Home » , , » PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI BRUNAI DARUSSALAM

PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI BRUNAI DARUSSALAM

BAB I

      A.    Sejarah Singkat  Brunei Darussalam

Secara georafis  Brunei Darussalam terletak di pulau Kalimantan , tepatnya di pantai Barat Laut Kalimantan. Bagian baratnya merupakan dataran pantai yang berawa sedangkan bagian timur berbukit. Nama resminya adalah Brunei Darussalam  (Negara yang penuh kedamaian) Ibukotanya adalah Bandar Sri Begawan luas wilayahnya ;5.765 KM Titik tertinggi adalah bukit Pagon (1850 m) dan sungai utama adalah sungai Belait. Brunei terbagi atas empat distrik yaitu : distrik Brunei, distrik Tutong, distrik Belait, dan distrik Temburong .[2] Ia masuk dalam negara rumpun Melayu. Brunei  dianggap negara tua diantara kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Keberadaan Brunei tua diperoleh berdasarkan catatan Arab China dan tradisi lisan. Dalam catatan sejarah China dikenal dengan nama Poli-Polo, Poni atau Puni dan Brunei dalam catatan Arab dikenal dengan istilah Dzabaj atau Ranjd.[3] Mueflich Hasbullah dalam mengutip pendapat Sharon mengatakan bahwa kerajaan Islam Melayu menyerukan kepada masyarakat untuk setia kepada rajanya, melaksanakan Islam dan menjadikannya sebagai jalan hidup serta menjalani kehidupan dengan mematuhi segala karakteristik dan sifat bangsa Melayu sejati Brunei Darussalam, termasuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa utama.[4]

3
Brunei zaman dahulu disebut kerajaan Borneo kemudian berubah menjadi Brunei. Nama Borneo ini diduga kuat disandarkan kepada Borneo sebagai   nama lain dari pulau Kalimantan karena Brunei terletak di bagian Barat Laut Kalimantan. Persi lain mengatakan Brunei berasal dari kata Baru Nah  yang dalam sejarah dikatakan bahwa pada awalnya ada rombongan Klan atau suku Sakai yang dipimpin oleh Pateh Berbai pergi ke Sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru. Setelah mendapatkan kawasan tersebut yang memiliki kedudukan sangat strategis yang diapit oleh bukit, air,  dan mudah untuk dikenal serta untuk transfortasi dan kaya akan ikan sebagai sumber pangan yang banyak di sungai, maka merekapun mengucapkan percatan Baru Nah artinya tempat itu sangat baik , berkenan dan sesuai di hati mereka untuk mendirikan negeri seperti yang mereka inginkan. Kemudian percatan Baru Nah itu lama kelamaan berubah menjadi Brunei. Klan atau Sakai yang disebutkan tadi √°dalah serombongan pedagang dari Cina yang gemar berniaga dari satu tempat ke tempat lain, itulah sebabnya konon pada awalnya kerajaan Brunei merupakan pusat perdagangan orang-orang Cina. 
Diantara negara-negara rumpun Melayu, Brunei Darussalam termasuk yang termudah karena baru diproklamirkan sebagai negara merdeka pada tanggal 1 Januari 1984 dengan pernyataan sebagai berikut :
bahwa mulai 1 Januari 1984 negara Brunei Darussalam √°dalah dan dengan izin Allah Subhanahu Wa Taala akan untuk selama-lamanya kekal menjadi sebuah negara Melayu Islam Berraja yang merdeka. Berdaulat dan demakratik bersendikan ajaran-ajaran Islam menurut Ahli Sunnah Wal Jamaah[5] ( Baca: ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN)
Pernyataan di atas menyatakan secara resmi bahwa Brunei Darussalam merupakan negara yang bersendikan ajaran-ajaran ahlu al sunnah wal jamaah” . Disamping itu mazhab Syafi’i  ditetapkan sebagai mazhab resmi negara  dalam perlembagaan negara. Bahkan didapatkan informasi bahwa telah ditetapkan jauh sebelumnya yaitu sejak raja ke 24, Sultan Abdul Momin  (1852-1885), sedangkan mazhab lain dianggap sebagai kegiatan akademik saja.. Dengan demikian, maka Brunei Darussalam merupakan satu-satunya negara di dunia yang menetapkan dasar negara, tidak hanya Islam tetapi juga Ahlussunnah Wal Jamaah bermazhab Syafi’i. Islam masuk ke Brunei pada masa raja ke -5, Sultan Bolkiah (1485-1524) setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis.
Oleh sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa Brunei telah ada setidaknya sejak abad ke 7 atau ke 8 M. Kerajaan  ini kemudian ditakklukkan oleh Sriwijaya pada awal abad ke 9 kemudian dijajah lagi oleh Majapahit. Setelah  Majapahit runtuh Brunei berdiri sendiri, bahkan Brunei pernah mencapai seluruh pulau Kalimantan dan Filipina. Kejayaan ini dicapai pada masa pemerintahan Sultan kelima Bolkiah yang berkuasa pada tahun 1473 sampai 1521.[6] Pada masa-masa berikutnya , datanglah orang Eropah di wilayah ini, dan Inggris sebagai negara kuat saat itu akhirnya menjadikan Brunei sebagai negara jajahan. Sehingga sejak tahun 1888, kerajaan Brunei merupakan negara persemakmuran Inggris.Pada saat yang bersamaan Malaysia juga dikuasai oleh Inggris. Penduduk kedua negara tersebut kemudian bersatu mengadakan perlawanan dan dalam rentang sejarah yang panjang kedua negara tersebut merdeka. Malaysia memproklamirkan diri sebagai merdeka pada tanggal 31 Agustus 1957, dan ketika itu Brunei masih dinyatakan bergabung dengan Malaysia.. Setelah kemerdekaannya keadaan Malaysia belum begitu stabil   terutama pada tahun 1960 an karena orang-orang  China sering konflik dengan masyarakat Melayu.[7] Malaysia dan Brunei yang berpendudukan Melayu berusaha keras mengamankan negaranya, dan setelah betul-betul aman barulah Brunei memisahkan diri  dari Malaysia tepatnya sebagaimana dikemukakan di atas. 
PM Syarifuddin menulis sebagaimana yang dikutip oleh Ajid Thohir mengatakan dalam tulisannya yang sangat menarik bahwa Brunei (lima abad lalu) yang mukim di Jerudong disebut orang Kedayan, berasal dari Jawa. Leluhur mereka tiba   di Brunei di masa daulat Sultan Bolkiah. Inilah suku yang pertama tinggal di Brunei.
Sebagian pengamat mengatakan sistuasi politik di Brunei tampaknya sangat tenang. Jumlah penduduknya  227.000 jiwa dengan kaum muslimin sebagai kelompok mayoritas, Melayu 155.000 jiwa, China pendatang 41.000, masyarakat campuran 11.500 jiwa dan 20.000 dari Eropa dan pekerja dari Asia sekitarnya yang notabene dari Filipina. Namun data terakhir didapatkan bahwa jumlah penduduk Brunei adalah 370 ribu orang dengan pendapatan berkapita sekitar 23.600 dollar Amerika atau sekitar 225 juta rupiah, 67 % beragama Islam.[8] Sumber kekayaan utama yang dihasilkan Brunei adalah minyak mentah, gas alam cair yang begitu melimpah. Ditambah lagi hasil taninya yang cukup subur sehingga tanaman seperti karet, merica dan rempah-rempah lainya merupakan hasil pertanian yang cukup menjanjikan. Brunei ibu kotanya adalah Bandar Seri Begawan, kepala pemerintahannya adalah seorang raja.

      B.     Masuk dan Berkembangnya Islam di Brunei Darussalam

Berkaitan dengan masuknya Islam di Brunei ditemukan beberapa sumber yang berbeda yaitu :
a.                           Dalam Ensiklopedi Islam dijelaskan bahwa Islam mulai diperkenalkan di Brunei  pada tahun 977 melalui jalur timur Asia Tenggara oleh pedagang-pedagang dari negeri Cina. Islam menjadi agama resmi negara semenjak Raja Awang  Alak Betatar masuk Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Shah (1406-1408). Perkembangan Islam semakin maju setelah pusat penyebaran dan kebudayaan Islam Malaka jatuh ke tangan Portugis (1511) sehingga banyak  ahli agama Islam pindah ke Brunei. Kemajuan dan perkembangan Islam semakin nyata pada masa pemerintahan Sultan Bolkiah (sultan ke-5), yang wilayahnya meliputi Suluk, Selandung, kepulauan Suluk, kepulauan Balabac samapai ke Manila.[9] Masuknya Islam di Brunei didahului oleh tahap perkenalan. Islam masuk secara nyata ketika raja yang berkuasa pada saat itu menyatakan diri masuk Islam, lalu diikuti oleh penduduk  Brunei dan masyarkat luas. Sehingga cukup beralasan jika Islam mengalami perkembangan yang begitu cepat.
b.                  Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia dikatakan bahwa agama Islam masuk ke Brunei pada abad ke-15. Sejak itu, kerajaan Brunei berubah menjadi kesultanan Islam. Pada abad ke-16 Brunei tergolong kuat di wilayahnya, dan daerah kekuasaannya  meliputi pula beberapa pulau di Filipina selatan.[10] Perubahan nama dari kerajaan menjadi kesultanan memberi informasi bahwa Islam di Brunei mendapat perhatian yang serius dari pihak pemerintah. Hal ini menjadi salah satu faktor sehingga penganut agama Islam semakin bertambah banyak.
c.                           Di sumber lain dikatakan bahwa silsilah kerajaan Brunei didapatkan pada Batu Tarsilah yang menuliskan silsilah raja-raja Brunei yang dimulai dari Awang Alak Batatar, raja yang mula-mula memeluk agama Islam (1368) sampai kepada Sultan Muhammad Tajuddin (Sultan Brunei ke-19, memerintah antara 1795-1804 dan 1804-1807).Data ini menunjukkan sistim pemerintahan di Brunei adalah kesultanan atau monarki mutlak Islam, dan semuanya sangat memeperhatikan Islam sebagai agama resmi negara.
d.                          Menurut Azyumardi Azra bahwa awal masuknya Islam di Brunei yaitu sejak tahun 977 kerajaan Borneo (Brunei) telah mengutus Ali ke istana Cina. P’u Ali adalah seorang pedagang yang beragama Islam yang nama sebenarnya yaitu  Abu Ali. Pada tahun itu juga diutus lagi tiga duta ke istana Sung, salah seorang di  antara mereka bernama Abu Abdullah.[11] Peran para pedagang muslim dalam penyebaran Islam di Brunei telah terbukti dalam catatan sejarah.
e.                    John L. Esposito seorang orientalis yang pruduktif banyak menulis tentang sejarah Islam, menurutnya bahwa Islam pertama kali datang di Brunei pada abad ke-15 dan yang pertama kali memeluk Islam adalah raja Berneo.[12]Pendapat Esposito  ini sejalan dengan pendapat lainnya bahwa pihak raja atau sultan  yang lebih awal menyatakan diri masuk Islam, lalu kemudian diikuti oleh masyarakatnya.
Data dan informasi di atas memberi penegasan bahwa  raja Brunei sejak dahulu  besar perhatiannya terhadap Islam dan dapat diterima oleh  lapisan masyarakat. Mereka dapat menerima Islam dengan baik ditandai dengan sambutan positifnya  terhadap kedatangan pedagang Arab Muslim.  Islam masuk di Brunei melalui suatu proses yang panjang  tidak pernah berhenti. Menurut Ahmad M. Sewang ada suatu proses yang dinamakan adhesi, yaitu proses penyesuaian diri dari kepercayaan lama  kepada kepercayaan baru (Islam). Proses tersebut juga disebut proses islamisasi yang dapat berarti suatu proses yang tidak pernah berhenti.[13]
Kedatangan Islam di Brunei membolehkan rakyat menikmati sistem kehidupan lebih tersusun dan terhindar dari adat yang bertentangan dengan akidah tauhid. Awang Alak Betatar adalah raja Brunei pertama yang memeluk Islam dengan gelar Paduka Seri Sultan Muhammad Shah (sultan ke-1 tahun 1383-1402).Ia dikenal sebagai penggagas kerajaan Islam Brunei. Awang penganut Islam sunni lebih dipecayai dari pada Syarif Ali seorang dari berketurunan ahl al-bait, yang bersambung dengan keluarga Nabi Muhammad saw melalui pjalur cucunya Sayidina Hasan. Syarif Ali dikawinkan dengan putri Sultan Muhammad Shah, setelah itu ia dilantik menjadi raja Brunei atas persetujuan pembesar dan rakyat. Sebagai raja dan ulama, Syarif Ali gigih memperjuangkan Islam dengan membangun masjid dan penerapan hukum Islam. Satu hal yang menarik untuk diketahui bahwa meskipun Syarif Ali berketurunan ahl al-bait, tetapi tidak menjadikan pola pemerintahan yang berdasarkan  pola kepemimpinan Syiah yang dikenal imamah, justru ia melanjutkan konsep kepemimpinan yang sudah ada yaitu sunni.
Raja-raja Brunei sejak dahulu kala secara turun temurun adalah kerajaan Islam dan setiap raja bergelar sultan. Di samping itu, kerajaan Brunei dalam kunstitusinya secara tegas menyatakan  bahwa kerajaan Brunei adalah negara Islam yang beraliran sunni (ahl  al-sunnah wa al-jama‘ah). Islam berkembang di Brunei karena pihak kesultanan menjadikan sunni  sebagai prinsip ketatanegaraan dan pemerintahan dalam Islam. Menurut Hussin Mutalib bahwa pihak Sultan pernah memperingatkan agar hati-hati terhadap Syiah.[14] Aliran Syiah di Brunei tidak mendapat posisi penting untuk berkembang bahkan menjadi ancaman bagi Sultan.
Pada masa Sultan Hassan (sultan ke-9 tahun 1582-1598), dilakukan beberapa hal yang menyangkut tata pemerintahan: 1) menyusun institusi-institusi  pemerintahan agama, karena agama memainkan peranan penting dalam memandu negara Brunei ke arah kesejahtraan, 2) menyusun adat istiadat yang dipakai dalam semua upacara, di samping itu menciptakan atribut kebesaran dan perhiasan raja, 3) menguatkan undang-undang Islam.[15]
Pada tahun 1967, Omar Ali Saifuddin III (sultan ke-28 tahun 1950-1967) telah turun dari tahta dan melantik putra sulungnya Hassanal Bolkiah menjadi sultan Brunei ke-29 (1967-sekarang). Pada tahun 1970, pusat pemerintahan negeri Brunei Town telah diubah namanya menajdi Bandar Seri Begawan untuk mengenang jasa Baginda yang meninggal dunia tahun 1986. Usaha-usaha pengembangan Islam diteruskan oleh Yang Mulia Paduka Seri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Wadaulah.Di antara usahanya yaitu pembinaan masjid, pendidikan agama, pembelajaran al-Qur’an dan perundang-undangan Islam.
Setelah Brunei merdeka penuh tanggal 1 Januari 1984, Brunei menjadi sebuah negara Melayu Islam Braja.Melayu diartikan sebagai negara Melayu yang memiliki unsur-unsur kebaikan dan menguntungkan. Islam diartikan sebagai suatu kepercayaan yang dianut negara yang bermazhab ahl al-sunnah wa al-jama‘ah sesuai dengan kontitusi  cita-cita kemerdekaan, sedang Braja diartikan sebagai  suatu sistem tradisi Melayu yang telah lama ada. Penduduk Brunei yang mayoritas Melayu dan penganut agama Islam terbesar di Brunei tentu saja merekalah yang menentukan tatanan negara dengan tetap memperhatikan kemajuan Islam yang berhaluan ahl al-sunnah wa al-jama‘ah dan menjaga kelestarian dan mempertahanakan adat istiadat yang berlaku.
Islam sebagai agama resmi negara Brunei dan agama mayoritas, namun  agama lain tidak dilarang. Kementerian agama Brunei  berperan besar dalam menentukan kebijaksanaan dan aturan bagi penduduknya. Buku-buku keagamaan harus lebih dahulu melalui sensor kementerian itu sebelum boleh beredar di masyarakat. Segala bentuk patung dilarang, walaupun patung Winston Churuchil dibangun di perempatan  utama di ibu kota Bandar Seri Begawan. Hukum Islam berpengaruh besar pada undang-undang di negara itu. Kementerian agama sangat  berhati-hati  terhadap unsur-unsur yang dapat merusak akidah tauhid, sehingga buku pun harus disensor dan tidak lagi diizinkan pembangunan patung yang dianggap juga dapat merusak iman seseorang.
Selain itu, yang perlu juga diketahui bahwa Brunei  sebagai negara Islam di bawah pemimpin sultan ke-29 yaitu Sultan Hassanal Bolkiah. Sultan ini telah banyak melakukan usaha penyempurnaan pemerintahan antara lain dengan melakukan pembentukan majelis Agama Islam atas dasar Undang-Undang Agama dan Mahkamah Kadi. Majelis ini bertugas menasehati Sultan dalam masalah agama Islam. Usaha lain yang dilakukan yaitu  menjadikan Islam benar-benar berfungsi sebagai pandangan hidup rakyat Brunei dan satu-satunya idiologi negara. Untuk itu, dibentuklah jabatan Hal Ehwal Agama yang bertugas menyebarkan paham Islam. Untuk kepentingan penelitian  agama Islam, pada tanggal 16 September 1985 didirikan pusat dakwah, yang juga bertujuan melaksanakan program dakwah serta pendidikan kepada pegawai-pegawai agama dan masyarakat luas dan pusat pameran perkembangan dunia Islam.[16] Atas dasar itu,  sehingga secara kuantitas masyarakat Muslim di Brunei semakin hari semakin bertambah banyak.
Brunei sebagai negara yang  berpenduduk mayoritas muslim dan Sultan menjadikan Islam sebagai idiologi negara, telah banyak melakukan aktifitas baik bersifat nasional maupun internasioal. Di bulan Juni 1991, Brunei sebagai tuang rumah penyelenggaraan  Pertemuan  Komite Eksekutif Dewan Dakwah Islam Asia Tenggara dan Pasific,di bulan Oktober 1991, Sultan menghadiri pembukaan  Budaya Islam di Jakarta, di bulan Desember 1991, Sultan menghadiri  pertemuan Organisasi Konfrensi Islam (OKI) yang diselenggarakan di Qatar, di bulan September 1992, didirikan lembaga yang bergerak di bidang finansial yaitu Tabung Amanah Islam Brunei (TAIB), lembaga keuangan ini dikelola secara profesional sesuai dengan prnsip dasar Islam.Data sejarah ini menunjukkan bahwa Sultan memiliki perhatian dan semangat besar untuk mengembangkan Islam dan menyejahtrakan kehidupan umat Islam Brunei.
Untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan umat Islam Brunei, Sultan dalam sambutannya dalam peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. tahun 1991 mengeluarkan dekrit yang isinya melarang organisasi al-Arqam melakukan aktifitas keagamaan. Sultan memerintahkan seluruh jajaran pemerintahannya agar melarang organisasi asing melakukan kegiatan yang dapat mengancam keutuhan dan keharmonisan umat Islam yang selama ini sudah terbina dengan baik. Organsiai al-Arq±m dianggap organisai yang akan memeceh belah umat Islam dan berusaha menghilangkan tradisi Melayu di Brunei.
Dalam satu sumber dikatakan bahwa di Brunei seluruh pendidikan rakyat mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi ditanggung oleh negara atau diberikan secara gratis. Perhatian negara terhadap peningkatan sumber daya manusia menjadi prioritas, utamanya pengembangan sumber daya manusia islamik.Salah satu langkah yang ditempuh dalam peningkatan ini yaitu negara mengirim sejumlah kaum muda untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri atas biaya negara, sehingga jumlah siswa yang dikirim setiap tahunnya mencapai angka 2000 orang.[17] Pendidikan gratis di semua tingkatan, menunjukkan bahwa Brunei adalah negara kaya.Meskipun Brunei yang luas wilayahnya tergolong kecil, menempati urutan 148 di dunia (setelah Siprus dan sebelum Trinidad dan Tobago) sebanding dengan luas wilayah kabupaten Aceh Tengah. Anggota ASEAN  ini merupakan salah satu negara makmur di dunia dengan tingkat income percapita masuk 10 besar dunia. Karena itu, sangat beralasan bila agama Islam di negara ini mengalami perkembangan yang cepat dan mempunyai istana besar dan megah. Perdagangannya yang maju antara lain menjadikan negara nomor satu dalam angka “Export per capita”.


      C.    Perkembangan Pendidikan Islam di Brunei Darussalam

Pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan menusia melaui upaya pengajaran dan pelatihan : proses, perbuatan, cara mendidik.[18] Pendidikan juga disebut sebagai sistem training dan pengajaran yang didesain untuk memberi pengetahuan dan keterampilan.[19]  Pendidkan  bukan hanya suatu upaya yang melahirkan proses pembelajaran yang bermaksud membawa manusia menjadi sosok yang potensial secara intelektual  melalui transfer of knowledge yang kental . Tetapi proses tersebut bermuara kepada upaya pembentukan masyarakat yang berwatak, beretika, dan estetika serta bermoral. Pendidikan Islam menurut Razalinda Under adalah :satu usaha untuk mengembangkan fitrah manusia sesuai dengan ajaran agama Islam berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah yang akhirnya akan mewujudkan satu masyarakat yang bertamadun tinggi, penuh rahmat dan kebahagiaan serta mendapat keredaan Allah. Pendidikan Islam berusaha untuk mengembangkan semua aspek dalam kehidupan manusia . Aspek-aspek tersebut meliputi antara lain, spritual, intelektual, imajinasi, keilmiyahan, dan lain sebagainya.[20] Dengan demikian, maka  pendidikan bertujuan untuk memadukan paling tidak tiga aspek pada diri manusia yaitu : aspek intelektual ,  spritual dan emosional.
Term yang biasa diidentikkan dengan istilah  pendidikan adalah pengembangan sumber daya manusia . Kemajuan suatu bangsa terkadang diukur dengan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu hampir semua negara berusaha secara maksimal untuk meningkatkan sumber daya manusianya.
Brunei Darussalam sebagai sebuah negara sudah barang tentu akan memperhatikan sumber daya manusianya hal ini selalu ditekankan oleh para menteri kabinet dalam setiap pidatonya tentang tantangan mengelola perubahan dalam konteks pembangunan nasional.[21] Oleh karena itu pemerintah Brunei  meningkatkan pengelolaan sumber daya manusia yang menurutnya terletak pada pelatihan generasi muda. Bahasa Melayu dan Inggris memiliki penekanan yang sama pada pendidikan dasar dan pelajaran diajarkan dalam bahasa Inggris. Penekanan pada bahasa Inggris ini diimbangi dengan pengajaran MIB (Melayu Islam Beraja atau Kerajaan Islam Melayu), seperti ajaran agama Islam, yang merupakan program pengajaran moral inti di sekolah. Pelajaran satu tahun dalam bidang MIB terutama diwajibkan untuk mahasiswa . Sekolah-sekolah sekunder bahasa Arab juga diajarkan sejak pada tahun 1970, dan bagi siswa yang memenuhi syarat kemudian dikirim ke Al-Azhar University di Kairo. Bruneib Religious Teachers College (sekolah Guru Agama Brunei) yang didirikan pada tahun 1972, melatih dan mempersiapkan guru-guru agama yang terampil.
Universitas Brunei Darussalam menyelenggarakan pertemuan ketiganya pada tahun 1991, dan menelorkan 200 lulusannya. Dan sejak didirikan tahun 1985 lembaga ini telah meluluskan 500 sarjana. Dan pada tahun 1991 telah melakukan MoU dengan University Technologi Malaysia untuk memperkuat kerjasama dalam bidang pendidikan dan penelitian. (BACA : LINGKUNGAN PENDIDIKAN ISLAM).
Pendidikan formal di Brunei dimulai tahun 1912 dengan mulai dibukanya Sekolah Melayu di Bandar Brunei (Bandar Sri Begawan sekarang) . Kemudian dikuti dengan pembukaan sekolah lain tahun 1918 di wilayah Brunei-Muara, Kuala Belait dan Tutong khusus untuk murid laki-laki berusia 7-14 tahun dengan kurikulum pelajaran mencakup membaca dan menulis dalam bahasa Arab dan Latin. Sebelumnya tahun 1916, masyarakat Tionghoa telah mendirikan sekolah sendiri  di Bandar Sri Begawan . Baru pada tahunn 1913 Sekolah Dasar Swasta pertama berbahasa Inggris berdiri di Seria. Sampai dengan tahun 1941, jumlah sekolah di Brunei mencapai 32 buah yang terdiri dari 24 sekolah Melayu, 3 sekolah swasta Inggris, 5 sekolah Cina dengan jumlah murid 1.714 orang dan 312 orang murid wanita.[22]
Pada tahun 1966 sekolah Melayu pada tingkat pendidikan menengah dibuka di Belait, Tahun 1984 kurikulum pendidikan nasional mewajibkan para siswa untuk menguasai dwibahasa yaitu bahasa Melayu dan bahasa Inggris, Puncaknya berupa berdirinya Universiti Brunei Darussalam tahun 1985 sebagai lembaga tertinggi di bidang pendidikan.
Prioritas utama pemerintah kerajaan Brunei dalam pendidikan adalah menuju arah kemajuan dan pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia di era globalisasi, peningktan sektor pendidikan termasuk pendidikan teknik dan kejuruan di mana kurikulumnya selalu ditinjau ulang. Program pendidikan diarahkan untuk menciptakan manusia yang berakhlak dan beragama dan menguasai teknologi. Pemerintah telah menetapkan tiga bidang utama dalam pendidikan yaitu : Sistem dwibahasa di semua sekolah, Konsep melayu Beraja (MIB) dalam kurikulum sekolah dan Peningkatan serta perkembangan sumber daya manusia termasuk pendidikan vokasional (kejuruan).
Sistem pendidikan di Brunei memiliki banyak kesamaaan sengan negara lainnya seperti Inggris, Malaysia, Singapura sebagai sesama negara persemakmuran dan lain-lain. Sistem ini dikenal dengan pola A7-3-2-2 yang melambangkan lamanya masa studi untuk masing-masing tingkatan seperti : 7 tahun tingkat dasar, 3 tahun tingkat menengah pertama, 2 tahun tingkat atas dan 2 tahun pra-universitas. Pemerintah mengutamakan penciptaan sumber daya manusia yang berakhlak, beragama, dan menguasai teknologi.
Sistem pendidkan Islamtelah mengalami perubahan yang pada awalnya dilakukan secara pribadi oleh paraulama melalui lembaga yang mereka miliki yang lebih bersifat tidak resmi atauinformal. Pendidikan Islam bagi orang Brunei ditujukan kepada semua lapisan masyarakat tidak hanya untuk satu-satu  kelompok masyarkat saja. Pendidikan tidak boleh hanya berpusat di Istana-Istana atau di kediaman golongan elite saja , tetapi kini juga bertempat di masjid-masjid, atau surau-surau, balai-balai ibadat, pondok-pondok pengajaian agama Islam tidak terkecuali juga di rumah-rumah guru-guru agama. Kampong Air adalah merupakan pusat pelajaran agama. Pada tahun  1950an pendidikan Islam belum memiliki kurikulum tersendiri dan tidak terikat dengan waktu , pengajian hanya bersifat perorangan, tenaga pengajar hanya menerima ehsan dan pemberian sukarela dari pelajarnya, pelajar-pelajar ini masih didominasi kaum lelaki. . Namun sekarang pendidikan agama lebih sistimatik, guru-guru agama harus ditatar di sekolah agama yang dikenal. Pendidkan agama Islam juga menjadi salah satu mata pelajaran yang diterapkan di seluruh sekolah. Ajaran agama Islam merupakan program pengajaran moral inti sekolah-sekolah di Brunei, dan tanpa mengabaikan pelajaran lain termasuk bahasa Ingggris tetap menjadi penekanan. 
Pemerintah Brunei senantiasa berusaha keras untuk memulihkan nafas keislaman dalam suasana politik yang baru. Di antara langkah-langkah yang diambil adalah mendirikan lembaga-lembaga moderen yang selaras dengan tuntutan Islam. Disamping menerapkan hukum syariah dalam pandangan negara. Didirikan pula Pusat Kajian Islam serta lembaga keuangan Islam.
Dr. Haji Awang Asbol Bin Haji Mail mengatakan  bahwa di Brunei kerajaan memainkan peranan penting , dia bada satu pusat dakwah, kita cuba menerapkan falsafah Islam Melayu kerajaan, memang selaras dengan Islam memang sudah dibuat kemudian disambung lagi oleh Sultan Hassanaal Bolkiah, malah setiap keramaian Islam, pegawai-pegawai pekerjaan diwajibkan datang, dijemput seperti maulid Nabi.[23]
Meskipun demikian langkah mengembangkan Islam dalam sendi-sendi masyarakat tetap berjalan, Prof. Lik Arifin Mansur Nurdin dosen di Universitas Brunei Darussalam  memastikan bahwa-siswa-siswa yang belajar di Pusat Kajian Islam  di sana berinteraksi satu sama lain dengan mahasiswa dari fakultas lain, sehingga mereka mendapatkan pandangan yang konprehensif.. Di Universitas Brunei Darussalam ada faculty of Islamic Studies, jadi digalakkan di fakultas ini ada interaksi, yang di Islamic Studies juga tahu disiplin lain, yang juga belajar sains juga mengerti apa prinsip-prinsip Islam mengenai sains, dianggap sebagai satu diskursus yang baik bukan dipaksakan.
Selanjutnya akan diuraikan perkembangan sekolah di Brunei,  sekolah menengah agama Islam Shamsuddiniah, merupakan sebuah sekolah menengah agama . Sekolah ini terletak di Kampung Parit Medan, Kundang Ulu, Muar. Tempatnya yang jauh dari kesibukan bandar ini memberikan satu keistimewaan kepada sekolah ini, di mana ia sering menjadi pilihan ibu bapak yang mau memberikan anak-anak mereka didikan agama yang sempurna disamping untuk mengelakkan mereka dari gejala sosial yang kian meruncing dewasa ini.[24] 
Kalau ditelusuri ke belakang sejak dekade awal penjajahan British, maka akan kelihatan bahwa kebanyakan masyarakat Islam mendapatkan pendidikan secara tidak formal sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Anak mendapatkan pendidikan dari para ulama ketika itu,  untuk memenuhi tuntutan agama, agar setiap umatnya mendapatkan  dapat menuntut ilmu agama, maka didirikanlah Madrasah Shamsuddiniah Assalafiah pada tahun 1940, selepas mendapat kelulusan daripada jabatan Agama Islam Johor (JAIJ) pada 12 Mei tahun yang sama.
Seperti umunya madrasah dinegara lain , pelajaran yang diajarkan di Madrasah Shamsuddiniah adalah pelajaran agama seperti : tauhid, fikih, Hadis, nahwu, saraf dan lain-lain. Menjelang tahun 1956, meskipun dengan  fasilitas yang  seadanya sekolah ini diminati oleh masyarakat .Madrasah ini juga melakukan perubahan kurikulum mengikuti sistem pendidikan yang dipergunakan oleh sekolah-sekolah Arab negeri Johor ketika itu.. Dengan terjadinya kurikulum tersebut maka Madrasah Shamsuddiniah dengan nama resminya didaftarkan sebagai Sekolah Menengah Agama (Rendah) negeri Johor di Jabatan Agama Johor madrasah ini didaftarkan di bawa JAIJ untuk menentukan kedudukannya sebagai institusi yang sah.
Memperhatikan perkembangan sebagai sebuah institusi pendidikan yang baru dikenali, madrasah ini pada awalnya hanya mempunyai satu bangunan sekolah yang mampu menempatkan lebih dari 50 orang pelajar laki-laki dalam suasana yang terbatas   Sistem pendidikan yang berorientasikan pondok ini senantiasa melaksanakan pendidikan meskipun kondisinya masih sangat kekurangan, namun demikian semangat para murid tetap menikmati kondisi ini. Dengan keadaan seperti ini  mereka dapat menguasai bahasa Arab dengan baik  ditambah dengan penggunaan bahasa Jawa dan bahasa Melayu sebagai medium komunikasi. 
Daftar Pustaka

  
Alexa,IslamDunia(SejarahdanPerkembanganIslamdiKotakotaDunia),http://kotaislam.blogsot.com/2013/03/sejarahmasukislamdibruneidarussalam.html,Diaksespada13Januari2014
Azra, Azyumardi. 1989, Islam di Asia Tenggara, Pengantar Pemikiran dalamAzyumardi Azra (Ed.), Perspektif Islam di Asia Tenggara.Jakarta:Yayasan Obor
Azra,Azyumardi. 2005, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Cet. II; Jakarta: Kencana
Budi,MenengokIslamdiBrunaiDarussalam,http://www.voaislam.com/read/muslimah/2009/08/26/117/halal-cosmetics-between-real-concerns-and-plain-ignorance/images/ads/pid-ads.swf. Diakses pada 14 Januari 2014
Che Nik, Che Ude. 1981, Sejarah Islam 2. Cet. II; Selangor Malaysia: Fajar Bakti SdnBha
Hornby, A.S. 1989, Oxford Advanced Leaner’s Dictionary of Current English Ed. IV. Oxford: Oxford University Press
Juardino,Bara.SejarahPerkembanganIslamdiAsiaTenggara,http://kampun9download.blogspot.com/2013/05/sejarah-perkembangan-islam-di-asia.html, Diakses pada 13 Januari 2014
Mubasysyir al-Taras, Abdullah.1985,  Intisyar al-Islam Daulah Asawiyah wa Afr³qiyah, juz 2;Jedah: ‘Alam al-Ma’rifah
Mutalib, Hussin. 1993,”Dimensi Politik Revitalisasi Islam Asia  Tenggara” dalam Saiful Muzani, ed. Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara. Cet. I;Jakarta: LP3ES Indonesia
Muthohhar,Abdul Hadi. 2003, Pengaruh Mazhab Syafi’i di Asia Tenggara (Cet. I;Semarang: Aneka Ilmu,Dikutip dari sumber: Pehin Orang KayaRatna Dato Seri Utama Dr. Haji Md Zain bin Haji Serudin, ”Suatu PendekatanMengenai Islam di Brunei Darussalam” dalam Seminar Studi Islam Asia Tenggara(Surakarta: mommiogaraph UMS, 19-21 Maret 1990)         
M. Sewang, Ahamd.2001, “Penerapan Syariat Islam di Sulawesi Selatan (Makalah disampaikan dalam Kongres II Umat Islam Sulawesi Selatan di Asrama Haji Sudiang Makassar tanggal 29-31 Desember 2001
Ridwan eds.,Kafrawi. 1994, Ensiklopedi Islam juz 1. Cet. III; Jakarta: PT. Ictiar Baru Van Hoeve
Sariyan,Awang. Penghayatan dan Peningkatan Ilmu dalam Pelbagai Bidang Melalui Bahasa Kebangsaan: Cabaran dalam Dunia Pendidikan Masa Kini dan MasaHadapan, sumber data.
Shamsuddiniah,SekolahMenengahAgamaShamsuddiniah,http://smashamsuddiniah.wordpress.com/latarbelakang/, Diakses pada 13 Januari 2014
Siddiqi,Sharon. 2005, BruneiDarussalam: Sebuah Bangsa Religius yang Potensial dalamMuflich Hasbullah, ed. Asia Tenggara Konsentrasi Baru Kebangkitan Islam.Cet.II; Bandung: Fokusmedia
Thohir,Ajid. 2002, Perkembanagan Peradaban Islam di Kawasan Dunia Islam.Cet.I;Jakarta: Raja Grafindo Persada
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.1995, KamusBesar Bahasa Indonesia. Ed. II. Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka

15
Wijdan Z, Aden.1997, Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial.Cet. I; Yogyakarta: Adtya Media




[1]Azyumardi Azra, Islam di Asia Tenggara, Pengantar Pemikiran dalamAzyumardi Azra (Ed.), Perspektif Islam di Asia Tenggara (Jakarta:Yayasan Obor,1989), h.VI-VIII.
                                                                                                                                                                                                                                   
[2]Awang Sariyan, Penghayatan dan Peningkatan Ilmu dalam Pelbagai Bidang Melalui Bahasa Kebangsaan: Cabaran dalam Dunia Pendidikan Masa Kini dan MasaHadapan, sumber data.
[3]Che Ude Che Nik, Sejarah Islam 2 (Cet. II; Selangor Malaysia: Fajar Bakti SdnBha, 1981), h.102.
[4]Sharon Siddiqi, BruneiDarussalam: Sebuah Bangsa Religius yang Potensial dalamMuflich Hasbullah, ed. Asia Tenggara Konsentrasi Baru Kebangkitan Islam (Cet. II;Bandung: Fokusmedia, 2005), h. 246.

[5]Abdul Hadi Muthohhar, Pengaruh Mazhab Syafi’i di Asia Tenggara (Cet. I;Semarang: Aneka Ilmu, 2003), h.101. Dikutip dari sumber: Pehin Orang KayaRatna Dato Seri Utama Dr. Haji Md Zain bin Haji Serudin, ”Suatu PendekatanMengenai Islam di Brunei Darussalam” dalam Seminar Studi Islam Asia Tenggara(Surakarta: mommiogaraph UMS, 19-21 Maret 1990), h.31.
[6]Abdul Hadi Muthohhar, Pengaruh Mazhab Syafi’i di Asia Tenggara,Ibid.
[7]Ajid Thohir, Perkembanagan Peradaban Islam di Kawasan Dunia Islam (Cet.I;Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), h. 262.
[8] Ajid Thohir, Perekembangan Peradaban Islam di Kawasan Islam. Ibid.
[9]Kafrawi Ridwan eds., Ensiklopedi Islam juz 1 (Cet. III; Jakarta: PT. Ictiar Baru Van Hoeve, 1994),  h. 257.
[10]Ensiklopedi Nasional Indonesia, op. cit., h. 485.
[11] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Cet. II; Jakarta: Kencana, 2005), h. 29.

[13]Ahamd M. Sewang  “Penerapan Syariat Islam di Sulawesi Selatan (Makalah disampaikan dalam Kongres II Umat Islam Sulawesi Selatan di Asrama Haji Sudiang Makassar tanggal 29-31 Desember 2001, h. 2.
[14]Hussin Mutalib,”Dimensi Politik Revitalisasi Islam Asia  Tenggara” dalam Saiful Muzani, ed. Pembangunan dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara (Cet. I;Jakarta: LP3ES Indonesia, 1993), h. 108
[15]Alexa,IslamDunia(SejarahdanPerkembanganIslamdiKotakotaDunia),http://kotaislam.blogspot.com/2013/03/sejarah-masuk-islam-di-brunei-darussalam.html, Diakses pada 13 Januari 2014
[16]BaraJuardino,SejarahPerkembanganIslamdiAsiaTenggara,http://kampun9download.blogspot.com/2013/05/sejarah-perkembangan-islam-di-asia.html, Diakses pada 13 Januari 2014
[17]Abdullah Mubasysyir al-Taras, Intisyar al-Islam Daulah Asawiyah wa Afr³qiyah, juz 2 (Jedah: ‘Alam al-Ma’rifah, 1985), h. 107
[18] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, KamusBesar Bahasa Indonesia, Ed. II (Cet. IV; Jakarta: Balai Pustaka, 1995), h. 232.
[19] A.S. Hornby, Oxford Advanced Leaner’s Dictionary of Current English Ed. IV(Oxford: Oxford University Press, 1989), h. 385.
[20]Aden Wijdan Z, Pendidikan Islam dalam Peradaban Industrial (Cet. I; Yogyakarta: Adtya Media, 1997), h.10.
[21] Sharon Shiddique, BruneiDarussalam: Sebuah Bangsa Religius yang Potensial, h.256
[22] Sharon Shiddique, BruneiDarussalam,Ibid.  h. 256.
[23]Budi,MenengokIslamdiBrunaiDarussalam,http://www.voaislam.com/read/muslimah/2009/08/26/117/halal-cosmetics-between-real-concerns-and-plain-ignorance/images/ads/pid-ads.swf. Diakses pada 14 Januari 2014
[24]Shamsuddiniah,SekolahMenengahAgamaShamsuddiniah,http://smashamsuddiniah.wordpress.com/latarbelakang/, Diakses pada 13 Januari 2014 
Terimakasih telah membca artikel berjudul PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI BRUNAI DARUSSALAM

SL Blogger
Kumpulan Makalah Updated at: 12/12/2016

0 komentar PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI BRUNAI DARUSSALAM

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak