Home » » Pemikiran Tasawuf Abu Yazid Al-Bustami

Pemikiran Tasawuf Abu Yazid Al-Bustami

Pemikiran Tasawuf Abu Yazid Al-Bustami

A. Biografi  Abu Yazid al- Bustami

Dalam sejarah tasawuf, Abu Yazid al- Bustami disebut sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan fana dan baqa. Ia di lahirkan di Bistam, Persia 804 M. Beliau berasal dari lingkungan keluarga yang terhormat dan terpelajar. Ayahnya (Isa) adalah pemuka masyarakat di Bistam, sedang ibunya dikenal sebagai penganut agama Majusi. Abu Yazid atau Bayazid atau al-Bustami adalah seorang sufi yang sangat terkenal. Beliau adalah teman Zunun al-Misri. Beliau juga termasuk orang-orang yang dikatagorikan sebagai muthawassithu al-Mutashawwifin al-Amaliyin. Dia dianggap sebagai sufi yang paling tinggi maqam-nya dan kemuliaanya, bahkan kedudukan Bayazid di antara para sufi diibaratkan seperti jibril diantara para malaikat.

            Pada mulanya Bayazid mempelajari fiqhi mazhab Hanafi, kemudian ia mendalami tasawuf terutama mengenai tauhid dan hakekat disamping pengetahuan tentang fana.
            Abu Yazid pernah berkata "siapa yang tidak mempunyai guru maka imamnya adalah Syaitan",sehingga tidak mengherangkan kalau dalam pengembaraannya mempelajari tasawuf beliau telah berguru kepada 113 guru, kemudian ia sendiri menjadi sufi besar yang sangat terkenal.
            Bayazid meskipun dia seorang sufi besar, tetapi ia tidak meninggalkan tulisan atau bekas tangan sedikitpun.  Ucapan-ucapan atau ungkapan beliau, banyak dimuat dalam kitab-kitab klasik seperti: al-Risalat al-Qusyaeriyat, Thabaqat al- Shufiyat, Kasyf al-Mahjub, Tadzikirat al-Awliya' dan al-Luma'.
            Abu Yazid meninggal di Bestam tahun 877 M. makamnya masih ada sampai sekarang dan banyak dikunjungi oleh orang dari berbagai negeri. Kuburnya berdampingan kubur al-Hujwiri, Nashir Khurasan dan Yaqut. Nama beliau sangat istimewa dalam hati kaum sufi, sekaligus tersimpan dalam file sejarah Islam.

B. Pemikiran Abu Yazid Al-Busatami Tentang Al-Fana' dan al-Baqa'

            Sebagaimana telah dikemukakan bahwa seorang sufi sebelum ia bersatu dengan Allah, terlebih dahulu ia harus fana' dan baqa'
            Fana adalah kata yang terambil  فنى- يفنى – فناء  yang secara leksikal berarti hilang, hancur, sirna dan berakhir wujudnya. Fana berbeda dengan al-Fasad (rusak). Fana artinya tidak nampaknya sesuatu, sedangkan rusak adalah berubahnya sesuatu kepada sesuatu yang lain. Dalam hubungan ini Ibn Sina ketika membedakan antara benda-benda yang bersifat samawiyah dan benda-benda bersifat alamiah, hilangnya benda alam itu dengan cara fana, bukan cara rusak.
            Mustafa Zahri mengatakan bahwa yang dimaksud dengan fana adalah lenyapnya inderawi atau kebasyariahan, yakni sifat sebagai manusia biasa yang suka pada syahwat dan hawa nafsu. Orang yang telah diliputi hakikat ketuhanan, sehingga tiada lagi melihat dari pada alam baharu, maka dikatakan ia telah fana dari alam cipta atau dari alam mahluk. Selain itu, fana juga dapat berarti hilangnya sifat-sifat buruk (maksiat) lahir batin.
            Ibrahim Basyumi, setelah mengemukakan beberapa pernyataan tentang fana, dia berkesimpulan bahwa fana' adalah suatu keadaan mental dimana hubungan manusia dengan alam dan dirinya sudah tiada tanpa hilang dari padanya nilai kemanusiaanya.
            Adapun arti fana menurut kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri. Menurut pendapat lain fana berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat ketuhanan.dan dapat pula berarti hilangnya sifat-sifat yang tercela.
            Pengertian tersebut di atas mengisyaratkan penulis untuk merumuskan pengertian fana, fana adalah lenyapnya sifat-sifat basyariah, akhlak yang tercelah, kebodohan dan perbuatan maksiat dari diri manusia. Meskipun kesadaran itu telah hilang namun nilai-nilai kemanusiaan itu tetap ada.
            Di dalam diri manusia  yang mengalami perubahan adalah akhlak manusia yang telah didominasi oleh cahaya hakekat. Dengan demikian apabila dikatankan seseorang telah fana' dari dirinya dan mahkluk lain, maka sebenarnya diri dan mahluk lain itu masih ada hanya saja dia tidak lagi menyadarinya dan merasakannya.
            Selanjutnya fana yang dicari oleh seorang sufi adalah penghancuran diri (al-fana 'an al-nafs), yaitu hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia. Menurut al-Qusyairi, fana yang dimaksud adalah fana seseorang dari dirinya dan dari mahluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang mahluk lain sebenarnya dirinya tetap ada dan demikian pula makhluk lain ada, tetapi ia tak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya.
            Kalau seorang sufi telah mencapai al-fana al-nafs, yaitu kalau wujud jasmaniah tak ada lagi (dalam arti tidak disadarinya lagi), maka yang akan tinggal adalah wujud rohaninya dan ketika itu ia bersatu dengan Allah secara rohaniah. Menurut Harun Nasution, kelihatannya persatuan dengan Allah ini terjadi langsung setelah tercapainya al-fana al-nafs. Tak ubahnya dengan fana yang terjadi ketika hilangnya kejahilan, maksiat dan kelakuan buruk.
            Adapun baqa' yang senantiasa mengiringi fana terambil dari kata, بقى –يبقى – بقاء.  Yang secara leksikal berarti الدوام  (terus menerus) atau dengan kata lain ada terus, tidak lenyap, tidak sirna, dan tidak hancur.
            Dalam terminologi tasawuf baqa' adalah pengalaman mistik tentang subtansi atau kehidupan bersama dengan Allah setelah terjadi fana. Dalam konteks lain al-Qur'an juga mengungkapkan kata fana yang diiringi dengan baqa' yang terdapat dalam surah al-Rahman ayat 26-27 sebagai berikut:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ(26)وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Artinya:
            "Semua yang ada di muka bumi ini akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (Ar-Rahman: 26-27)"
            Doktrin fana dan baqa', nampaknya merupakan kembar dua. Hal ini dapat dipahami dari ungkapan-ungkapan sufi sebagai berikut:
من فنى عن جهله بقى بعلمه
 من فنى عن رغبته بقى بزهاته
من فنى عن المخالفات بقى فىالمواف
            Menurut Nicholson, Fana memiliki berbagai tingkatan, aspek dan makna. Semuanya dapat diringkaskan sebagai berikut;
1.      Adalah transformasi moral dari jiwa, yang dicapai melalui pengendalian nafsu dan keinginan
2.      Adalah abstraksi mental, atau berlalunya pikiran dari seluruh obyek presepsi, pemikiran, tingkah laku, dan perasaan. Dan dengan makna kemudian memusatkan pikiran tentang Allah yaitu memikirkan dan merenungi sifat-sifat-Nya.
3.      Berhentinya pemikiran yang dilandasi kesadaran. Tingkat fana' yang tertingi akan tercapai apabila kesadaran tentang fana itu sendiri telah hilang. Inilah yang dikenal para sufi dengan الفناء عن الفناء  .
            Pada tahap pertama, kala itu yang lenyap adalah perilaku dan pemikiran buruk, dan dengan serempak dilahirkan perilaku dan pemikiran yang baik yang berkesinambungan. Sedang tahap kedua lebih berkaitan dengan intelektualisme dan pengecekkan diri. Adapun tahap ketiga merupakan tingkat tertinggi dari kehidupan kontemplatif.
            Faham fana dan baqa' dalam sejarah perjalanan tasawuf dimunculkan oleh Abu Yazid al-Bustami. Ketika ia telah fana mencapai baqa' maka dari mulutnya keluarlah kata-kata ganjil, yang jika tidak hati-hati memahami akan menimbulkan kesan seolah-olah Abu Yazid mengakui dirinya sebagai Tuhan, pada hal yang sesungguhnya ia tetap manusia, yaitu manusia yang mengalami pengalaman batin bersatu dengan Tuhan. Di antara ucapan ganjil yang keluar dari dirinya;
لااله الا انا فاعبد ني . سبحاني,  سبحاني, ما اعظم شاني .

Artinya:
               "Tidak ada Tuhan selain Aku maka sembalah Aku. Maha suci Aku. Maha suci Aku maka sembalah Aku".
            Mengenai epistemologi doktrin fana' dan baqa' ini Nicholson mengatakan berasal dari India. Kemungkinan Bayazid telah menerimanya dari gurunya, Abu Ali (dari Sind).
            Menurut hemat penulis, adanya pengaruh luar terhadap doktrin fana dan baqa' itu sangat mungkin. Karena faham ini muncul setelah umat Islam bersentuhan dengan budaya luar, akan tetapi umat Islam dalam mengambil doktrin tersebut tidaklah mengambil dalam jaketnya yang utuh tetapi telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga nampak Islami.
            Ibrahim Basyumi membagi fana dalam beberapa bagian yaitu;
1. Al-Sukr
            Al-Sukr (kemabukan) datang setelah fase al-Ghaebat yaitu suatu keadaan yang menengah antara cinta dan fana karena mengingat pahala dan memikirkan siksaan.
            Al-Sukr yang merupakan salah satu ajaran Bayazid, digunakan untuk menunjukkan kegairahan cinta kepada Tuhan. Al-Sukr melibatkan kebinasaan sifat-sifat manusia, seperti harapan dan pilihan.
            Hasiografi sufi sering menyebutkan sebuah surat yang dikirim oleh Yahya bin Muadz kepada Bayazid yang isinya "saya mabuk setelah meminum begitu banyak dari saripati cinta-Nya." Dalam jawaban Bayazid mengatakan "orang lain telah meminum samudera Surga dan dunia, namun kehausannya juga belum juga terpuasi, lidahnya menjulur dan menjerit; masih adakah yang bisa diminum lagi.
            Al-Sukr hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki cinta, ketika seorang hamba dibukakan pintu baginya sifat-sifat keindahan muncullah baginya al-Sukr, jiwanyapun tentram dan damai.
2. Ghalbat al- Syuhud
            Adalah suatu keadaan dimana seorang sufi telah melupakan segalanya termasuk dirinya kecuali Tuhan, sehingga seandainya seorang sufi di tanya, dari mana dan ke mana, maka jawabanya hanya satu yaitu Tuhan.
            Dikisahkan sutau ketika seorang mengetuk pintu rumah Bayasid, bayazid berkata: من تطلب ؟ قال ابو يزيد قال مر فليس فى البيت غير الله عز وجل[42].                 
            Dari sini kita dapat amati doktrin Bayazid yang memperoleh kedudukan penting di dalam struktur ajaran tasawuf. Ungkapan ini mengindikasikan bahwa segala sesuatu selain Allah adalah tiada. Dan hanya pertolongan Allah-lah yang layak didambakan oleh seorang sufi.
            Dari beberapa ungkapan Abu Yazid, di atas menunjukkan begitu dekatnya ia dengan Tuhan. Namun demikian persatuan sebenarnya belum terjadi tetapi mungkin baru memasuki pintu ittihad.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Hujwiri. Kasyful Mahjub Kairo: Halatul Mustafa, 1991      Al-Qusyaeri, Abu al-Qasim Abd al-Karim. "selanjutnya disebut al-Qusyaeri," al-Risalat al-Qusyaeriyat fi Ilm al-Tashawuf. Mesir: Maktabat Muhammad Ali Shabih , t. th
Al-Thusi, Abu Nashr al-Sarraj. "selanjutnya disebut al-Thusi", Al-Luma'. Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, t. th
Asmaran As. Pengantar Studi Tasawuf.  Jakarta: Rajawali Press, 1994
Attar, Farid al-Din. Muslim Saints and Mistics : Translated by A.J Arberry. Londong: Rontledge, 1979
Basyumi, Ibrahim. Nasy'at al-Tasawuf al-Islami. Mesir: Dar al-Maarif, t. th
Budiman,  Ahmad Nasir. Antara Sufisme dan Syari'ah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, t. th
Budiman, A. Nasir. Tasawuf Menguak Cinta Ilahiah. Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1993
Departemen Agama, al-Qur'an dan Terjemahannya. Semarang: CV. Toha Putra, 1989
Ghulab, Muhammad. al-Tasawwuf al-Muqaran Mesir: Tabat Nahdhat, 1956  
H. A. R. Gibb dan J. H Kreamers, Shorter Encyclopedia of Islam. Leiden: El Brill, 1961
H. A. R. Gibb et. al. The encyclopedia of Islam, Vol. I. Leiden: E. J  Brill, 1960
Hamka. Tasawuf Perkembangan dan Pemurnianya. Cet. XI ; Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1984
Herawan, Bambang. Pasang Surut Aliran Tasawuf. Bandung: Mizan, 1993 
Ibrahim Anis dkk, al-Mujam al-Wasith. Kairo: Dar al-Fikr, 1972     
Kafrawi Ridwan dkk. (ed), Ensiklopedia Islam. Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1993
Nasution, Harun. Falsafa dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta: Bulan  Bintang, 1973
Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf. Cet. II; Jakarta PT Raja Grafindo Persada, 1997
Schimel, Annemarie. Maine Seele ist eine Frau: Das weibliche im Islam, diterjemahkan oleh Rahmani Astuti, Jiwaku adalah Wanita: Aspek feminism dalam Spitualitas Islam Cet. II; Bandung: Mizan, 1998
Shaliba, Jamil. Mujam al-falsafy, Jilid II Bairut: Dar al-Kitab, 1979
Supardi, Dimensi Mistik dalam Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986
Trimigham, J. Spencer. The Sufi order in Islam. Londong: Oxford Universiti Press, 1971
Zahri, Mustafa. Kunci Memahami Ilmu Tasawuf. Cet. I; Surabaya: Bina Ilmu, 1985
Zakariya, Abu Husaen Ahmad bin Faris.  Mu'jam Maqayis al-Lughat, Jilid I. Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi, 196
Terimakasih telah membaca artikel berjudul Pemikiran Tasawuf Abu Yazid Al-Bustami

Ansar Zainuddin
Kumpulan Makalah Updated at: 9/30/2017

0 komentar Pemikiran Tasawuf Abu Yazid Al-Bustami

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak