Home » » Aliran-Aliran Filsafat Modern

Aliran-Aliran Filsafat Modern

Aliran-Aliran Filsafat Modern

A. Aliran Filsafat Rasionalisme

Rasionalisme berasal dari kata ratio  yang berarti akal dan isme berarti paham.[3] Rasionalisme adalah suatu aliran yang menyatakan bahwa yang memperkembangkan dan mengesahkan pengetahuan manusia. Aliran Rasional ini hanya mengandalkan daya dan kekuatan akal pikiran untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Hamka Hak, Rasionalisme adalah aliran yang menitik-beratkan kemampuan rasio atau akal budi dalam segala macam pengetahuan. Pengetahuan kita berasal dari akal budi. Konsep yang merupakan pusat pemikiran filsafat seperti ketuhanan, jiwa, substansi dan sebagainya tidak dapat disaring dari pengalaman inderawi, melainkan bersumber pada akal budi dan merupakan pembawaan yang telah berakar dalam batin manusia sejak manusia itu lahir.[4]

Berikut disebutkan beberapa tokoh yang mempolopori aliran filsafat Rasionalisme yaitu:
1.Rene Descartes
Berkebangsaan Prancis yang lahir pada tahun 1595 dan meninggal pada tahun 650. Descartes  mempunyai keinginan yang besar untuk mendasarkan keyakinannya pada sebuah landasan yang mempunyai kepastian yang mutlak. Untuk mencapai tujuan tersebut, dia melakukan pengujian yang mendalam terhadap segenap apa yang diketahuinya. Dia menghargai intuisi yang dianggap muncul  dari akal jernih dan bukan muncul dari khayalan.
Jadi menurut aliran Rasionalisme, sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah akal (rasio) dan akal tidak memerlukan pengalaman inderawi.[5]
2. Bruch Spinosa
seorang Yahudi kelahiran Amsterdam  (Belanda) yang mahir berbahasa Ibrani dan ahli Taurat. Dia adalah seorang filosof Yahudi yang lahir pada tahun 1632M dan meninggal pada tahun 1677M
3. Gottfielt Wilhelm Leibni 
Lahir di Jerman pada tahun 1649M dan meninggal pada tahun1716M

B. Aliran Filsafat Empirisme

Filsafat Empirisme Locke dan Barklay ini dikembangkan secara berkesinambungan oleh seorang tokoh filsafat barat yang bernama David Hume. Ia menulis sebuah buku problematika berjudul “an Inquire Concerning Human Understanding” dan “A Treatise of Human Nature”[6] Menurut David, manusia tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. Sumber pengetahuan adalah pengematan. Pengematan dapat memberikan dua hal, yaitu kesan-kesan (impression) dan pengertian-pengertian atau ide-ide (ideas). Ia menyimpulkan bahwa kesan-kesan adalah pengamatan langsung yang diterima dari pengalaman, baik lahiriah maupun bathiniah.

David Hume menegaskan bahwa pengalaman lebih memberi keyakinan dibanding kesimpulan logika atau kemestian sebab akibat. Hukum sebab akibat tidak lain hanya hubungan  yang saling berurutan saja dan secara spontan terjadi, seperti: api, membuat air mendidih. Padahal dalam api tidak dapat diamati adanya “daya aktif” yang mendidihkan air. Jadi “daya aktif” yang disebut hukum (kausalitas) itu bukanlah hal yang dapat diamati, bukan hal yang dapat dilihat dengan mata sebagai berada dalam “air” yang direbus.[7] Dengan demikian kausalitas tidak dapat digunakan untuk menetapkan peristiwa yang akan datang berdasarkan peristiwa-peristiwa terdahulu.

C. Aliran Kritisisme

Kritisisme diserap dari term critique[8] yang diartikan kupasan atau tinjauan bukan berasal dari term criticism yang diartikan kecaman dan juga diartikan kupasan. Kritik yang dimaksud oleh Kant di sini adalah pembahasan Kritis.[9] Kritik, berasal dari bahasa Latin, criticus, kemelut, bersifat menentukan, kritik, penilaian; bahasa Yunani, kritike, pemisahan; krinoo, mempertimbangkan, memutuskan, menyatakan pendapat. Dalam arti umum, penggunaan atau keterlibatan dalam penilaian atau pertimbangan yang berhati-hati; penilaian atau tinjauan yang dilakukan dengan cermat dan hati-hati.[10]

Kritisisme adalah sebuah kesimpulan perjalanan panjang pengembaraan Immanuel Kant yang diawali dengan ketertarikan dia kepada Rasionalisme, namun pada perkembangan pencariannya dalam ilmu pengetahuan, Kant kemudian mendalami teori empirisme  yang dikembangkan oleh David Dume (1711-1776). Dua aliran pemikiran yang bertentangan secara ekstrim. Rasionalisme mengira telah menemukan kunci bagi pembukaan realitas pada diri subyeknya, lepas dari pengalaman. Adapun empirisme mengira telah memperoleh pengetahuan dari pengalamannya saja.[11]

Kritisisme berusaha mempertemukan dua arus pemikiran tersebut dengan  memberi ruang yang sama dalam membangun kerangka ilmu pengetahuan. Kant mempertemukan keduanya dan mewarnai keduanya dengan keyakinan agama yang dianut oleh Kant. Salah satu indikasinya adalah ajaran moral yang diyakini aliran ini. Menurut Kritisisme, suatu tindakan itu baik bukan karena tindakan tersebut menghasilkan hasil yang baik atau menguntungkan, atau karena tindakan itu bijak. Tindakan dilakukan karena merupakan kepatutan kepada perintah kalbu, hokum moral yang baku yang bukan datang dari pengalaman inderawi.

Isi utama dari kritisisme adalah gagasan Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika, dan estetika. Gagasan ini muncul karena adanya pertanyaan-pertanyaan mendasar yang timbul pada pikiran Immanuel Kant. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah; 1. Apa yang dapat saya ketahui?, 2. Apa yang harus saya ketahui?, dan    3. Apa yang boleh saya harapkan.

Ciri-ciri kritisisme dapat disimpulkan pada tiga hal;
1. Menganggap bahwa obyek pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukan pada objek.
2. Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu; rasio hanyalah mampu menjangkau gejalanya atau penomenanya saja;
3. Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu itu diperoleh atas perpaduan antara peranan unsur Anaximenes priori yang berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu dan peranan unsur aposteriori yang berasal dari pengalaman materi.[12]

D. Aliran Filsafat Idealisme

Filsafat Idealisme ini pertama kali muncul di Jerman dan dikembangkan oleh seorang filosof bernama Kant. Setelah Kant wafat, Schelling dan Hegel menyatakan diri sebagai orang-orang yang meneruskan tugas yang diberikan oleh Kant. Akan tetapi tugas itu hanya sebahagian saja yang dipenuhi oleh mereka. Sebab pada mereka tidak terdapat usaha yang teliti menentukan batas-batas pengenalan manusia. Kedua orang tersebut adalah tokoh filsafat transcendental yang menjadikan akal sebagai pusat pembicaraan dalam menangani pengalaman, dalam hal ini mereka tidak  mengulangi saja apa yang diajarkan oleh Kant.

Orang pertama yang berusaha memenuhi tugas yang diberikan Kant adalah J.G. Fichte (1762-1814)[13] yang dilahirkan di Rammenau, Jerman. Dari sebab menganut aliran filsafat Kant inilah  akhirnya ia menjadi sangat terkenal dan menjadi maha guru di Jerman. Filsafatnya disebut Wissenchaftslehri” atau ajaran ilmu pengetahuan.[14] Di dalam ajarannya Fichte menyatakan bahwa fakta dasar dalam alam semesta adalah ego yang bebas atau roh yang bebas. Dunia adalah suatu hasil ciptaan roh yang bebas.

E. Aliran Filsafat Positifisme

Filsafat aliran ini pertama kali muncul pada abad ke-19 dan diambil dari kata fositif yang artinya factual aliran ini menganggap segala uraian dan persoalan yang di luar sebagai fakta atau kenyataan dikesampingkan.oleh karena itu metafisika ditolak.[15] Filsafat ini diantarkan oleh August Comte (1798-1857) yang dilahirkan di Montpellier pada tahun 1798 dari keluarga pegawai negeri beragama Katolik.

Menurut Comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap atau tiga zaman yaitu:
1.Tahap zaman teologis, orang mengarahkan rohnya pada hakekat “batiniah “ segala sesuatu, kepada “sebab pertama” dan “tujuan terakhir”
2.Tahap zaman metafisika, sebenarnya hanya mewujudkan pada suatu perubahan saja. Sebab kekuatan-kekuatan adikodrati atau dewa-dewa hanya diganti dengan kekuatan-kekuatan yang abstrak
3.Tahap zaman positif adalah ketkika orang tahu bahwa tiada gunanya untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan yang mutlak, baik pengenalan teologis maupun pengenalan metafisis. Ia tidak mau lagi melacak, tetapi menemukan hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta yang telah dikenal atau yang disajikan kepadanya yaitu dengan pengamatan atau dengan menggunakan akalnya.

F. Aliran Filsafat Materialisme

Aliran Materialisme dapat ditelusuri dari ajaran Demokritus tentang atom. Pada zaman Yunanii Kuno, demokritus beranggapan bahwa ala mini terdiri dari atom-atom yang jumlahnya tidak terbatas. Ajaran demokritus ini kemudian dikembangkan  oleh Ludwig Feuerbach dan Karl Max pada abad ke-19.

Pada masa Feuerbach muncul persoalan, mengapa manusia harus melepaskan hakikat dan sifat mulianya sendiri demi suatu realitas tertinggi? Ia menjawab karena kesadaran yang amat kuat akan kelemahan dan ketidak berartian, maka manusia tidak berani menerapkan kebijaksanaan, kemauan, keadilah dan cinta yang ada dalam hatinya untuk dirinya sendiri.[16]

G.  Aliran Filsafat Pragmatisme

Aliran Pragmatisme ini besar dan berkembang di Amerika Serikat. Diperkenalkan oleh seorang yang berkebangsaan Amerika bernama William James (1842-1910). Aliran ini mendapat tempatnya tersendiri di dalam pemikiran filsafat.

Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa sesuatu itu dikatakan benar apa bila ia dapat membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantara akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi diterima asal bermanfaat, bahkan kebenaran mistis dipandang sebagai akibat praktis yang bermanfaat.

H.  Aliran Filsafat Hidup

Pada awal abad ke-19 dan awal abad ke- 20, ilmu pengetahuan dan teknologi  berkembang berkembang dengan cepat yang mengakibatkan perkembangan industrialisasi yang juga cepat. Hal ini menjadikan segala pemikiran orang diarahkan pada hal-hal yang bendawi saja. Akal manusia dipergunakan untuk meneliti segala sesuatu kemudian dianalisa, dibongkar dan ditafsirkan, serta disusun kembali. Juga ilmu pengetahuan sampai kepada penelitian terhadap jiwa manusia. Baik jagat raya (alam semesta) maupun manusia dipandang sebagai mesin yang terdiri dari banyak bagian yang masing-masing menempati tempatnya sendiri-sendiri, serta bekerja menurut hukum yang telah ditentukan bagi masing-masing  bagian itu. Demikian juga halnya dengan manusia, roh bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, ia disebabkan oleh akibat proses-proses bendawi yang berjalan karena keharusan, seperti ginjal harus mengeluarkan air kencing, jantung harus memompa darah, otak harus mengeluarkan buah pikiran, dan sebagainya.[17]

I. Aliran Filsafat Fenomenologi

Ini adalah suatu aliran yang bersama-sama dengan filsafat hidup menyebabkan orang meninggalkan pemikiran abad ke-19. “Fenomenologi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu : Fenomenon yang diartikan sesuatu yang tampak, yang terlihat karena bercahaya, dalam bahasa Indonesia disebut gejala.

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar,Amsal, Filsafat Agama, Jakarta: Logos, 1999
Echols, Echol, M. dan Hasan Sadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: Gramedia, 1996, cet. XXII.
Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Jakarta: Kanisius, 1980
Haq, Hamka,  Dialog Pemikiran Islam, Ujung Pandang, Yayasan Ahkam, 1995
Komaruddin, Kamus Istilah KaryaTulis  Ilmiyah, Jakarta; Bumi Aksara, 2000
Mantra, Bagus, Ida, Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial,Yohyakarta: Pustaka Pelajar, 2004
Praja, Juhaya S., Aliran-aliran Filsafat & Etika, Jakarta; Kencana 2005, cet. 2
Tafsir, Ahmad,  Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006, cet. II.
[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Pengetahuan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006) cet. II, h. 67
[2] . Ibid
[3] . Jhon M. Echols dan Hasan Sadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1996), cet. XXII, h. 76
[4] . Hamka Haq, Dialog Pemikiran Islam, (Ujung Pandang, Yayasan Ahkam, 1995), h.76
[5] . Ida Bagus Mantra, Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial,  (Yohyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 16.
[6] . Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (Jakarta: Logos, 1999), h. 108
[7] . Ibid
[8] . John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta; PT. Gramedia, 1995), Cet.21 h. 156
[9] . Ahmad Tafsir, Filsafat Umum , (Bandung; Remaja Rosdakarya , Cet. 7) h. 153
[10] . Komaruddin, Kamus Istilah KaryaTulis  Ilmiyah, (Jakarta; Bumi Aksara, 2000), cet. 1 h. 125
[11] . Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat & Etika, (Jakarta; Kencana 2005), cet. 2 h. 116
[12] . Ibid
[13] . Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Jakarta: Kanisius, 1980), h. 87
[14] . Ibid,  h. 89
[15] . Ibid, h. 109
[16] . Amsal Bachtiar, op. cit.,  h. 120-121
[17] . Harun Hadiwijono, Op, Cit, h. 135
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Aliran-Aliran Filsafat Modern

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 9/25/2017

0 komentar Aliran-Aliran Filsafat Modern

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak