Home » » Pengertian Tartib Al-Qur'an dan Bentuk-bentuknya

Pengertian Tartib Al-Qur'an dan Bentuk-bentuknya

A. Pengertian Tartibal-Qur’an

Tartib al-Qur’an terdiri dari dua kosa kata, yaitu tartib dan al-Qur’an. Tartib dalam bahasa Arab terdiri dari huruf “ر- ت- ب” memiliki makna sesuatu yang tetap (tidak bergerak). Namun secara terminologi, tartib adalah menetapkan sesuatu secara berurutan tanpa bisa diganggu gugat. Sedangkan kata al-Qur’anyang akar katanya terdiri dari hurufق- ر- ى  yang secara etimologi adalah bermakna mengumpulkan atau berkumpul. Oleh karena itu, al-Qur’an diberi nama demikian karena di dalamnya terkumpul hukum-hukum, kisah-kisah dan lain sebagainya. Namun secara terminology, al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan terhadap Nabi Muhammad saw. sebagai bacaan ibadah.

Jadi, tartibal-Qur’an penetapan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara berurutan, baik urutan itu terkait dengan ayat-ayat al-Qur’an maupun surah-surahnya.    

B. Tartibal-Qur’an pada masa Rasulullah saw

Sebagaimana telah disebutkan, al-Qur’ān sampai kepada Rasulullah saw. selama 22 tahun lebih dengan proses penurunan ayatnya sedikit demi sediki, terkadang satu ayat hingga 10 ayat dan terkadang satu surah semisal surah-surah pendek. Selama itu pula, Rasulullah saw. menjaga al-Qur’ān dengan hafalan dan tulisan. Dari peristiwa di atas, dapat dipahami bahwa Rasulullah adalah penghafal al-Qur’ān pertama dan menjadi contoh terbaik dalam menghafal al-Qur’ān.

Di samping itu, pada masa Rasulullah saw. telah dikenal istilah kātib al-Qur’ān (sekretaris al-Qur’ān) yang diangkat langsung oleh Rasulullah saw. Diantara sahabat-sahabat Nabi yang terkenal sebagai kātib antara lain: Ali Ibn Abi Thalib, Mu’awiyah Ibn Abi Sufyan, Ubai Ibn Ka’ab, dan Zaid Ibn Sabit. Penulisan al-Qur’ān pada masa Nabi dilakukan sesuai dengan jumlah ayat yang turun dan ditempatkan pada posisi yang diperintahkan oleh Nabi.

Oleh karena itu, secara hafalan, al-Qur’an sudah tersusun secara berurutan dari awal hingga akhir dengan terkenalnya beberapa penghafal al-Qur’an pada masa itu seperti Ali Ibn Abi Thalib, Mu’az Ibn Jabal, Ubai Ibn Ka’ab, Zaid Ibn Sabit dan Abdullah Ibn Mas’ud sebagaimana dalam hadis Nabi. Dan secara tulisan, al-Qur’an juga telah tersusun ayat-ayatnya meskipun sarana pembukuannya bercerai-berai pada benda-benda yang bisa ditulisi. Perbedaan urutan-urutannya hanya pada surah-surah al-Qur’an.

Mengenai ungkapan Zaid Ibn Sabit “Rasulullah telah wafat, sedang al-Qur’an belum dikumpulkan sama sekali” maksudnya ayat-ayat dan surah-surah al-Qur’an belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

C. Bentuk-bentuk tartibal-Qur’an  dalam mushaf sahabat

Ulama memberikan ragam pendapat seputar penyusunan al-Qur’an. sebagian di antara mereka mengatakan bahwa tartibal-Qur’an semuanya adalah tauqi dan bebas dari intervensi. Di samping itu, Tartibal-Qur’an bisa berarti menulis al-Qur’an secara berurutan, baik berurutan berdasarkan turunnya atau berurutan berdasarkan mushaf dan bisa juga berarti membaca al-Qur’an secara berurutan sesuai dengan yang tertera dalam mus}haf atau berdasarkan hafalan masing-masing.

Berdasarkan penjelasan di atas, tartibal-Qur’an dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu:

1. Tartibal-tadwin (tartibal-Qur’an secara tulisan)
Perbedaan penulisan al-Qur’an di kalangan sahabat Nabi mengantarkan pada perbedaan penyusunan mus}haf pada masa sahabat. Secara garis besarnya, bentuk-bentuk susunan al-Qur’an pada tersebut terbagi dalam dua kelompok, yaitu:
a. Tartibal-nuzul
Yang dimaksud dengan tartibal-nuzu>l adalah penyusunan al-Qur’an dengan mengikuti urutan-urutan ayat atau surah yang turun atau berdasarkan tanggal turunnya al-Qur’an. Penyusunan al-Qur’an secara tartibal-nuzul beragam sesuai dengan pengetahuan masing-masing sahabat. Penyusunan tersebut dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu:
1)  Tartibsecara umum, yaitu mengelompkkan semua surah-surah makkiyah sebelum surah-surah madaniyah tanpa mengurutnya secara berurutan.
2)  Tartibsecara khusus, yaitu mengurut satu persatu surah-surah al-Qur’an mulai dari yang pertama kali turun hingga yang terakhir

b.  Tartibal-mushaf
Sedangkan tartibal-mus}haf adalah penyusunan al-Qur’an berdasarkan urutan-urutan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. penyusunan dengan model ini dapat dibagi dalam dua bagian yaitu:
1)  Tartibmus}haf berdasarkan panjang-pendeknya surah-surah al-Qur’an. Metode ini ditempuh oleh Ubai Ibn Ka’ab dan Abdullah Ibn Mas’ud dalam mushafnya dengan mendahulukan al-Baqarah.  
2)  TartibMushaf Abu Bakar yaitu penulisan al-Qur’an yang mengurut ayat-ayatnya saja tanpa mengurut surah-surahnya.
3) Tartibmus}haf usman yaitu penulisan urutan-urutan surah berdasarkan apa yang tercantum dalam mushaf Usman Ibn ‘Affan yang dikenal dengan rasm al-usman
Meskipun demikian, para sahabat Rasulullah sepakat dalam menulis urutan ayat-ayat al-Qur’an. perbedaan mereka hanya pada penyusunan surah-surahnya. Hal itu terjadi karena Rasulullah mengajarkan letak setiap ayat yang turun kepada para sahabatnya melalui malaikat Jibril. 

2.      Tartib al-tilawah (tartibal-Qur’an secara bacaan)
Yang dimaksud dengan tartibal-Qur’an secara bacaan adalah membaca al-Qur’an secara berurutan, baik itu kosa kata, kalimat, ayat maupun surahnya. Dengan demikian, tartibal-tila>wah tersebut dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:
a.    Tartibal-kalimat yaitu membaca al-Qur’an sesuai dengan urutan kosa kata dalam satu kalimat atau ayat al-Qur’an. Ulama sepakat wajib membacanya secara berurutan, seperti tidak mendahulukan لله dari pada الحمد dalam surah al-Fatihah.
b.    Tartibal-ayat yaitu membaca al-Qur’an sesuai dengan urutan ayat-ayat dalam satu surah. Menurut pendapat yang kuat, membaca ayat-ayat secara berurutan hukumnya wajib. Pendapat tersebut diamini oleh dengan alasan bahwa Rasulullah pada masa hidupnya membaca beberapa surah secara berurutan ayat-ayatnya.
c.    Tartibal-suwar, yaitu membaca al-Qur’an sesuai dengan urutan surah-surah dalam mus}haf usmani>. Sedangkan hukum membaca surah secara berurutan tidak wajib, bahkan para pembacanya diperkenankan memilih surah-surah yang ingin dibaca sesuai dengan kemampuannya, karena Rasulullah pernah shalat malam dengan membaca surah al-Baqarah kemudian surah al-Nisa>’ kemudian surah al -imran.
          
D. Kontroversi seputar penyusunan surah-surah al-Qur’an
Para Ulama Islam, khususnya ulama tafsir berbeda pendapat seputar tartibsuwar al-Qur’an (urutan surah al-Qur’an) apakah urutan surah itu diajarkan langsung oleh Rasulullah saw. yang dikenal dengan istilah tauqi>fi> ataukah urutan surah itu merupakan ijtihad para sahabat. Sebagian ulama berpendapat bahwa tartibsuwar al-Qur’an merupakan ijtihad para sahabat seperti yang anut Malik Ibn Anas dan diiyakan oleh Ibnu Faris.[23] Sebagian lagi berpendapat bahwa tartibsuwar al-Qur’an merupakan tauqi>fi> dari Rasulullah saw., seperti Qa>di> Abu> Bakar Ibn al-Anba>ri, Abu> Ja’far Ibn al-Nuhas, al-Karma>ni>. Sedangkan sebagian lagi men-tafs}i>l-nya dengan mengatakan ada surah yang penyusunannya tauqi dan sebagian lagi merupakan hasil ijtihad sahabat.[24]
Perbedaan tersebut bukan tanpa alasan atau argumentasi. Pendapat yang mengatakan bahwa tartibsuwar al-Qur’an merupakan ijtihad para sahabat mendukung pendapatnya dengan beberapa dalil:
1.      Perbedaan susunan surah-surah al-Qur’an> dalam mus haf tokoh-tokoh sahabat seperti ‘Ali , Abdullah Ibn Mas’ud dan mushaf Usman.
2.      Perintah Usman memasukkan al-Anfa>l dan al-Taubah dalam kelompok al-sab’u al-t}iwa>l  (7 surah yang panjang) tanpa dipisah oleh basmalah.
Sedangkan argumen yang diajukan oleh ulama yang mengatakan bahwa    tartibsuwar al-Qur’an merupakan tauqiat adalah:
1.      Setiap tahun pada bulan Ramadan, malaikat Jibril mengajarkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw., bahkan di akhir hayat Rasulullah saw. malaikat Jibril membacakan al-Qur’an sebanyak dua kali sesuai dengan urutan al-Qur’an yang ada di lauh al-mahfuz.
2.      Semua sahabat Rasulullah saw. sepakat terhadap susunan mus}haf yang ditulis pada masa Usman Ibn ‘Affan
3.      Sebagian sahabat Rasulullah saw. telah sempurna hafalan al-Qur’annya pada saat Rasulullah saw. masih hidup dan membacakan dihadapan Rasulullah secara berurutan.[27]
4.      Andaikan al-Qur’an disusun berdasarkan ijtihad sahabat, niscaya surah-surah yang sejenis akan tersusun secara berurutan, namun kenyataannya tidak seperti طسم dalam surah al-Syu’ara>’ dan طسم dalam surah al-Qasas.
Sementara ulama yang mengambil jalan tengah dengan mengatakan bahwa tartibsuwar al-Qur’an ada yang tauqifiat dan ada pula yang ijtihat berlandaskan beberapa dalil yang kuat adalah:
1.      Terdapat beberapa hadis Nabi yang menunjukkan bahwa sebagian surah-surah al-Qur’an adalah tauqifiat sedangkan sebagian yang lain adalah ijtihat.
2.      Keraguan Usman Ibn Affan tentang penempatan surah al-Anfal dan Bara’ah.   
Penyusunan dan pengurutan surah-surah dalam al-Qur’an bukanlah sesuatu yang diharuskan atau diwajibkan oleh Allah swt., akan tetapi masalah tersebut kembali pada tujuan dan target yang ingin dicapai. Tujuan penyusunan berdasarkan nuzulnya adalah mengetahui metode dasar atau asas dakwah, cara menyampaikan aqidah, cara memberikan berita gembira dan ancaman dan cara mengobati penyakit masyarakat. Sementara tujuan tartibal-mus}haf adalah cara hidup, membangun peradaban, dan undang-undang dunia yang mencakup aspek yang besar maupun yang kecil.      
Oleh karena itu, setiap individu sahabat berhak memiliki tartibsuwar al-Qur’an sesuai dengan keyakinan, pengetahuannya tentang al-Qur’an dan tujuan yang ingin dicapai. Namun demikian, menurut al-Zarkasyit tartibsuwar al-Qur’an yang paling sempurna adalah mushaf usman.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Kariim.
Abu Syuhbah, Muhammad Muhammad. al-Madkhal lidira>sah al-Qur’an al-Kari>m. Cet. III; al-Riyad}: al-Mamlakah al-‘Arabiyah al-Sa’u>diyah, 1407 H./1987 M.
Al-‘At}t}a>r, Da>ud. Mu>jaz fi> ‘Ulu>m al-Qur’an. Cet. II; Bairut: Muassasah al-A’la> li al-Mat}bu>’ah, 1399 H./1979 M.
Al-Afri>qi>, Muhammad Ibn Mukrim Ibn Manz}u>r. Lisa>n al-‘Arab. Cet. I; Bairut: Da>r S}a>dir, t. th.
Al-Azdi>, Abu> Da>ud Sulaima>n Ibn al-Asy’as|. Sunan Abi> Da>ud. Bairut: Da>r al-Fikr, t. th.
Al-Bukha>ri>, Abu> Abdillah Muhammad ibn Isma>’i>l. S}ah}i>h} al-Bukha>ri>. Cet. III; Bairut: Da>r Ibn Kas|i>r, 1407 H./1987 M.
Al-Qattha>n, Manna’. Maba>his fi> ‘Ulu>m al-Qur’an. Cet. XIX, Bairut: Muassasah al-Risa>lah, 1406 H./1983 M.
Al-Qusyairi>, Abu> al-Husain Muslim Ibn al-Hajja>j. S{ah{i>h{ Muslim. Beirut: Da>r al-Jail, t.th.
Al-Suyu>t}i>, Jalaluddin. al-Itqa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’an. Dikutip dari CD al-Maktabah al-Sya>milah dari webside: http://www.alwarraq.com.
_________, Asra>r Tartibal-Qur’an. Cairo: Da>r al-I’tis}a>m, t. th.
al-Zarkasyi>, Abu> Abdillah Muhammad Ibn Baha>dir. al-Burha>n fi> ‘Ulu>m al-Qura’a>n. Bairut: Da>r al-Ma’rifah, 1391 H.
al-Zarqa>ni>, Muhammad Abd ‘Az}i>m. Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur’an. Cet. I; Bairut: Da>r al-Fikr, 1996 M.
al-Zarqa>wi>, Ahmad Ibn Muhammad. Mauqif al-Syauka>ni> fi> Tafsi>rih al-Muna>saba>t. Dikutip dari CD al-Maktabah al-Syamilah  dari www.tafsir.net.
Arqada>n, S}ala>huddin. Mukhtas}ar al-Itqa>n fi>’Ulu>m al-Qur’an li al-Suyut}i>. Cet. II; Bairut: Da>r al-Nafa>is, 1407 H./1987 M.
Ash Shiddieqy, Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur’an/Tafsir. Cet. XIV; Jakarta: Bulan Bintang, 1992 M.
Hambal, Abu> ‘Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn. Musnad Ahmad Ibn Hambal. Cet.I; Bairut: ‘A>lam all-Kutub, 1419 H./1998 M.
Hasan, Sa>mi> ‘At}a>. al-Muna>saba>t bain al-A>ya>t wa al-Suwar. Dikutip dari CD al-Maktabah al-Sya>milah.
Ibn ‘A>syu>r, Muhammad al-T}a>hir Ibn Muhammad Ibn Muhammad. Muqaddimah al-Tahri>r wa al-Tanwi>r. Dikutip dari CD al-Maktabah al-Sya>milah.
Mardan. al-Qur’an Sebauh Pengantar Memahami al-Qur’an Secara Utuh. Cet. I; Jakarta: Pustaka Mapan, 2009 M.
Qism al-Tafsi>r wa Us{u>luh. Makkah: Ja>mi’ah al-Ima>m Muhammad Ibn Sa’u>d al-Isla>miyah. t.th. Dikutip dari CD al-Maktabah al-Sya>milah.
Zakariya>, Abu> al-Husain Ahmad ibn Fa>ris ibn. Mu’jam Maqa>yi>s al-Lugah. Bairut: Da>r al-Fikr, t. th.

Terimakasih telah membaca artikel berjudul Pengertian Tartib Al-Qur'an dan Bentuk-bentuknya

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 9/29/2017

0 komentar Pengertian Tartib Al-Qur'an dan Bentuk-bentuknya

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak