendanya,gambarannya,sket,peta dan sebagainya.[22]
Metode ceramah dikenal juga sebagai metode kuliah karena umumnya banyak dipakai diperguruan tinggi.metode ini banyak sekali dipakai, karena ini mudah dilaksanakan. Nabi muhammad dalam memberikan pelajaran terhadap ummatnya banyak mempergunakan metode ceramah.
Namun demikian dari kenyataan sehari hari ditemukan beberapa kelemahan metode ceramah tersebut. Kelemahan kelemahan itu antara lain :
1.      Membuat siswa pasif
2.      Mengandung unsur paksaan kepada siswa
3.      Menghambat daya kritis siswa.[23]
Dalam pengajaran yang meegunakan metode ceramah,perhatian terpusat pada guru,sedangkan para siswa hanya menerima secara pasif, mirip anak balita atau anak bayi yang sedang di suapi. Dalam hal ini timbul kesan bahwa siswa hanya sebagai objek yang selalu menganggap benar apa-apa yang disampaikan guru. Padahal posisi siswa selain dari pada penerima pelajaran ia juga menjadi subjek pengajaran dalam arti individu yang berhak untuk aktif untuk mencari dan memperoleh sendiri pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.[24]
Untuk mengurangi kelemahan-kelemahan tadi, metode ceramah perlu didukung dengan alat-alat pengajaran seperti:gambar,lembar peraga,video,tape recorder,dan sebagainya.
Menurut Prof. H. Mahmud Yunus dalam bukunya”Sejarah Pendidikan Islam”,sebagai berikut :
Cara Nabi menyiarkan agama Islam ialah dengan jalan berpidato dan bertablig di tempat-tempat yang ramai dikunjungi orang seperti dipasar Ukaz terutama musim haji. Ketika itu banyak dari suku-suku arab datang berkunjung ke kota Mekkah. Begitu pula nabi menyiarkan Agama Islam membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi petunjuk dan pengajaran kepada umum.[25]
2.      Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu kegiatan kelompok untuk memecahkan suatu masalah dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu,atau untuk merampungkan keputusan bersama.[26]
Teknik  diskusi merupakan teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Di dalam diskusi ini proses belajar mengajar terjadi, dimana interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman,informasi, memecahkan masalah,dapat terjadi juga semuanya aktif,tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja. Metode diskusi ada kebaikan dan kekurangannya,antara lain :
a.       Kebaikan Metode Diskusi
1.      Merangsang kreativitas anak dalam bentuk ide
2.      Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain.
3.      Memperluas wawasan
4.      Membina untuk terbiasa bermusyawah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah.
b.      Kekurangan Metode Diskusi
1.      Pembicaraan terkadang menyimpang,sehingga memerlukan waktu yang panjang.
2.      Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar
3.      Peserta mendapat informasi yang terbatas
4.      Mungkin dikuasai oleh oraang-orang yang suka berbicara atau ingin menonjolkan diri.[27]
Mengingat adanya kelemahan-kelemahan di atas maka guru yang berkehendak menggunakan metode diskusi sebaiknya terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatunya dengan rapi dan sistematis. Kecuali itu guru juga dianjurkan untuk terus menerus memantau dan mendorong seluruh siswa partisipan untuk menyumbangkan buah pikirannya secara bebas. Dalam hal ini peran seorang guru sebagai pendorong dan pemberi semangat terutama peserta didik yang tergolong kurang pintar atau pendiam.
3.      Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses,situasi atau benda tertentu, baik yang sebernarnya atau sekedar tiruan. Sebagai metode penyajian demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru.[28]
Berikut ini ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam menggunakan metode domnstrasi, Antara lain :
a.       Kelebihan metode demontrasi
1.      Melalui metode demonstrasi terjadi verbalisme akan dapat dihindari, seban siswa disuruh langsung memerhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
2.      Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
3.      Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kexataan. Dengan demikian siswa akan meyakini kebenaran materi pembelajaran.
b.      Kelemahan metode demonstrasi
1.      Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demostrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi, bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukan suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu, hingga dapat memakan waktu yang banyak.
2.      Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah.
3.      Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru di tuntut untuk bekerja lebih profesional. Disamping itu demonstrasi juga memerlukan kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa.[29]
4.      Metode Ceramah Plus
Meskipun metode ceramah sering dianggap biang keladi yang menimbulkan penyakit “verbalisme” dan budaya “bungkam” di kalangan pelajar, namun kenyataannya metode tersebut masih populer dimana-mana. Hanya, sebelum metode itu itu digunakan guru tentu perlu melakukan modifikasi atau penyesuaian seperlunya. Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam memodifikasi atau menyesuaikan metode ceramah, antara lain adalah dengan kiat pemaduan (kombinasi) antara metode tersebut dengan metode-metode lainnya. Dari kiat pemaduan ini kita dapat memunculkan ragam metode ceramah baru yang berbeda dari aslinya, atau sebut saja “metode ceramah plus”.
Metode ceramah plus tersebut dapat terdiri atas banyak metode campuran. Namun dalam kesempatan ini hanya tiga macam metode ceramah plus yang akan menyusun sajikan.
       5.  Metode Ceramah Plus Tanya Jawab dan tugas (CPTT)
Seperti yang telah disinggung dalam uraian-uraian sebelumnya, metode ceramah ternyata baru akan membuahkan hasil pembelajaran yang memuaskan apabila didukung oleh metode lain di samping alat-alat peraga yang sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu, perlu adanya gagasan penganekaragaman metode ceramah plus, antara lain seperti metode “ceramah plus tanya jawab dan tugas” (CPTT) ini.
Dipandang dari sudut namanya saja metode tersebut jelas merupakan kombinasi antara metode ceramah, metode tanya jawab dan pemberian tugas. Implementasi (cara melaksanakan) metode campuran ini idealnya dilakukan secara tertib, yakni:
1)      Penyampaian uraian materi oleh guru;
2)      Pemberian peluang bertanya jawab antara guru dan siswa;
3)      Pemberian tugas kepada para siswa.[30]
    6.      Metode Ceramah Plus Diskusi dan tugas (CPDT)
Berbeda dengan aplikasi metode ceramah plusyang pertama, metode CPDT ini hanya dapat dilakukan secara tertib sesuai dengan urutan pengkombinasiannya. Maksudnya pertama tama guru menguraikan materi pelajaran, kemudian mengadakan diskusi, dan akhirnya memberi tugas.
Penyelenggaraan uraian/ceramah dalam konteks metode ceramah plus ini dimaksudkan untuk memberikan informasi atau penjelasan mengenai pokok bahasan dan topik atau agenda masalah yang akan didiskusikan. Jadi, pada tahap ini guru menjalankan fungsinya sebagai indikator (pemberi masalah yang harus dibicarakan dalam forum diskusi). Sudah tentu, alokasi waktu ceramah hjarus di atur sedemikian rupa agar kegiatan diskusi memeroleh waktu yang cukup. Pengaturan alokasi waktu ini sangat penting untuk perhatian guru, karena akan mempengaruhi jalannya diskusi yang akan dilaksanakan siswa yang mungkin akan tergesa-gesa, kalau waktunya kurang memadai.
    7.       Metode Ceramah plus Demonstrasi dan pelatihan (CPDP)
Dilihat dari sudut namanya, metode ceramah plus ke tiga ini merupakan kombinasi antara kegiatan menguraikan materi pelajaran dengan kegiatan memeragakan dan latihan (drill). Metode CPDP ini sangat berguna bagi PMB bidang studi atau materi pelajaran yang berorientasi pada keterampilan jasmaniah (kecakapan ranah karsa) siswa. Walaupun demikian, sebelum para siswa mempelajari/melatih kecakapan ranah karsa, terlebih dahulu mereka perlu mempelajari/melatih kecakapan ranah cipta mereka berupa pemahaman mengenai konsep, proses, dan kiat melakukan keterampilan ranah karsa tersebut.
Oleh karena itu, aplikasi metode Ceramah Plus Diskusi dan Pelatihan ini, lebih kurang sama dengan aplikasi metode CPDT, yaitu harus dilakukan secara tertib sesuai dengan urutannya. Namun jika diperlukan, guru dapat memberi ceramah singkat berupa penjelasan tambahan sesuai pelatihan.
Tujuan utama dalam metode ceramah plus ini adalah untuk menjelaskan konsep-konsep keterampilan jasmaniah yang terdapat dalam materi-materi pelajaran keterampilan tertentu, seperti: seni tari, seni suara, dan olahraga. Selain itu, ceramah dalam konteks metode ceramah plus CPDP ini dapat pula digunakan untuk menjelaskan keterampulan praktis yang ada dalam pelajaran agama (Islam), umpamanya keterampilan berwudhu dan shalat.

D.    Dampak yang ditimbulkan dengan model dan meode mengajar

Untuk melakukan perubahan dalam proses pendidikan, maka dibutuhkan model dan metode yang sesuai dengan tingkat kemampuan anak didik. Hal ini penting sebab ada pengaruh model dan metode pembelajaran terhadap prestasi belajar anak didik. Pengaruh model dan metode pembelajaran terhadap prestasi belajar dapat dilihat secara berkesinambungan sebab pendidikan adalah proses.
Tidak heran jika di dalam proses pendidikan dan pembelajaran, model dan metode harus dikuasai oleh guru. Semakin menguasai model dan metode mengajar, semakin jelas pengaruh pembelajaran terhadap prestasi belajar anak didik. Tetapi kita harus pula memperhatikan kondisi anak didik.
Guru harus mampu untuk memilih dan memilah model dan metode yang sesuai dengan kondisi anak didiknya. Pengaruh model dan metode pembelajaran terhadap prestasi belajar siswa menunjukkan keberhasilan guru dalam proses pembelajaran.
Model dan metode yang tepat akan menyebabkan anak didik merasa nyaman dan berkonsentrasi pada saat proses belajar. Mereka merasa ada kesinergisan antara proses di luar dan di dalam dirinya. Hal ini menyebabkan anak didik lebih konsen mengikuti proses pendidikan dan pembelajaran.[31]

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Model Pembelajaran dalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk Kurikulum ( rencana pembelajaran jangka panjang),merancang bahan-bahan pelajaran,dan membimbing pelajaran di kelas atau yang lain.
      Model dan metode mengajar merupakan suatu alat atau strategi yang harus dimiliki oleh guru dalam proses belajar mengajar. Sehingga tujuan yang hendak diinginkan oleh guru akan tercapai dengan baik.
Tipe belajar peserta didik perlu diketahui oleh pendidik, melalui observasi agar pendidik dapat menyesuaikan metode apa yang akan diterapkan pada saat mengajar, sehingga peserta didik merasa nyaman dalam pembelajaran. Metode-metode mengajar yang dianggap  penting oleh penulis untuk diterapkan oleh  guru dalam pembelajaran dalah :
1.      Metode Ceramah
2.      Metode diskusi
3.      Metode Demonstrasi
4.      Metode Ceramah Plus
Diantara metode-metode penulis sebutkan dalam makalah ini,masing banyak lagi macam-macam metode yang penulis belum  tulis..
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi,Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta:Bumi Aksara,2009
 Drajat Zakiyah,Metodik khusus pengajaran agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang,1985

Ekosusilo Madyo,Dasar-dasar Pendidikan,Semarang:Effhar Offset,1998
Getteng.Rahman Abd,Menuju Guru Profesional dan Beretika Yogyakarta:Graha Guru,2009

Kyriacou Chris, Efective Teaching, Bandung:Nusa Media,2009
Langgulung Hasa n,Pendidikan dan Peradaban Islam, Jakarta : Pustaka Al-Husna,1985

Latief Ruslan,Cara Belajar siswa Aktif, Fakultas Tarbiyah IAIN Iman Bonjol;Padang,1985

Sabri Ahmad,Strategi Belajar Mengajar, Ciputat: Ciputat Press,2007
 Roestiyah,Strategi Belajar Mengajar,Jakarta: PT.Rineka Cipta,1998
Ramayulis, Metodologi Pendidikan agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia
Rusman, Model-model Pembelajaran,Jakarta:Grafindo Persada,2011

Syah Muhibbin,Psikilogi Pendidikan, Bandung:Remaja Rosdakarya,2009
Sanjaya Wina,Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana Penada Media Grup,2008
Yunus Mahmud,Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Mutiara,2001
Zain, Aswan Strategi belajar mengajar, Jakarta:PT. Rineka Cipta,2006




[1] Ahmad Sabri,Strategi Belajar Mengajar,(Cet. II:Ciputat: Ciputat Press,2007), h. 65
[2] Roestiyah,Strategi Belajar Mengajar,(Cet.V:Jakarta: PT.Rineka Cipta,1998), h. 1
[3]  Ibid, h. 14
[4]  Rusman, Model-model Pembelajaran,( Cet, IV;Jakarta:Grafindo Persada,20011), h. 132
[5] Muhibbin Syah,Psikilogi Pendidikan,(Cet,14;Bandung:Remaja Rosdakarya,2009), h. 198
[6] Hasan langgulung,Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta : Pustaka Al-Husna,1985), h. 79
[7] Wina Sanjaya,Strategi Pembelajaran,( Cet, IV ; Jakarta: Kencana Penada Media Grup,2008), h. 127
[8] Ibid, h. 128
[9] Ahmad Sabri, Strategi belajar Mengajar,(Cet,II; Ciputat: PT. Ciputat Press,2007), h. 50
[10] Ramayulis, Metodologi Pendidikan agama Islam,( Cet,IV; Jakarta: Kalam Mulia), h. 151-152
[11] Madyo Ekosusilo,Dasar-dasar Pendidikan,(Semarang:Effhar Offset,1998), h.51
[12] Ramayulis, Op. Cit, h. 5
[13] Roestiyah, Ibid, h. 34
[14]  Muhibbin Syah,Op.Cit, h. 177
[15] Suharsimi Arikunto,Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan,(Cet,9;Jakarta:Bumi Aksara,2009), h. 293
[16] Abd.Rahman Getteng,Menuju Guru Profesional dan Beretika,(Cet,II;Yogyakarta:Graha Guru,2009), h. 8
[17] Aswan Zain, Strategi belajar mengajar,(Cet, III;Jakarta:PT. Rineka Cipta,2006),  h.54-58
[18] Chris Kyriacou, Efective Teaching,(Cet,I;Bandung:Nusa Media,2009), h. 15
[19]  Ibid, h. 23
[20]  Muhibbin Syah, Op. Cit, h. 192
[21] Ibid,h. 174-175
[22] Ruslan Latief,Cara Belajar siswa Aktif,( Fakultas Tarbiyah IAIN Iman Bonjol;Padang,1985),h. 16
[23] Zakiyah Drajat,Metodik khusus pengajaran agama Islam,(Cet,II;Jakarta: Bulan Bintang,1985), h. 201
[24] Muhibbin Syah, Op. Cip. h. 205
[25] Mahmud Yunus,Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Mutiara,2001),h. 7
[26]  Ahmah Sabri, Op. Cit, h. 54
[27]  Ibid, h. 55
[28]  Wina Sanjaya, Op. Cit, h. 152
[29]  Wina Sanjaya,Op. Cit, h. 152-153
[30] Muhibbin Syah, Op. Cit, h. 208
[31]  Rusman, Op. Cit, h. 281

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MODEL DAN METODE MENGAJAR"

Post a Comment