Home » » SUMBER-SUMBER BELAJAR PAI

SUMBER-SUMBER BELAJAR PAI

BAB I
PENDAHULUAN

     A.    Latar Belakang

Sumber belajar sebagai salah satu komponen atau unsure pembelajaran (learning) memegang peranan penting dalam rangka terselenggaranya kegitan pembelajaran yang menarik dan bermakna bagi anak. Sumber belajar tersebut menjadi sangat penting karena tersedianya beragam sumber belajar yang memungkinkan dibutuhkannya budaya belajar anak secara mandiri sebagai dasar untuk pembiasaan dalam kehidupan dikemudian hari, serta mencioptakan komunikasi antara anak dengan orang dewasa dan teman sebayanya.


Peranan sumber belajar seringkali dilupakan. Padahal sumber belajar dapat diperoleh dimana-mana termasuk disekitar anak. Sumber belajar yang ada disekitar anak tidak selalu perlu pengawasan dari guru memberi keterangan sumber-sumber belajar tersebut. Kecuali jika sumber belajar terletak di perpustakaan diperlukan bimbingan terdahulu dari guru.Karena hal itu membutuhkan pembiasaan.
Selain sumber belajar yang ada dilingkungan sekitar anak, media cetak dan narasumber pun dapat dijadikan alternatif sumber belajar.Khusus narasumber,mereka dapat menceritakan berbagai pengalaman yang menarik sehingga dapat memperkaya wawasan anak. Bagaimana halnya dengan sumber belajar pada Pendidikan Agama Islam? Selanjutnya akan dibahas lebih jauh pada makalah ini.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang merupakan kalimat kunci dari isi makalah ini yaitu sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud sumber belajar PAI?
2.      Bagaimana klasifikasi sumber belajar PAI?
3.      Bagaimana  peranan sumber belajar PAI?
4.      Bagaimana pengembangan sumber belajar PAI?



C.    Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini, disamping untuk menggugurkan tugas dari dosen mata kuliah Perencanaan Pendidikan Islam sebagai tujuan formal. Penyusunan makalah ini tentunya juga bertujuan nonformal yaitu:
1.      Mengetahui pengertian sumber belajar PAI
2.      Mengetahui macam-macam sumber belar PAI
3.      Mengetahui peranan sumber belajar PAI
4.      Mengetahi pengembangan sumber belajar PAI

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Sumber Belajar PAI
Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.
Edgar Dale (1969) seorang ahli pendidikan mengemukakan sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar seseorang. Pendapat lain dikemukakan oleh Association Educational Comunication and Tehnology AECT (1977) bahwa sumber belajar merupakan berbagai atau semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun terkombinasi  sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.
Sementara itu, pengertian pendidikan agama Islam Menurut Ahmad Tafsir, adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar memahami ajaran Islam, terampil melakukan atau mempraktekkan ajaran Islam, dan mengamalkan ajaran Islam.
Sedangkan definisi pendidikan agama Islam disebutkan dalam kurikulum 2004 standar kompetensi mata pelajaran agama Islam  adalah upaya sadar dan terencana dalam mempersiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami menghayati, mengimani, bertaqwa, berakhlaq mulia , mengamalkan ajaran Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Hadits,melalui kegiatan bimbingan.

3
Da 
Buku adalah hasil budi manusia untuk mengasetkan dan meneruskan kebudayaan umat manusia, khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian buku dapat berfungsi sebagai sumber-sumber belajar bagi manusia. Mutu buku itu bergantung pada penulisnya. Penerbit dan percetakan mempunyai peran yang besar dalam masalah pembukuan ini. Agar buku itu terpelihara dan tahan lama sehingga dapat digunakan dimana saja diperlukan, didirikan oranglah perpustakaan pribadi maupun perpustakaan sekolah/madrasah atau umum.
c.       Media Massa
Media Massa (Mass Media) singkatan dari Media Komunikasi Massa (Mass Communication Media), yaitu sarana, channel, atau media untuk berkomunikasi kepada publik.
Mass media dapat dijadikan sumber belajar bagi anak maupun orang-orang yang memerlukannya. Di zaman modern ini telah merupakan kebutuhan hampir setap orang terhadap mass media Pengaruhnya besar dan sering sensitif. Jangkauannya luas sampai ke desa- desa. Gerakannya cepat seolah – olah dunia ini semakin mengecil. Karena kemajuan teknologi di bidang telekomunikasi.
Mass media merupakan sumber informasi dan mengetengahkan hal – hal yang aktual dan serba baru dari berbagai penjuru dunia serta digunakan untuk berbagai kepentingan, sehingga penggunaannya perlu selektif. Penggunaan mass media sebagai sumber belajar untuk bidang pengajaran agama memerlukan pengolahan, karena umumnya pengkomunikasian melalui mass media untuk kehidupan keagamaan masih relatif sedikit. Wujud dari mass media berbentuk, surat kabar, majalah, radio, tv, tape recorder, vidio tape dll.
d.      Alam lingkungan
Alam lingkungan dapat berfungsi sebagai sumber belajar bagi anak didik. kita dapat membedakan tiga alam lingkungan sebagai sumber belajar yaitu:
1.      Alam lingkungan terbuka.
yang dimaksud dengan alam lingkungan terbuka, ialah alam itu sendiri tanpa kehadiran ”manusia”, dimana anak dapat mengenal dan menikmati alam sehingga ia dapat melihat, merasakan dan menikmati keagungan tuhan. Anak dapat menemukan sesuatu yang baru dari kehidupan makhluk tuhan untuk bersyukur kepada-Nya.
2.      Alam lingkungan sejarah/ Peninggalan sejarah.
Baik berupa tempat-tempat bersejarah maupun peninggalan-peninggalannya yang telah disusun seperti museum. Dari alam lingkungan sejarah ini dapat memperoleh iktibar atau pengajaran sehingga ia memperole nilai-nilai baru bagi dirinya.
3.      Alam lingkungan manusia.
Alam lingkungan manusia, disini dimaksudkan dengan masyarakat, dari mulai yang terkecil (keluarga) hingga lingkungan pendidikan. Pengaruh maayarakat terhadap anak sangat besar. Terutama pengaruh lingkungan keluarga. Pengaruh yang beraneka ragam karena keanekaragaman mayarakat tidak selalu menguntungkan anak. Dengan demikian penggunaannya sebagai sumber belaja harus selektif
e.       Media pengajaran
Dimaksud media pengajaran ialah segala alat bantu siswa, termasuk laboratorium. Segala macam bentuk alat peragaan dan alat-alat yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar, selain berfungsi sebagai alat bantu juga dapat berfungsi sebagai sumber belajar bagi siswa. Pada umumnya semakin maju suatu sekolah atau madrasah semakin banyak memiliki alat pelajaran dan semakin tersedia pula berbagai tempat/ruang fasilitas belajar. Sekolah yang memiliki kelengkapan dan fasilitas yang baik merupakan sumber belajar yang baik pula bagi siswa.
C.    Peranan Sumber Belajar PAI
Peranan sumber belajar PAI dalam proses pembelajaran mempunyai peran yang sangat erat dengan pembelajaran yang dilakukan, adapun peranan tersebut dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.      Peranan sumber belajar dalam pembelajaran Individual.
Pola komunikasi dalam belajar individual sangat dipengaruhi oleh peranan sumber belajar yang dimanfaatkan dalam proses belajar. Titik berat pembelajaran individual adalah pada peserta didik, sedang guru mempunyai peranan sebagai penunjang atau fasilitator. Sehingga peranan sumber belajar sangat penting, pola komunikasi dalam pembelajaran individual adalah sebagai berikut:
a.       Front line teaching method, dalam pendekatan ini guru berperan menunjukkan sumber belajar yang perlu dipelajari.
b.      Keller Plan, yaitu pendekatan yang menggunakan teknik personalized system of instruksional (PSI) yang ditunjang dengan berbagai sumber berbentuk audio visual yang didesain khusus untuk belajar individual.
c.       Metode proyek, peranan guru cenderung sebagai penasehat dibanding pendidik, sehingga peserta didiklah yang bertanggung jawab dalam memilih, merancang dan melaksanakan berbagai kegiatan belajar.

2.      Peranan Sumber Belajar dalam Belajar Klasikal
Pola komunikasi dalam belajar klasikal yang dipergunakan adalah komunikasi langsung antara guru dengan peserta didik. Hasil belajar sangat tergantung oleh kualitas guru, karena guru merupakan sumber belajar utama.
Pemanfaatan sumber belajar selain guru, sangat selektif dan sangat ketat di bawah petunjuk dan kontrol guru. Di samping itu guru sering memaksakan penggunaan sumber belajar yang kurang relevan dengan ciri-ciri peserta didik dan tujuan belajar, hal ini terjadi karena sumber belajar yang tersedia terbatas. Peranan Sumber Belajar secara keseluruhan seperti terlihat dalam pola komunikasinya selain guru rendah. Keterbatasan penggunaan sumber belajar terjadi karena metode pembelajaran yang utama hanyalah metode ceramah. Menurut Percipal and Ellington (1984), bahwa perhatian yang penuh dalam belajar dengan metode ceramah (attention spannya) makin lama makin menurun drastis. Misalnya dalam 50 menit belajar, maka pada awal belajar attention spannya berkisar antara 12-15 menit, kemudian makin mendekati akhir pelajaran turun menjadi 3-5 menit.
Di samping itu British Audio Visual Association (1985), menyatukam bahwa 75 % pengetahuan diperoleh melalui indera penglihatan, 13 % indera pendengaran, 6 % indera sentuhan dan rabaan dan 6 % indera penciuman dan lidah. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh perusahaan Sovocom Company di Amerika dalam Sadiman (1989: 155-156), tentang kemampuan manusia dalam menyimpan pesan adalah : verbal (tulisan) 20%, Audio saja 10%, visual saja 20%, Audio visual 50%. Tetapi kalau proses belajar hanya menggunakan metode (a) Membaca saja, maka pengetahuan yang mengendap hanya 10% (b) Mendengarkan saja pengetahuan yang mengendap hanya 20%. (c) Melihat saja pengetahuan yang mengendap bisa 50%. Dan (e) Mengungkapkan sendiri pengetahuan yang mengendap bisa 80%. (f) Mengungkapkan sendiri dan mengulang pada kesempatan lain 90%. Dari penjelasan tersebut di atas, bahwa guru harus pandai memilih dan mengkombinasikan metode pembelajaran dengan belajar yang ada.
3.      Peranan Sumber Belajar dalam Belajar Kelompok
Pola komunikasi dalam belajar kelompok, menurut Derek Rowntere dalam bukunya Educational Technologi in Curriculum Development (1982), menyajikan  pola komunikasi yang secara umum ditetapkan dalam belajar yaitu pola:
a.       Buzz (diskusi singkat) adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik untuk didiskusikan sessions singkat sambil jalan. Sumber belajar yang digunakan adalah materi yang digunakan sebelumnya.
b.      Controllet discussion (diskusi dibawah kontrol guru), sumber belajarnya antara lain adalah bab dari suatu buku, materi dari program audio visual, atau masalah dalam praktek laboratorium
c.       Tutorial adalah belajar dengan guru pembimbing, sumber belajarnya adalah masalah yang ditemui dalam belajar, harian, bentuknya dapat bab dari buku, topik masalah dan tujuan instruksional tertentu.
4.      Team project (tim proyek) adalah suatu pendekatan kerjasama antar anggota kelompok dengan cara mengenai suatu proyek oleh tim.
5.      Simulasi (persentasi untuk menggambarkan keadaan yang sesungguhnya).

D.    Pengembangan Sumber Belajar PAI
Pengembangan sumber belajar Pendidikan Agama Islam dapat dilakukan diantaranya sebagai berikut:
1.       Pembelajaran melalui Karya Wisata / Study Tour
Karyawisata adalah meluaskan wawasan siswa & guru sendiri, membawa siswa keluar sekolah/ keluar kampus ke tempat-tempat yang dapat menambah Ilmu siswa & guru sendiri. Secara berencana 2x atau lebih dalam 1 tahun, misalnya guru bidang studi tertentu dapat membawa siswa ke museum, perpustakaan nasional, ke pabrik-pabrik tertentu yang berkaitan dengan kurikulum, museum ABRI, TMII, ke PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air), PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Udara), PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas), obyek-obyek wisata tertentu seperti ; ke kebun raya, Kebun binatang, kebun bunga, kebun the, pabrik tekstil, ke sekolah-sekolah favorit, ke masjid-masjid yang mengandung sejarh.
Pergi ke tempat-tempat tersebut memerlukan persiapan matang seperti kendaraan (bus), biaya, hari dan tanggal, guru pembimbing dari pemberitahuan sekolah, kepala orang tua siswa, sebelum berangkat ke tempat tujuan kepada siswa diberikan Informasi mengenai tujuan yang hendak dicapai, tugas-tugas siswa selama ditempat wisata, dengan demikian study tour bukan untuk tamasya saja, observasi, wawancara dengan orangtua tertentu ditempat tujuan tentang sesuatu yang telah diarahkan guru. Setelah pulang dari studi tour diadakan laporan perkelompok yang telah ditugaskan guru dan diskusi kelas sehingga siswa memperoleh manfaat dari studi tour ini.
2.       Pembelajaran melalui hukum belajar Edward L.Thorndike
“The Law of Learning” melalui Pertama‘ The Law of Readness’ yaitu mempersiapkan siswa dengan pokok bahasan, buku murid, alat-alat pelajaran. Kedua ‘ The Law of Effect’ yaitu guru memberikan nilai-nilai Ilmu yang bermanfaat bagi siswa. Dan Ketiga ‘The Law of Exercise’ yaitu banyak memberikan tugas-tugas dan latihan, sehingga siswa terbiasa mengerjakan PR atau tugas pribadi dan tugas bersama.
3.       Pembelajaran melalui belajar dan banyak mendengar dan melihat
Semakin sering anak didik mengulang maka akan semakin terekam dalam pikirannya. Dibarengi dengan banyak menyaksikan dan mendengar maka pola pikirnya akan semakin terstruktur.
Sementara itu, pengembangan sumber Pendidikan Agama Islam dari sudut pandang isi pembelajaran diuraikan sebagai berikut:
a.       Model Dikotomis
Pada model ini, aspek kehidupan dipandangan sangat sederhana, dan kata kuncinya adalah dikotomi atau diskrit. Segala sesuatu hanya dilihat dari dua sisi yang berlawanan. Pandangan dikotomis tersebut pada gilirannya dikembangkan dalam memandang aspek kehidupan dunia dan akhirat, kehidupan jasmani dan rohani, sehingga pendidikan agama Islam hanya diletakkan pada aspek kehidupan akhirat saja atau kehidupan rohani saja. Dengan demikian, pendidikan agama dihadapkan dengan pendidikan non agama, pendidikan keislaman dengan nonkeislaman, demikian seterusnya.
Pandangan semacam itu akan berimplikasi pada pengembangan pendidikan agama Islam yang hanya berkisar pada aspek kehidupan ukhrowi yang terpisah dengan kehidupan duniawi, atau aspek kehidupan rohani yang terpisah dari kehidupan jasmani. Pendi dikan (agama) Islam hanya mengurusi persoalan ritual dan spiritual, sementara kehidupan ekonomi, politik, seni-budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan sebagainya dianggap sebagai urusan duniawi yang menjadi garapan bidang pendidikan non agama.
Pandangan dikotomis inilah yang menimbulkan dualism dalam sistem pendidikan, yaitu istilah pendidikan agama dan non agama. Sikap dikotomi (Dualisme) ini terkait erat dengan world view umat Islam dalam memandang dan menempatkan dua sisi ilmu, yaitu ‘ilm al-dînîyah dan ‘ilm ghair al-dînîyah.
Demikian pula pendekatan yang dipergunakan lebih bersifat keagamaan yang normatif, doktriner dan absolutis. Peserta didik diarahkan untuk menjadi pelaku (actor) yang loyal, memiliki sikap commitment (keberpihakan), dan dedikasi (pengabdian) yang tinggi terhadap agama yang dipelajari. Sementara itu, kajian-kajian keilmuan yang bersifat empiris, rasional, analitis-kritis, dianggap dapat menggoyahkan iman, sehingga perlu ditindih oleh pendekatan yang normatif dan doktriner tersebut. Pola dikotomi yang demikian, telah menimbulkan sejumlah efek negatif.
Abdurrahman Mas’ud dalam salah satu penelitiannya sebagaimana dikutip Ma’arif menunjukkan bahwa cara pandang yang dikotomik tersebut akhirnya telah membawa kemunduran dalam dunia pendidikan Islam. Di antaranya adalah menurunnya tradisi belajar yang benar di kalangan muslim, layunya intelek tualisme Islam, melanggengkan supremasi ilmu-ilmu agama yang berjalan secara monotomik, kemiskinan penelitian empiris serta menjauhkan disiplin filsafat dari pendidikan Islam.
b.      Model Mekanisme
Model mekanisme memandang kehidupan terdiri atas berbagai aspek, dan pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai kehidupan, yang masing-masing bergerak dan berjalan menurut fungsinya, bagaikan sebuah mesin yang terdiri atas beberapa komponen atau elemen-elemen, yang masing-masing menjalankan fungsinya sendiri-sendiri, dan antara satu dengan lainnya bisa berkonsultasi atau tidak.
Aspek-aspek atau nilai-nilai kehidupan itu sendiri terdiri atas nilai agama, nilai individu, nilai sosial, nilai politik, nilai ekonomi, nilai rasional, nilai estetik, nilai biofisik, dan lain-lain. Demikian juga dalam proses pendidikan dibutuhkan sistem nilai agar dalam pelaksanaannya berjalan dengan arah yang pasti, karena berpedoman pada garis kebijaksanaan yang ditimbulkan oleh nilai-nilai fundamental, misalnya nilai agama, ilmiah, sosial, ekonomi, kualitas kecerdasan dan sebagainya.
Oleh karena itu, jika kita membahas nilai-nilai pendidikan, akan jelas melalui rumusan dan uraian tentang tujuan pendidikan, sebab di dalam rumusan tujuan pendidikan itu tersimpul dari semua nilai pendidikan yang hendak diwujudkan di dalam pribadi peserta didik. Demikian pula, jika berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, berarti berbicara nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung makna bahwa tujuan pendidikan Islam adalah tujuan yang merealisasi idealitas Islami. Sedang idealitas Islami itu sendiri pada hakikatnya adalah mengandung nilai perilaku manusia yang didasari atau dijiwai oleh iman dan taqwa kepada Allah sebagai sumber kekuasaan mutlak yang harus ditaati. Dengan demikian, aspek atau nilai agama merupakan salah satu aspek atau nilai kehidupan dari aspek-aspek kehidupan lainnya. Hubungan antara nilai agama dengan nilai-nilai lainnya kadang-kadang bersifat horizontal-lateral (independent) atau bersifat lateral-sekuensial, tetapi tidak sampai pada vertikal linier.[1]
Relasi yang bersifat horizontal-lateral (independent), mengandung arti bahwa beberapa mata pelajaran yang ada dan pendidikan agama mempunyai hubungan sederajat yang independen, dan tidak saling berkonsultasi. Relasi yang bersifat lateral-sekuensial, berarti di antara masing-masing mata pelajaran tersebut mempunyai relasi sederajat yang bisa saling berkonsultasi. Sedangkan relasi vertikal linier berarti mendudukkan pendidikan agama sebagai sumber nilai atau sumber konsultasi, sementara seperangkat mata pelajaran yang lain termasuk pengembangan nilai insani yang mempunyai relasi vertikal linier dengan agama.
Dalam konteks tersebut, selama ini di sekolah-sekolah masih ada proses sekularisasi ilmu, yakni pemisahan antara ilmu agama dan pengetahuan umum. Nilai-nilai keimanan dan ketakwaan seolah-olah hanya merupakan bagian dari mata pelajaran pendidikan agama, sementara mata pelajaran yang lain mengajarkan ilmunya seolah-olah tidak ada hubungannya dengan masalah nilai keimanan dan ketakwaan. Dampak berupa gejala kegersangan batin dan kejiwaan modern adalah konsekuensi dari hal itu. Bahkan pendidikan di dunia muslim pun berurat berakar mengadopsi konsep sekuler yang dikotomis dan tidak utuh.[2] Model tersebut tampak dikembangkan pada sekolah yang di dalamnya diberikan seperangkat mata pelajaran atau ilmu pengetahuan, yang salah satunya adalah mata pelajaran pendidikan agama yang hanya diberikan 2 atau 3 jam pelajaran per minggu, dan didudukkan sebagai mata pelajaran, yakni sebagai upaya pembentukan kepribadian yang religius. Kebijakan ini sangat prospektif dalam membangun watak, moral dan peradaban bangsa yang bermartabat. Namun demikian, dalam realitasnya pendidikan agama Islam sering termarginalkan, bahkan guru PAI di sekolah pun kadang-kadang terhambat karirnya untuk menggapai jabatan fungsional tertinggi, karena tidak tersedia program studi sebagai induknya.[3]
Kebijakan tentang pembinaan pendidikan agama Islam secara terpadu di sekolah umum misalnya, antara lain menghendaki agar pendidikan agama dan sekaligus para guru agamanya mampu memadukan antara mata pelajaran agama dengan pelajaran umum.Kebijakan ini akan sulit diimplementasikan pada sekolah yang cukup puas hanya mengembanhkan pola relasi horizontal-lateral (independent). Barangkali kebijakan tersebut relatif mudah diimplementasikan pada lembaga pendidikan yang mengembangkan pola lateral-sekuensial. Hanya saja implikasi dari kebijakan tersebut adalah para guru agama harus menguasai ilmu agama dan memahami substansi ilmu-ilmu umum, sebaliknya guru umum dituntut untuk menguasai ilmu umum (bidang keahliannya) dan memahami ajaran dan nilai-nilai agama. Bahkan guru agama dituntut untuk mampu menyusun buku-buku teks keagamaan yang dapat menjelaskan hubungan antara keduanya.
c.       Model Organism/Sistemik
Organism dapat berarti susunan yang bersistem dari berbagai bagian jasad hidup untuk suatu tujuan. Dalam konteks pendidikan Islam, model organism bertolak dari pandangan bahwa aktivitas kependidikan merupakan suatu system yang terdiri atas komponen-komponen yang hidup bersama dan bekerja sama secara terpadu menuju tujuan tertentu, yaitu terwujudnya hidup yang religius atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai agama.[4]
Pandangan tersebut menggaris bawahi pentingnya kerangka pemikiran yang dibangun dari fundamental doctrines dan fundamental values yang tertuang dan terkandung dalam al-Qur’an dan al-Sunnah al-Shahîhah sebagai sumber pokok. Ajaran dan nilai-nilai ilahi didudukkan sebagai sumber konsultasi yang bijak, sementara aspek kehidupan lainnya didudukkan sebagai nilai-nilai insane yang mempunyai hubungan vertikal-linier dengan nilai ilahi/agama.[5]
Nilai Ilahi dalam aspek teologi tak pernah mengalami perubahan, sedangkan aspek amaliahnya mungkin mengalami perubahan sesuai dengan tututan zaman dan lingkungan. Sebaliknya nilai insani selamanya mengalami perkembangan dan perubahan menuju ke arah yang lebih maju dan lebih tinggi. Tugas pendidikan adalah memadukan nilai- nilai baru dengan nilai-nilai lama secara selektif, inovatif, dan akomodatif guna mendinamisasikan perkembangan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman dan keadaan, tanpa meninggalkan nilai fundamental yang menjadi tolok ukur bagi nilai-nilai baru. Melalui upaya semacam itu, maka sistem pendidikan Islam diharapkan dapat mengintegrasikan nilai-nilai ilmu pengetahuan, nilai-nilai agama dan etik, serta mampu melahirkan manusia-manusia yang menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, memiliki kematangan profesional, dan sekaligus hidup di dalam nilai-nilai agama.
Paradigma tersebut tampaknya mulai dirintis dan dikembangkan dalam sistem pendidikan di madrasah, yang dideklarasikan sebagai sekolah umum yang berciri khas agama Islam, atau sekolah-sekolah (swasta) Islam unggulan. Kebijakan pengembangan madrasah berusaha mengakomodasikan tiga kepentingan utama, yaitu: pertama, sebagai wahana untuk membina roh atau praktik hidup keislaman; kedua, memperjelas dan memperkokoh keberadaan madrasah sederajat dengan sistem sekolah, sebagai pembinaan warga negara yang cerdas berpengetahuan, berkepribadian, serta produktif; dan ketiga, mampu merespon tuntutan-tuntutan masa depan dalam arti sanggup melahirkan manusia yang memiliki kesiapan memasuki era globalisasi, industrialisasi maupun era informasi.[6]
Maka dari itu, model organisme/sistemik dapat diimplementasikan dalam pengembangan pendidikan agama Islam di sekolah, mengingat kegiatan pendidikan agama yang berlangsung selama ini lebih banyak bersikap menyendiri, kurang berinteraksi dengan kegiatan-kegiatan pendidikan lainnya. Cara kerja semacam ini kurang efektif untuk keperluan penanaman suatu perangkat nilai yang kompleks. Selain itu, metodologi pendidikan agama kurang mendorong penjiwaan terhadap nilai-nilai kegamaan serta terbatasnya bahan-bahan bacaan keagamaan. Buku-buku paket pendidikan agama saat ini belum memadai untuk membangun kesadaran beragama, memberikan keterampilan fungsional keagamaan dan mendorong perilaku bermoral dan berakhlak mulia pada peserta didik.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Setelah membaca makalah ini secara seksama, maka dapatlah disumpulkan bahwa bahwa sumber belajar pendidikan agama Islam  adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik untuk mengenal, memahami menghayati, mengimani, bertaqwa, berakhlaq mulia , mengamalkan ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber belajar yang utama.
Terdapat dua sumber Pendidikan Agama Islam yaitu sumber utama atau pokok yang terdiri dari Al-Qur’an dan Al-Hadits dan yang kedua adalah sumber tambahan yang terdiri atas manusia, buku, lungkungan, media massa, media pengajaran dan tentunya sumber tambahan lain yang tidak tertulis dalam makalah ini.
Peranan sumber belajar PAI dapat diuraikan menjadi peranan dalambentuk individual, dalam bentuk klasikal dan juga dalam bentuk kelompok.
Sementara itu, pengembangan sumber belajar Pendidikan Agama Islam dapat dilakukan pada dua aspek, yaitu pengembangan dari segi teknisi pelaksanaan misalnya study tour, menanamkan nilai-nilai pribadi siswa misalnya tanggungjwab, disiplin, mandiri dll., pemberian tugas dan sebagainya. Serta pengembangan dari sumber belajar PAI dari segi konten pembelajaran yang meliputi 3 model, yaitu: model dikotomis, model mekanisme dan model organism atau sistemik.
B.     Saran
Setelah mempelajari makalah ini, maka tentunya sebagai seorang pendidik, diharapkan mampu memanfaatkan segala sumber-sumber belajar yang tersedia demi tercapainya tujuan pendidikan Agama Islam yang diharapkan. Tidak hanya sampai di situ, pengembangan sumber-sumber pendidikan Agama Islam adalah mutlak dilakukan agar pemahaman pendidikan Agama Islam berjalan secara dinamis dan menyeluruh.

16


Daftar Pustaka
Abdurrahmansyah,2005, Wacana Pendidikan Islam, Khasanah, Filosofi dan Implementasi Kurikulum Metodologi dan Tantangan Pendidikan Moralitas.Yogyakarta: Global PustakaUtama

Agus,Bustanuddin.1999, Pengembanga. Ilmu-ilmu Sosial Studi Banding antara Pandangan Ilmiah dan Ajaran Islam.Jakarta: Gema Insani

Aziz,Abdul.PengertiandanTujuanPendidikanAgamaIslam,http://islamblogku.blogspot.com/2009/07. Diakses 05 Januari 2014

Departemen Agama RI, 2002,  Mushaf Al-Qur’an dan Terjemah. Depok:Al-Huda

Haryanto. Pengertian Media Pembelajaran, http://belajarpsikologi.com/pengertian-media-pembelajaran/. Diakses 05 Januari 2014

Karwono.Seminar Sumber Belajar,http://karwono.wordpress.com/2007/11/09/seminar-sumber-belajar/, Diakses 05 Januari 2014

Maarif, Syamsul.2007, Revitalisasi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Graha Ilmu

Muhaimin.2004, Paradigma Pendidikan Agama Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya

Muhaimin.2009, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Muhaimin Dkk.1993, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya. Bandung: Trigenda Karya

Mutahhari, Murtadha. 1984, Perspektif al-Qur’an tentang Manusia dan Agama. Bandung: Mizan

Nata,Abuddin.2011, Prespektif Islam tentang Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Romli,ASM.PengertianMediaMassa,http://www.komunikasiuinbandung.info/2013/05/pengertian-media-massa.html. Diakses 05 Januari 2014

Rohani HM, Ahmad.  Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Tafsir, Ahmad.2004,   Metode Khusus Pengajaran Agama Islam.Bandung: Raja Wali Press

Zuhairini. 1992, Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara




[1] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009), hlm.36
[2] Abdurrahmansyah, Wacana Pendidikan Islam, Khasanah, Filosofi dan Implementasi Kurikulum Metodologi dan Tantangan Pendidikan Moralitas (Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2005), hlm. 145.
[3] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum, Op.Cit. hlm. 37
[4] Muhaimin,Rekonstruksi Pendidikan Islam, Op.Cit. hlm. 67.
[5] Ibid.
[6] Zuhairini, et.al. Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hlm.56.

Terimakasih telah membca artikel berjudul SUMBER-SUMBER BELAJAR PAI

SL Blogger
Kumpulan Makalah Updated at: 11/27/2016

0 komentar SUMBER-SUMBER BELAJAR PAI

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak