Home » » Alat Material Pendidikan Agama Islam

Alat Material Pendidikan Agama Islam

Alat Material Pendidikan Agama  Islam

A. Pengertian Alat Material Pendidikan Islam

Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses komunikasi. Proses ini harus diciptakan atau diwujudkan melalui kegiatan penyampaian dan tukar menukar pesan atau informasi oleh setiap guru dan peserta didik. Melalui proses komunikasi, dapat diserap dan dihayati orang lain agar tidak terjadi kesesatan dalam proses komunikasi, perlu digunakan alat atau jalan yang membantu proses komunikasi yang disebut alat pendidikan/pengajaran.
Alat pendidikan adalah segala bentuk alat yang dapat digunakan untuk menuntun atau membimbing anak-anak dalam masa pertumbuhannya agar kelak menjadi berkepribandian muslim yang diridhai oleh Allah.
Menurut Brigg, alat material pendidikan adalah “segala alat fisik yang dapat menyajikan peran yang merangsang yang sesuai untuk belajar”.[2] Jadi, alat material pendidikan Islam adalah segala alat fisik yang dapat digunakan untuk menuntun atau membimbing anak-anak dalam masa pertumbuhannya agar kelak menjadi berkepribadian muslim yang diridhai oleh Allah swt.
Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa semua alat yang berbentuk material (fisik) yang dapat membantu atau yang dapat menjadi perantara dalam menyampaikan informasi atau menyajikan pesan, baik berupa perangkat besar, misalnya gedung sekolah, mesjid/mushallah, laboratorium, maupun berupa perangkat kecil, misalnya papan tulis dan white board, termasuk alat material pendidikan Islam.

B. Media Pengajaran Pendidikan Agama Islam

Usaha peningkatan mutu pendidikan tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien tanpa ditunjang dengan tersedianya sarana pendidikan dan media pengajaran yang memadai, sebab tidak sempurnanya sarana pendidikan dan media pengajaran, selain menyulitkan guru dalam melaksanakan tugasnya, juga akan mempengaruhi prestasi kerja guru dan prestasi belajar murid. Makin sempurna sarana pendidikan dan media pengajaran, makin besar kemungkinan terlaksananya proses belajar mengajar dengan lancar.
Sebelum uraian ini sampai pada penggunaan sarana/media dalam proses belajar mengajar, ada baiknya dipahami apa yang dimaksud media itu sebenarnya. Secara umum dipahami bahwa, kata sarana dan media itu pengertiannya sama dengan alat, maka dalam pembahasan selanjutnya, ketiga kata ini digunakan dalam pengertian yang sama. Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium” yang secara harfiah berarti “perantara atau pengajaran”.[3] Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.
Menurut R. Ibrahim dan Nana Syaodih S, media pengajaran diartikan sebagai “segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pedan atau isi pelajaran yang merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar mengajar”.[4]
Pada tahun 50-an, media disebut sebagai alat bantu audio visual (audio visual aids), karena pada masa itu peranan media memang semata-mata untuk membantu guru dalam mengajar, tetapi kemudian namanya lebih populer sebagai media pengajaran atau media belajar.

C. Peranan Media Pengajaran Agama Islam

Secara garis besarnya, peranan atau kedudukan media pengajaran ada dua, yaitu:
1.      Media sebagai alat bantu
Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, karena memang gurulah yang menghendakinya untuk membantu dalam menyampaikan pesan dari bahan pelajaran yang diberikan kepada anak didiknya. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit dan kompleks.
Setiap materi pelajaran, tentu memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi, ada bahan pelajaran yang tidak memerlukan alat bantu, tetapi di lain pihak ada bahan pelajaran yang sangat memerlukan alat bantu, seperti model, globe, grafik, dan gambar. Bahan pelajaran dengan tingkat kesukaran yang tinggi, tentu sukar diperoleh anak didik. Apalagi anak didik yang kurang menyukai bahan pelajaran yang disampaikan itu.[6]
Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran. Dengan demikian, penggunaan media sebagai alat bantu, tidak bisa sembarangan menurut kehendak hati guru, tetapi harus memperhatikan tujuan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran, tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan.
2.      Media sebagai sumber belajar
Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumlah nilai untuk dikonsumsi oleh setiap anak didik. Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi terambil dari berbagai sumber belajar yang sesungguhnya banyak sekali terdapat di sekolah, di taman, di halaman, di pusat kota, dan di pedesaan.
Udin Saifuddin dan Winataputra mengelompokkan sumber belajar menjadi lima katagori, yaitu manusia, perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan.[7] Oleh karena itu, sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat bahan pengajaran, atau asal untuk belajar seseorang.
Media pengajaran sebagai sumber belajar, ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik. Aneka bentuk dan jenis media pendidikan yang digunakan oleh guru sebagai sumber ilmu pengetahuan bagi anak didik dalam menerangkan suatu benda, guru dapat membawa bendanya secara langsung kepada anak didik di kelas. Dengan menghadirkan bendanya, seiring dengan penjelasan mengenai benda itu, maka benda itu dijadikan sebagai sumber belajar.
Sesuai dengan uraian di atas, maka dalam hal-hal tertentu, media pengajaran dapat berperan sebagai guru, tanpa mengurangi efektifitas dan efesiensi belajar siswa yang mempunyai karakteristik tertentu.[8] Dengan demikian, media merupakan sumber belajar yang penting dalam kegiatan belajar mengajar, karena mampu berkomunikasi dengan siswa untuk menyampaikan informasi atau peran yang telah dimilikinya.

D. Kegunaan Media Pengajaran Agama Islam

Media pengajaran, secara umum mempunyai kesamaan sifat, ciri, dan manfaat, antara lain:
1.      Mempunyai daya tarik yang besar dan dapat menimbulkan keinginan dan minat baru. Hal ini terjadi, karena peranan warna, gerak, inovasi, dan suara. Dibuat sedemikian rupa sehingga unik sifatnya.
2.      Dapat mengatasi keterbatasan fisik kelas.
3.      Penggunaan berbagai media dengan kombinasi yang cocok dan memadai, akan meningkatkan efektivitas dan efesiensi proses belajar mengajar, menimbulkan gairah belajar, dan memungkinkan siswa dapat berinteraksi langsung dengan kenyataan yang dimediakan.
4.      Media dapat menyeragamkan penafsiran siswa yang berbeda-beda.
5.      Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, kongkrit dan realistis, sehingga perbedaan persepsi antar siswa pada suatu informasi, dapat diperkecil karena media didesain sesuai dengan kebutuhan belajar siswa.
6.      Media dapat memberikan pengalaman yang menyeluruh dari pengalaman yang kongkrit sampai dengan pengalaman yang abstrak.[9]

E. Prinsip Pemilihan Media Pendidikan Agama Islam

Nana Sudjana mengemukakan tujuh prinsip pemilihan dan pengembangan media, yaitu:
1.      Jenis media pengajaran yang akan digunakan, dapat menunjang tercapainya tujuan pengajaran (TIK);
2.      Kegunaan dari berbagai jenis media itu sendiri;
3.      Kemampuan dan keterampilan guru menggunakan media itu;
4.      Kemampuan atau fleksibilitas dalam penggunaannya;
5.      Kesesuaiannya dengan alokasi waktu dan sarana pendukung yang ada;
6.      Ketersediaannya;
7.      Biaya.[10]


DAFTAR PUSTAKA

H. M, Ahmad Rohani. Media Instruksional Edukatif. Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997.
Ibrahim, R dan Nana Saodih S. Perencanaan Pengajaran. Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1996.
Jamrah, Saiful Bakri dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar. Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1996. 
S, Sudjarwo. Belajar: Aspek Pengembangan Sumber Belajar. Cet. I; Jakarta: PT Mediyatama Sarana Perkasa, 1989.
Uhbiyati, Nur. Ilmu Pendidikan Islam. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1997.


[1]Lihat Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 136.
[2]Ahmad Rohani HM, Media Instruksional Edukatif (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 2.
[3]Saiful Bakri Jamrah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 136.
[4]R. Ibrahim dan Nana Saodih S, Perencanaan Pengajaran (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1996), h. 112.
[5]Lihat Ahmad Rohani HM, op. cit., h. 18.
[6]Lihat Syaiful Bahri Dajamarah dan Aswan Zain, op. cit., h. 137.
[7]Ibid., h. 139.
[8]Lihat Sudjarwo S, Belajar: Aspek Pengembangan Sumber Belajar (Cet. I; Jakarta: PT Mediyatama Sarana Perkasa, 1989), h. 165.
[9]Ibid., h. 168.
[10]Lihat R. Ibrahim dan Nana Saodih S, op. cit., h. 121. 
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Alat Material Pendidikan Agama Islam

loading...
Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 9/23/2017

0 komentar Alat Material Pendidikan Agama Islam

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak