Home » » AYAT-AYAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH

AYAT-AYAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH

AYAT-AYAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH

A. Pengertian Ayat Makkiyah dan Madaniyah

Para Ulama Alquran biasanya mengandalkan ukuran tempat dalam membedakan antara Makkiyah dan Madaniyah. Tempat komunikasi atau wahyu selalu tergantung dengan tempat penerima pertama wahyu. Maka sebahagian ulama berpendapat bahwa ayat Makkiyah adalah ayat yang turun di Makkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah dan Hudaibiyah. Sedangkan  ayat Madaniyah adalah ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud, Quba dll.
Dari perspektif masa turun Makkiyah adalah ayat yang turun sebelum hijrah sekalipun turunnya di luar Makkah, sedangkan Madaniyah adalah ayat yang turun sesudah hijrah sekalipun turunya di Makkah.[4]
Menurut az-Zarkasyi dalam bukunya Adnan Mahmud mendefinisikan Makkiyah adalah ayat atau surah yang khitabnya atau sasaran pembicaraanya ditujukan kepada penduduk Makkah, dan Madaniyah adalah ayat atau surah yang sasaran pembicaraanya ditujukan kepada penduduk Madinah.
Dari beberapa pengertian di atas penulis memahami pengertian yang mendasar Makkiyah adalah ayat yang turun sebelum hijrah ke Madinah sedangkan  Madaniyah adalah ayat yang turun sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah.
           Untuk mengetahui dan menentukan Makkiyah dan Madaniyah para ulama bersandar pada dua cara utama: simāi naqli (pendengaran apa adanya) dan qiyāsi ijtihadi (kias hasil ijtihad) cara pertama didasarkan pada riwayat sahih para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu. Atau dari para tabi’in yang menerima dan mendengar dari para sahabat dimana dan pristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu. Sebagian besar penentuan Makkiyah dan Madaniyah itu didasarkan pada cara pertama.
       Sedangkan cara qiyasi ijtihadi didasarkan pada cirri-ciri Makkiyah dan Madaniyah. Apabila dalam surah Makkiyah terdapat ayat yang mengandung sifat Madaniyah atau mengandung pristiwa Madani, maka dikatakan bahwa ayat itu madani, dan apabila dalam surah Madani terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Makki dan mengandung pristiwa Makki maka ayat tersebut dikatakan ayat Makkiyah.[5]

B. Ciri-ciri ayat Makkiyah dan Madaniyah

Ayat-ayat yang turun di Mekkah sebelum hijrah (Makkiyah) dan yang turun di Madinah sesudah hijrah (Madaniyah) mempunyai konteks yang berbeda. Masyarakat Makkah adalah masyarakat yang menolak Risalah Nabi Muhammd saw, sedangkan masyarakat Madinah ialah masyarakat yang menerima ajaran beliau karena itu kedua kelompok ayat tersebut mempunyai perbedaan dan ciri-ciri khususnya.
Ayat-ayat Makkiyah dalam surah Madaniyah. Dengan menamakan sebuah surah itu Makkiyah dan Madaniyah tidak berarti bahwa seluruhnya Makkiyah dan Madaniyah sebab di dalam surah Makkiyah terkadang terdapat ayat-ayat Madaniyah dan di dalam surah Madaniyah pun terkadang terdapat ayat-ayat Makkiyah. Dengan demikian penamaan surah itu Makkiyah dan Madaniyah adalah berdasarkan  sebagian besar  ayat-ayat yang terkandung di dalamya.
Ayat yang diturunkan di Madinah sedang hukumnya Makkiyah mereka memberi contoh dengan surah al-Mumtahanah. surah ini diturunkan di Madinah dilihat dari segi tempat turunnya, tetapi seruannya ditujukan kepada orang musyrik Makkah.
Ayat yang serupa dengan yang diturunkan di Makkah dalam Madani. maksudnya adalah ayat dalam surah Madaniyah tetapi mempunyai gaya bahasa dan ciri-ciri umum surah Makkiyah seperti dalam surah al-Anfal (8): 32. Begitu pula sebaliknya yang diturunkan di Madinah dalam Makkiyah ayat-ayat dalam surah Makkiyah tetapi mempunyai gaya bahasa Madaniyah seperti dalam surah an-Najm (53):32.[6]

Ciri-ciri ayat dan surah Makkiyah sebagai berikut :

a.  Ayat-ayat Makkiyah itu pendek-pendek dan dinamai ayat qhisar, buktinya juz 30 memuat 36 surah yang pada umumnya surah-surah Makkiyah.[7]
b.  Dimulai dengan yā ayyuha an-Nās
c.  Ayat-ayat Makkkiyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti.[8]
d.  Setiap surat mengandung lafal Kallā, lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Alquran dan disebutkan 33 kali dalam 15 surat.[9]
e.   Setiap surat di dalamnya mengandung ayat-ayat sajadah’
f.   Setiap surat diawali dengan huruf-huruf singkat seperti Alif  Lāam mîim, Alif  Lāam rā, hāmîm dll. Kecuali pada surah al-Baqarah dan  surah Ali-Imran.
g.  Setiap surah di dalamya kisah Adam dan Iblis keculai surah al-Baqarah.[10]
h.  Setiap surat yang di dalamnya mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu kecuali pada surat al-Baqarah.
i.    Kata-katanya demikian lembut, jernih dan mudah dilagukan sesuai dengan huruf-hurufnya yang dapat diucapkan lirih dan dapat pula dengan suara keras.
j.    Bunyi akhiran ayat-ayat demikian harmonis dan berimbang kadang mendatar, kadang menggelombang, kadang melemah terpatah-patah dan kadang-kadang juga menggelegak, mengalun dan menggemuru.[11]
Sedangkan dari segi ciri tema dan gaya bahasa dapatlah diringkas sebagai berikut:
a.   Ajakan kepada tauhid dan anjuran beribadah hanya kepada Allah swt, pembuktian tentang risalah kenabian, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat, neraka dan siksaanya, surga dan kenikmatnnya, argumentasi terhadap orang-orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniyah.[12]
b.  Meletakkan dasar-dasar dan ketentuan umum perundangan-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat, dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim, penguburan hidup-hidup bagi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
c.   Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka dan dapat dijadikan sebagai hiburan buat nabi Muhammad saw, untuk tabah dan sabar dalam menghadapi gangguan  dari musuh-musuhnya.
d.  Suku katanya pendek-pendek disertai kata-kata yang mengesankan sekali, pernyataanya singkat, di telinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah, seperti surah-surah yang pendek.
e.   Bukti-bukti kebenaran dan dalil-dalil yang dipergunakan lebih mengutamakan kebenaran agama
f.   Banyak bercerita tentang orang munafik dan problem-problema yang disebabkan karena mereka.

Ciri-ciri ayat dan  surat Madaniyah

a.   Ayat-ayat Madaniyah panjang-panjang dan dinamai ayat thiwal .
b. Kebanyakan firman Allah dalam surah madaniyah dimulai dengan perkataan yā ayyuha lazina āmanū.
c. Lebih banyak mengutarakn tentang sanksi-sanksi, hukum, warisan, hak dan aturan politik, sosial dan negara.[13]
d. Setiap surah di dalamnya disebutkan orang-orang munafik  kecuali pada surah al-Ankabut.
e. Setiap surah di dalamya terdapat dialog dengan ahlul kitab. Dari segi ciri khas tema dan gaya bahasa dapatlah diringkaskan sebagai berikut.

a. Menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun di waktu perang, kaidah hukum dan masalah perundang-undangan.
b.  Seruan  terhadap ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Dan ajakan kepada mereka masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadp kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki diantara sesama mereka.
c.   Memyingkap prilaku orang munafik, menganalisis kejiwaanya, dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
d. Suku katanya dan ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantafkan syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.[14]
Tidak diragukan lagi bahwa ukuran perbandingan diantara ciri-ciri umum surah Makkiyah dan Madaniyah banyak membantu untuk mengetahui lebih jauh tema tersebut. Ciri-ciri spesifik yang dimiliki Madaniyah baik dilihat dari perspektif analogy ataupun tematis, memperlihatkan langkah-langkah yang ditempuh Islam dalam mensyariatkan peraturan-peraturannya, yaitu dengan cara periodic hirarkis. sejarah telah membuktikan adanya system sosio kultural berbedah Makkah dan Madinah. Makkah dihuni komunitas yang keras kepala aksinya yang selalu menghalangi dakwah nabi dan para sahabatnya. Sedangkan di Madinah setelah nabi hijrah ke sana terdapat tiga komunitas, komunitas muslim yang terdiri kelompok muhajirin dan anshar, komunitas munafik dan komunitas Yahudi. Alquran menyadari benar perbedaan sosio kultural antara kedua tempat itu. Oleh karena itu alur pembicaraan ayat yang diturunkan bagi penghuni Makkah sangat berbeda dengan alur yang diturunkan bagi penduduk Madinah.
Jika sebuah surah sesuai dengan ciri-ciri umum surah Makkiyah dalam gaya bahasa, tingkat keringkasan surah, kesesuain nama, dan bercerita tentang kaum musyrik, maka surah tersebut digolongkan ke dalam surah Makkiyah karena sesuai ciri-ciri umum surah Makkiyah. Jika ukuran perbandingan dari sejarah itu tidak dapat memberikan suatu keputusan yang menenangkan dan meyakinkan, apakah ia termasuk surah makkiyah ataukah madaniyah maka diperbolehkan bersandarkan pada ciri-ciri di atas. Contoh adalah ayat-ayat Alquran yang bercerita tentang peperangan dan aturan kenegaraan. jika melihat ciri-ciri dari tema yang ada pada surah itu kita akan mengategorikannya ke dalam surah madaniyah karena sama-sama kita ketahui bahwa suasana dakwah pada periode pertama berlangsung sebelum Rasulullah saw melakukan hijrah tidak berisikan tentang syarat-syarat yang berkenaan dengan aturan perundang-undangan kenegaraan.
Oleh karena itu menunjukkan bahwa kelompok surah Makkiyah dan Madaniyah terpengaruh oleh lingkungan Muhammad saw hidup dan tinggal, yaitu bahwa masyarakat Makkah yang ketika itu adalah masyarkat yang ummi (buta huruf) membuat Rasulullah tidak mampu pemaparan berupa penjelasan tentang ajaran Islam dan rinciannya secara detail. Akan tetapi hanya pada masyarakat yang berperadaban yang telah maju sajalah, yang terdapat di kota Yastrib (Madinah) yang menyebabkan nabi mampu memberikan penjelasan ajarannya secara terperinci.    
Dalam hal ini dapat kita simpulkan bahwa maksud dari pencirian dan pengkhususan kelompok surah Makkiyah sebagai kelompok surah yang pendek dan ringkas dikarenakan mayoritas surah Makkiyah adalah surah yang pendek-pendek tapi bukan berarti surah Makkiyah secara keseluruhan. Begitupula sebaliknya kelompok surah  Madaniyah adalah panjang-panjang akan tetapi pernyataan di atas bukan berarti menunjukkan keterputusan hubungan antara kedua kelompok surah tersebut dalam Alquran. untuk membuktikan hal tersebut dapat kita lihat bahwa beberapa surah yang panjang masuk dalam kelompok surah Makkiyah seperti QS al-An‘am (6):151-152. dari dua pristiwa tersebut maka dapat dipahami ada katerkaitan dan kesesuain dalam surah Makkiyah dan Madaniyah. Seolah-olah kedua kelompok surat itu turun secara bersamaan.

D. Klasifikasi ayat-ayat dan surat-surat Alquran

Jumlah surat di dalam Alquran terdiri dari 14 surat 86 diantaranya  turun di Makkah disebut ayat Makkiyah dan 28 surat turun setelah hijrah ke Madinah disebut ayat Madaniyah.[15]
Agak sulit untuk melacak dan mengidentifikasai secara pasti ayat-ayat Makkiyah dan ayat-ayat Madaniyah karena urutan tertib ayat tidak mengikuti kronologi  waktu turunnya ayat, tetapi berdasarkan petunjuk nabi (tauwqifi). lagi pula mushaf usmani yang menjadi acuan sntandar sejak semula disusun mengikuti petunjuk nabi. Para ahli tafsir tiada sekata dalam menetapkan jumlah surat yang turun di Madinah, bahkan berselisih pula tentang menentukan surat-surat Makkiyah dan Madaniyah.
Surat-surat Makkiyah menurut tertib turunnya. Di bawah ini kami paparkan surat Makkiyah menurut tertib turunnya berdasarkan keterangan sebagian ulama.[16]
Dari beberapa ayat Makkiyah diatas maka penulis memberikan pengecualian ayat-ayat Madaniyah dalam surah Makkiyah misalnya, QS al-An’am (6): 151-153. dan QS al-A’raf (7)163-171.

D. Urgensi Pengetahuan tentang ayat Makkiyah dan Madaniyah

         Perbedaan antara Makkiyah dan Madaniyah dalam teks merupakan perbedaan antar fase. Kedua fase penting yang memiliki andil dalam pembentukan teks, baik kandungan atau isi  maupun strukturnya. Oleh karena itu pengetahuan tentang Makkiyah dan Madaniyah sangat penting dalam upaya memahami ayat Alquran. Diantara urgensi dari mempelajari Makkiyah dan Madaniyah menurut Manna’ al-Qathan adalah sebagai berikut:
1. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan Alquran sebab pengetahuan mengenai tempat turunnya ayat dapat membantu dalam memahami ayat Alquran atau menafsirkannya dengan benar. Sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafaz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang mufassir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh bila diantara kedua ayat terdapat makna  yang kontradiktif, yang datang kemudian tentu merupakan yang nasikh atas yang terdahulu.
2. Meresapi gaya bahasa Alquran dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah swt. Sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan oleh situasi merupakan arti paling khusus dalam ilmu retorika Karakteristik gaya bahasa Makkiyah dan Madaniyah  dalam Alquran memberikan gambaran kepada mereka yang mempelajarinya tentang metode dalam menyampaikan dakwah sesuai dengan psikologi masyarakatnya, menguasai fikiran dan perasaan serta mengatasi apa yang ada dalam dirinya dengan penuh bijaksana. Setiap tahapan dakwah mempunyai topik dan pola penyampaian tersendiri. Pola penyampaian itu berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan dan tata cara, keyakinan dan kondisi lingkungan. Hal yang demikian nampak jelas dalam berbagai cara Alquran menyeru berbagai golongan, orang beriman, musyrik, munafik.[18]

DAFTAR PUSTAKA
Az-Zarqani, Muhammad  ‘Abd al-‘Azhim. Manāhil Al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Quran. Juz I. Beirut: Dār al-kutub al-‘Illiyah. t.t.
Al-Qathan, Manna‘. Mabāhis fi ‘Ulūm al-Quran, diterjemahkan Mudzakir, Studi Ilmu-ilmu Alquran. Cet. IV; Jakarta:  Litera Antar Nusa Pustaka Islamiyah 1998.
Ash-Shiddieqy, T.M.Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran/Tafsir. Cet.VII; Jakarta: 1977.
‘Ali Najah ‘Afaf. Riyadhul al-Qur‘an  al-Karim. Juz I. Kairo: 2002 M/1423 H.
Azami, M.M. The History of the Qur‘anic Text from Revelation to Compilation.Diterjemahkan oleh Solihin dkk dengan judul Sejarah   Teks Alquran  dari Wahyu sampai Kompilasi. Cet.I; Jakarta: Gema Insani, 2005 M/1426 H.
Abu Syahbah, Muhammad ‘Ibn Muhammad. al-Madkhal li Dirāsat al-Quran Karim, Maktbah As-Sunnah, Kairo: 1992.
As-Suyuthi, Jalaluddin Abdurahman. Al-Itqan fi ‘Ulūm al-Quran. Juz I;
Bakry, Nazar. Fiqh dan Ushul Fiqh. Cet.VI; Jakarta: 2003.
Baqir Hakim, Ayatullah Muhammad.‘Ulūm al-Quran. Cet.III; Jakarta: Al-Huda, 2006 M/1427 H
Departemen Agama RI. Alquran. dan Terjemahnya. Jakarta: Yayasan Penyelenggara dan Penterjemah Alquran, 1989.
Fannani, Bahruddin. ‘Ulūm al-Quran. Cet.II; Bandung: Remaja Rosdakarya,1994.
Marzuki, Kamaluddin. ‘Ulūm al-Quran. Cet.II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.
Mahmud, Adnan. ‘Ulûmul al-Quran. Cet. I; Jakarta: Restu Ilahi, 2005.
Shihab, Quraisy dkk. Sejarah dan ‘Ulūm al-Quran. Cet.VI; Jakarta: 2003.


[4] Jalaluddin Abd.Rahaman as-Suyuthi, al-Itqan fi  ‘Ulûm al-Quran, Juz I ( Kairo: Maktabah as-Shaffah, 2006), h. 42.
[5] Mannā‘ Khalil al-Qattān, Mabāhis fi  ‘Ulum al-Quran, diterjemahkan  Mudzakir, Studi Ilmu-Ilmu al-Quran  (Cet. IV;  Jakarta: Litera Antar Nusa Pustaka Islamiyah, 1998), h. 76.
[6]Ibid., h. 76.

[7] T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Quran/Tafsir  (Cet. VII; Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 70.

[8] Departemen Agama RI.  Alquran dan Terjemahnya ( Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Quran, 1989), h. 18.

[9] Muhammad ‘Abd al-‘Azhim az-Zarqani, Manāhil al-‘Irfan fi ‘Ulūm al-Quran, Juz I ( Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah), h. 196.

[10] Muhammad bin Muhammad Abu Syahba, al-Madkhal lidirasat al-Quran al-Karim (Beirut: Maktabah as-Sunnah. t.t.

[11]Subhi as-Shalih, Mabahits fi ‘Ulûm al-Qur’an diterjemahkan Tim Pustaka Firdaus, Membahas Ilmu-Ilmu Alquran  (Cet. IX;  Jakarta: Pustaka Firdaus 2000), h. 269.

[12] Afaf  ‘Ali Najah, Riyadhul al-Quran Karim, Juz I ( Cet. I; Kairo: Hukūku Thabi Mahfudżah, 2002), h. 97.
[13] Muhammad Baqir Hakim, Op.cit. h.105

[14] Mannā‘ Khalil al-Qattān, Op.cit. h. 88.
[15] Nasar Bakry, Fiqh dan Ushul Fiqh ( Cet. IV;  Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), h. 35.
[16]Quraish Shihab, op. .cit. h. 65.
[17] T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Op.cit., h. 69.
[18]Mannā٬ Khalil al-Qattān, Op.cit. h. 82.
Terimakasih telah membca artikel berjudul AYAT-AYAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 12/21/2016

0 komentar AYAT-AYAT MAKKIYAH DAN MADANIYAH

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak