PAHAM AHLUSUNNAH WAL JAMA'AH

     
  1. Pengertian Ahlussunnah Wal Jama’ah
Hasil gambar untuk ahlussunnah wal jamaahKalimat Ahlussunnah Wal Jama’ah terangkai dari tiga kata, yaitu :
Dari kata Ahl yang berarti keluarga, golongan, atau pengikut, As-Sunnah yaitu segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dan Al-Jama'ah yaitu apa-apa yang telah disepakati oleh para sahabat Rasulullah SAW pada masa AL-Khulafa' Al-Rasyidun (Khalifah Abu Bakar RA, 'Umar bin Khattab RA, 'Utsman bin 'Affan RAdan 'Ali bin Abi Thalib RA).
Ahlussunnah Wal Jama’ah ialah kaum yang menganut kepercayaan yang dianut oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau.
  1. Munculnya Ahlussunnah Wal Jama’ah
Ahlussunnah Wal Jama’ah muncul pada akhir abad ke-3 Hijriyah yang dikepalai oleh dua orang ulama’ besar dalam Ushuluddinyang bernama Syaikh Abu Hasan ‘Ali Al-Asy’ari da Syaikh Abu Mansur Al-Maturidi, kedua imam tersebut oleh orang Islam dari dahulu sampai sekarang dianggap bahwa keduanyalah yang membangun Ahlussunnah Wal Jama’ah. Hal ini terkandung dalam perkataan Imam Muhammad bin Muhammad Al-Husni Az-Zabidi, yang bunyinya :
إِذَا أُطْلِقَ أَهْلُ السُّنَّةِ فَالْمُرَادُ بِهِ الْأَشَاعِرَةُ وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ.
Yang artinya : “apabila disebut kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah, maka maksudnya adalah orang-orang yang mengikuti paham As-Sy’ari dan Abu Mansu Al-Maturidi”.
Dengan sendirinya golongan ini mencakup para ulama’ Mujahidin yag mencari hukum dan hukuman agama dengan melakukan usaha yang wajar yang ditempuh dengan jalan ilmiah Islamiyah yang menggunakan dasar-dasar. Dasar-dasar tersebut meliputi Al-Qur’andan As-Sunnah, selanjutnya ditinjau dari segi ijma’ para sahabat maupun ulama’ lainya. Namun, apabila masih belum mencapai hasil yang diinginkan, maka disusul dengan ijtihad yang meliputi qiyas, istihsan, masalah mursalah dan istinbath. Pada umumnya jalan ini baertujuan untuk menyelamatkan pemikiran dan lebih menjauhkan diri dari kesalahan yang mungkin terjadi, disamping itu untuk menjaga kesatuan umat hingga tidak banyak perselisihan pendapat yang meragukan.
  1. I’tiqod Kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah  
Ahlussunnah Wal Jama’ah memiliki I’tiqod yang telah disusun oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang terbagi dari beberapa bagian, yaitu :
  1. Tentang ke-Tuhanan.
  2. Tentang Malaikat-Malaikat.
  3. Tentang Kitab-Kitab.
  4. Tentang Rasul-Rasul.
  5. Tentang Hari Kiamat.
  6. Tentang qodha’ dan qodar
Pembagian yang diabgi oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, yang bunyinya :
فَأَخْبِرْنِى عَنِ الْإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرَسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِرِ وَالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.(رواه مسلم)
Yang artinya : “maka beritahulah kami (hai Rasulullah) tentang iman, nabi menjawab : engkau mesti percaya kepada adanya Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan qodha’ qodar-Nya”. (HR. Imam Muslim).


  1. Tentang ke-Tuhanan
Mempercayai adanya Allah hukumya wajib bagi seluruh orang Islam kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dzat Allah SWT, itu lebih agung dari pada yang dianggap manusia, sebab akal fikiran manusia tidak mampu mengetahui hakikat akan dzat Allah SWT. Padahal perbandingan antara manusia dan keagungan kerajaan Allah SWT itu lebih kecil dari pada bakteri yang ada pada jisim (tubuh) manusia. Manusia dilarang untuk memfikirkan masalah dzat Allah bertujuan untuk menjauhkan manusia dari jurang kesesatan. Hal ini terkandung dalam sebuah hadits, yang bunyinya :
تَفَكَّرُوْا فِى خَلْقِ اللهِ وَلَا تَتَفَكَّرُوْا فِى اللهِ فَإِنَّكُمْ لَنْ تَقْدِرُوْا قَدْرَهَ. (رواه ابن عباس)
Yang artinya : “berfikirlah kalian terhadap makhluk Allah, dan janganlah kalian berfikir tentang Allah, maka sesungguhnya kamu sekalian tidak mungkin bisa (mengetahui) kekuasaan Allah”. (HR. Ibnu ‘Abbas)
Manusia hanya wajib mengatahu Allah melalui mengetahui sifat-sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi Allah. Ketika manusia memikirkan tentang Allah akal fikiran yang manusia miliki tidak akan sanggup menjangkau dzat Allah yang agung.


  1. Tentang Malaikat-Malaikat Allah
Kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah mempercayai bahwa Allah menciptakan suatu makhluk halus yang diciptakan dari nur (cahaya) yang bernama malaikat yang tidak memiliki orang tua dan tidak pernah makan dan minum. Manusia tidak dapat meliha para malaikat dalam bentuk asalnya kecuali para malaikat itu menyerupai manusia. Namun, ada manusia yang diberi keistimewaan oleh Allah untuk dapat melihat para malaikat yaitu para nabi. Jumlah malaikat itu banyak yang manusia tidak dapat mengetahui jumlahnya. Namun, umat Islam hanya wajib mengetahui malaikat-malaikat yang sepuluh, setiap malaikat mempunyai tugas masing-masing dari Tuhan-nya.
Malaikat adalah makhluk halus ciptaan Allah yang taat menjalani semua perintah dari Allah. Hal ini terkandung dalam Al-Qur’an, yang bunyinya :
لاَيَعْصُوْنَ اللهَ مَاأَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَايُؤْمَرُوْنَ. (التحريم : ٦)
Yang artinya : “malaikat-malaikat itu tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintankan-Nya”. (QS. At-Tahrim : 6 )


  1. Tentang Kitab-Kitab Suci
Kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah menyakini sesungguhnya Allah memiliki kitab-kitab suci yang diturunkan kepada para rasul-rasul-Nya, yang menerngkan tentang perintah, larangan, janji dan ancaman Allah bagi orang-orang yang melanggarnya. Hal ini terkandung dalam Al-Qur’an, yang bunyinya :
وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ. (البقرة : ۲۱۳)
Yang artinya : “dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar untuk member putusan di antara mausia tentang perkara yang mereka perselisihkan”. (QS. Al-Baqarah : 213)
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللهِ نُوْرٌ وَّكِتَابٌ مُّبِيْنٌ. (المائدة : ۱۵)
Yang artinya : “sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan”. (QS. Al-Maidah : 15)
Allah SWT  menurunkan kitab-kitab suci yang wajib diiamani oleh umat Islam ada empat kitab, yaitu :
  1. Kitab Taurat
  2. Kitab Zabur
  3. Kitab Injil, dan
  4. Kitab Al-Qur’an


  1. Tentang Rasul-Rasul
Kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah menyakini bahwa Allah memiliki para utusan yang diutus untuk memberikan kabar kembira bagi orang-orang yang beriman adan ancaman bagi orang-orang yang berbuat dosa. Sebagian ulama’ menjelaskan tentang  jumlah para nabi dan rasul, yaitu 124.000 orang, tapi yang diangkat menjadi rasul hanya 313 orang, dan kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah menyakini bahwasaannya bagi umat Islam hanya wajib mengetahui rasul yang 25, yang dari Nabi Adam AS sampai kepada Nabi Muhammad SAW, selain itu kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah meyakini bahwa diantara nabi-nabi yang 25 itu ada lima nabi yang dijuluki Ulul Azmi,diantaranya :
  1. Nabi Muhammad SAW
  2. Nabi Ibrahim AS
  3. Nabi musa AS
  4. Nabi Isa AS, dan
  5. Nabi Nuh AS
Hal ini sesuai dengan yang terkandung dalam Al-Qr’an, yang bunyinya :
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّنَ مِيْثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُّوْحٍ وَّاِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِيْثَاقًا غَلِيْظًا. (الاحزاب : ۷)
Yang artinya : “dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Marya, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh”. (QS. Al-Ahzab : 7)
Dalam ayat lain, yang bunyinya :
شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا وَّالَّذِيْ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى أَنْ أَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَاتَدْعُهُمْ إِلَيْهِ اَللهُ يَجْتَبِيْ إِلَيْهِ مَنْ يَّشَاءِ وَيَهْدِيْ إِلَيْهْ مَنْ يُّنِيْبُ. (الشورى : ۱۳)
Yang artinya : “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, musa dan Isa yaitu, tegakkanlah agama, dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan member petunjuk kepada (agama)-Nya orng yang kembali (kepada-Nya)”. (QS. Asy-Syuro : 13)


  1. Tentang Hari Kiamat
Kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah meyakini bahwa hari akhir (kiamat) pasti akan ada, namun manusia tidak mengtahui kapan hari akhir akan terjadi kecuali Allah SWT. Umat Islam kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah wajib percaya :
  1. Setiap orang akan mati
  2. Pertanyaan dalam kubur
  3. Akan ada haripembangkitan
  4. Adanya timbangan tentang amal baik dan buruk
  5. Adanya titian siratholmutaqim yang dibentang diatas neraka
  6. Sekalian orang-orag yang baik masuk ke syurga dan orang-orang yang ingkar masuk ke neraka
  7. Orang-orang yang kafir akan kekal di neraka sedangkan orang-orag Islam yang selama hidupnya berbuat dosa hanya sementara
  8. Orang-orang yang shaleh akan diberi nikmat yang sangat besar yaitu bisa melihat Allah SWT
  9. Yang ada di syurga akan kekal begitu pula yang berada didalam neraka.
Dasar-dasar kepercayaan kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah ini terkandung dalam Al-Quran, yang bunyinya :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِـقَـةُ الْمَــوْتِ. (ال عمـران : ۱۸۵)
Yang artinya : “setiap orang akan merasakan mati”. (QS. Ali Imron : 185)
وَلَكِـنَّ الْبِرَّ مَنْ أَمَنَ بِاللهِ وَالْيَـوْمِ الْاَخِـرِ. (البقرة : ۱۷۷)
Yang artinya : “dan yang baik ialah iman kepada Allah dan iman atas adanya Hari Akhir”. (QS. Al-Baqarah : 177)
ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَـقُّ وَأَنَّـهُ يُحْـيِى الْمَـوْتَى وَأَنَّـهُ عَلَـى كُلِّ شَيْـئٍ قَدِيْـرٌ. وَأَنَّ السَـاعَةَ أَتِيَـةٌ لَارَيْبَ فِيْـهَا وَأَنَّ اللهَ يَبْــعَـثُ مَنْ فِى الْقُبُــــوْرِ. (الحــج : ٦-۷)
Yang artinya : “demikianlh yang sesungguhnya, Allah itu yang sebenarnya dan Ia bisa menghidupkan yang mati, bahwasanya Ia kuasa membuat sesuatu. Dan sesungguhnya kiamat itu pasti datang, tiada ragu lagi dan sesungguhnya Tuhan akan membangkitkan orang-orang yang dalam kubur”. (QS. Al-Haj : 6-7)
  1. Tentang Qodha’ dan Qodar
Kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah menyakini bahwasannya seluruh perbuatan manusia baik yang membutuhkan usaha (Ikhtiar) maupun tanpa usaha (Idltirori) semua itu terjadi karena kehendak Allh SWT. Dan ketentuan (takdir) itu telah dibuat Allah sejak zaman sebelum ada sesuatu kecuali Allah (Azal). Semua yang terjadi pada manusia itu sudah ditakdirkan oleh Allah. Hal ini terkandung di dalam Al-Qur’an , yang bunyinya :
إِنَّا كُلَّ شَـيْئٍ خَلَقْـنَا بِـقَـدَرٍ. (القــــمـر : ٤٩)
Yang artinya : “sesugguhnya segala sesuatu Kami jadikan dengan takdir”. (QS. Al-Qamar : 49)


  1. Aliran-Aliran Ahlussunnah Wal Jama’ah
Ahlussunnah Wal Jama’ah memiliki dua aliran yaitu :
  1. Aliran Asy’ariyah
Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap paham theology Islam yang telah mendahuluinya. Pandangan teologis Asy’ari (pokok ajaran) meliputi :
  1. Iman
  2. Akal dan Wahyu
  3. Wujud Tuhan
  4. Dzat dan Sifat Tuhan
  5. Kalamullah
  6. Arah dan Rukyah
  7. Kekuasaan dan Keadailan Tuhan
  8. Qadha’ dan Qodar Tuhan



  1. Aliran Al-Maturidiyah
Al-Maturidiyah sebagai salah satu paham Ahlussunnah Wal Jama’ah dalam bebera segi memiliki banyak persamaan dengan Asy’ariyah. Pokok ajarannya meliputi :
  1. Perbuatan Manusia
  2. Kedudukan Dosa Besar
  3. Fungsi Akal Bagi Al-Qur’an
  4. Mengenai Kebangkitan di Hari Kiamat


Ahlussunnah Wal Jamaah merupakan aliran yang akan selamat dari pada aliran yang lain, hal ini terkandung dalam hadits Rasulullah SAW, yang bunyinya :
سَتَفْتَرِقُ اُمَّتِى عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً. اَلنَّاجِيَّةُ مِنْهَا وَاحِدَةٌ وَالْيَقُوْنَ هَلْكَى. قِيْلَ: وَمَنِ النَّاجِيَّةُ؟ قَالَ: اَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ. قِيْلَ: وَمَنْ اَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ؟ قَالَ: مَا اَنَا عَلَيْهِ وَاَصْحَابِى.
Yang artinya : “akan terpecah belah umatku atas tujuh puluh tiga golongan. Yang selamat diantaranya hanya satu golongan (saja) yang lainnya binasa. (para sahabat: bertanya: siapakah yang selamat itu? Rasul menjawab: (ialah) Ahlusunnah Wal Jamaah. (para sahabat) bertanya lagi: siapakah Ahlussunnah Wal Jamaah itu? Rasul menjawab: yaitu apa yang aku dan sahabatku berada di atasnya (mengikuti)” (Al Milal wa Al Nihal Huz I hal 12).
Dalam hadits sudah jelas bahwa aliran yang akan selamat adalah Aliran Ahlussunnah Wal Jamaah karena aliran tersebut selalu mengikuti sunnah Rasulullah dan para sahabat beliau (Rasulullah).
BAB III
PENUTUP


  1. Kesimpulan
Ahlussunnah Wal Jama’ah terbentuk melalui proses yang tidak sederhana.disamping membutuhkan waktu yang panjang dalam proses dalam pembukuannya, faham ini juga mengalami beberapa kali benturan dengan faham lain sebelumsampai pada bentuk ny ayang final. Walaupun faham ini telah berhasil mengatasi tantangangan yang dihadapinya dalam proses sampai kepada formatnya yang baku,Ahlussunah Wal Jamaah mulai di uji kembali oleh kelompok modernis yang menghendaki adnaya revisi terhadap beberapa ajarannya yang dianggap perlu diubah agar sesuai dengan tututan zaman. Namun, kelihatannya keberadaan Ahlulsunnah Wal Jamaah maih tetap dibutuhkan skurang-kurang dalam masa sekarang ini karena tantangan dari kaum modernis terbukti menjadi counter productive. Meskipun demikian ahl lulsunah waljama’ah tetap harus terbuka untuk berubah sebab hakekat keberadaanya memang hasil dari dari perubahan-perubahan yang dilakukan oleh ulama Sunni di masa lalu doktrin in bisa compatible dengan waktu di masa para ulama waktu hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Sirajuddin, I’TIQOD AHLUSSUNNAH WAL JAMA”AH, (Jakarta : Pustaka Tarbiyah baru. Cet. VII), 2008
Ahmad, Muhammad, TAUHID ILMU KALAM, (Bandung : CV. Pustaka Setia. Cet. II), 2009
Al-Jazairi, Syaikh Tohir bin Sholeh, AL-JAWAHIR KALAMIYAH, (Surabaya : Toko Kitab Al-Hidayah), Tt
Asy’ari, Syaikh Muhammad Hasim, RISALAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH, (Pasuruan : Maktabah At-Tarbiyah Al-Islami (Pustaka Sidogiri), 1418
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya.
Sudarsono, FILSAFAT ISLAM, (Jakarta : PT. Rineka Cipta. Cet I), 1997
Syak’ah, Mustofa Muhammad, ISLAM TANPA MAZHAB, (Solo : Tiga serangkai. Cet. I), 2008

Wahhab, Muhammad bin Abdul, BERSIHKAN TAUHID ANDA DARI NODA SYIRIK, (Surabaya : PT. Bina Ilmu. Bag. II), 1996

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "PAHAM AHLUSUNNAH WAL JAMA'AH"

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak