SEJARAH DINASTI BANI UMAYYAH

 DINASTI BANI UMAYYAH
Bani Umayyah

      A.      Perkembangan dan Kemajuan Dinasti Bani Umayyah

Kemajuan utama yang terwujud dalam masa Dinasti Bani Umayyah antara lain adalah terciptanya suasana yang kondusif dalam negara dan bersatunya kembali ummat Islam. Hal tersebut tercapai dikarenakan Muawiyah (pada awal kepemimpinannya) mampu menjalankan roda pemerintahan dengan baik.
Dinasti Bani Umayyah berkuasa hampir satu abad, dengan 14 orang khalifah. Dimulai dari Muawiyah bin abu Sofyan dan ditutup oleh Marwan ibn Muhammad. Adapun urutan khalifah Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
1.           Muawiyah ibnAbi Sufyan (41H/661M)
2.           Yazid bin Muawiyah (60 H/680 M)
3.           Muawiyah II (64 H/683 M)
4.           Marwan I ibn Hakam (64 H/684 M)
5.           Abdul Malik ibn Marwan (65 H/685 M)
6.           Al- Walid ibn Abdul Malik (86 H/705 M)
7.           Sulayman ibn Abdul Malik (96 H/715 M)
8.           Umar bin Abdul Azis (99 H/717 M)
9.           Yazid II ibn Abdul Malik (101 H/720 M)
10.       Hisyam ibn Abdul Malik (105 H/724 M)
11.       Al- Walid II (125 H/743 M)
12.       Yazid III (126 H/744 M)
13.       Ibrahim ibn al- Walid II (126 H/744 M)
14.       Marwan II ibn Muhammad (127-132 H/744-750 M)[4]
Dalam pemerintahannya, Bani Umayyah membawa dampak dalam perkembangannya, selain ekspansi yang sangat luas juga diikuti oleh kemajuan-kemajuan di berbagai bidang, di antaranya :
1.        Bidang Sastra
Pada umumnya, para pemimpinnya sangat mencintai syair dan pujaan serta kemegahan, sehingga kesustraan berkembang pesat pada saat itu. Hal ini dapat terlihat dalam beberapa aspek sebagai berikut:
a.         Pertentangan Kabilah, yakni masing-masing kabilah merasa megah dengan unsur sukunya sehingga muncullah para pujangga utama untuk membela dan meninggikan kabilahnya.
b.        Penghamburan uang, yakni para khalifah dan pembesarnya memelihara para penyair khusus dengan gaji yang besar. Di samping member hadiah yang berganda kepada para pujangga yang mau memuja dan membela rezimnya.
c.         Fanatik Arab, yakni menghidupkan dan mengembangkan nilai-nilai kesusastraan yang terdapat dalam bahasa Arab.
d.        Gerakan Adab, yakni adanya hubungan antara oprang-orang Muslim dengan bangsa-bangsa yang telah maju, sehingga bagi kaum  muslimin giat menyusun dan membina riwayat Arab, seni bahasa dan hikmah.[5]
Pada waktu pengangkatan Yazid sebagai khalifah, seorang penyair bernama Miskin al-Darimi diminta untuk menggubah dan membacakan puisi di depan publik bait-bait puisi yang bernuansa politik. Bahkan pada masa pemerintahan al-Walid, seorang bernama Hammad mendapat hadiah sebesar 100 dirham karena Hammad ini berhasil menghimpun Puisi Emas berlirik yang dikenal dengan Mu’allaqat.[6]
Sekolah puisi provinsi pada masa Umayyah dikepalai oleh al-Farazdaq(+ 640-728) dan Jarir (w. 729), dan sekolah puisi di ibukota kerajaan dikepalai oleh al-Akhthal (+640-710). Ketiganya merupakan yang terdepan di antara para penyair unggulan sebelum mereka. Dengan puisi pujiannya, yang menjadi salah satu sumber penghidupan bagi mereka, para penyair ini memiliki peran seperti media massa dewasa ini.[7]
2.        Bidang IlmuPengetahuan
Pemerintahan dinasti Bani Umayyah yang dibina atas dasar kekerasan dan mata pedang, serta jiwanya yang sangat kental dengan kefilsafatan membuatnya sangat menghormati para cendikiawan sebagai tempat mengadu. Bahkan mereka menyediakan dana khusus untuk para ulama dan filosof.[8] Penghormatan kepada ulama karena didorong oleh semangat keagamaan mereka.
Pada periode ini belum ada  pendidikan formal. Putra-putra khalifah Bani Umayyah biasanya akan di sekolahkan ke Badiyah, gurun Suriah. Ke sanalah Muawiyah mengirimkan putranya  yang kemudian menjadi penerusnya (Yazid).
Di masa khalifah Umar bin Abd Aziz, para da’i Islam dikirim ke berbagai negara seperti India, Turki, Asia Tengah, Afrika, Andalusia dan sebagainya dengan misi utama agar mereka masuk Islam. Waktu itu, beliau memerintahkan semua warganya untuk berbondong-bondong mempelajari hukum Islam di setiap bangunan terutama masjid dalam rangka menyebarkan ilmu pengetahuan. Kemudian ia menyuruh golongan cendikiawan muslim agar menerjemahkan berbagai cabang ilmu pengetahuan yang termaktub dalam kitab-kitab berbahasa Yunani dan Latin ke bahasa Arab , agar ilmu-ilmu tersebut dapat dicerna oleh ummat Islam.[9] Dan di masa Umar bin Abd Aziz inilah beliau menginstruksikan untuk mentadwinkan kitab-kitab hadits.[10]
Kota-kota yang menjadi pusat kegiatan ilmu pada masa Bani Umayyah masih seperti zaman Khulafaurrasyidin, yaitu Damaskus, Kuffah, Basrah, Mekkah, Madinah, Mesir dan ditambah lagi dengan pusat-pusat baru seperti Kairawan, kordoba, Granada dan lain-lainya. Ilmu pengetahuan pada masa itu terbagi menjadi dua yaitu;
a.         Al-Adaabul Hadisah (ilmu-ilmu baru) yang terdiri dari dua bagian, yaitu:
1). Al- Ulumul Islamiyah, yaitu ilmu-ilmu al-Qur’an, al-Hadits, al-Fiqh, al-Ulumul Lisaniyah, at-Tarikh dan al-Jughari.
2). Al-Ulumul Dakhiliyah, yaitu ilmu-ilmu yang diperlukan oleh kemajuan Islam, seperti Filsafat, ilmu pasti dan ilmu-ilmu eksakta lainnya yang disalin dari bahasa Persia dan Romawi.
b.         Al-Adaabul Qadimah (ilmu-ilmu lama), yaitu ilmu-ilmu yang telah ada di zaman Jahiliyah dan di zaman khulafaurrasyidin, seperti ilmu-ilmu lughah, syair, khitabah dan amsaal.[11]
Adapun tokoh-tokoh ilmu pengetahuan diantaranya Abu al-Aswad al-Du’ali (perintis tata bahasa), al-Khalil ibn Ahmad (penyusun Kitab al-Ayn), Hasan al-Bashri, Ibn Syihab al-Zuhri, Amir ibn Syarahil al-Sya’bi, Abu Hanifah, Abid ibn Syaryah dan Wahb ibn Munabbih.[12]
3.        Bidang Ekonomi
Dalam upaya membiayai roda pemerintahan, maka dibentuklah Bait al-Mal sebagai kas perbendaharaan Negara. Semua hasil bumi dan pajak lainnya dimasukkan ke  Bait al-Mal tersebut yang dikordinir oleh Diwan al-Kharaj. Hasil bumi yang digarap oleh masyarakat disetor 5% ke pemerintah, sedangkan pajak untuk setiap transaksi disetor sebesar 10%. Khusus barang dagangan yang nilainya kurang dari 200 dirham tidak dikenakan  pajak.[13]
Sumber dana lain untuk pengisian Bait al-Mal adalah pajak kekayaan yang khusus ditujukan kepada non Muslim yang daerahnya dikuasai oleh pemerintahan Islam. Dana-dana tersebut digunakan untuk pembangunan pada sektor-sektor penting, yakni jalan raya dan sumur-sumur di sepanjang jalan dan pembangunan pabrik-pabrik. Pemerataan pembangunan bukan hanya pada suatu daerah, akan tetapi dilakukan upaya-upaya distribusi ke daerahdaerah secara adil.[14]
Kemudian kebijakan yang strategis pada masa dinasti Bani Umayyah adalah adanya sistem penyamaan keuangan. Hal ini terjadi pada masa khalifah Abdul Malik. Dia mengubah mata uang asing Bizantium dan Persia yang diipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Mata uang tersebut terbuat dari emas dan perak sebagai lambing kesamaan kerajaan ini dengan imperium yang ada sebelumnya.[15]

4.        Bidang Administrasi
Administrasi pemerintahan Bani Umayyah telah nampak pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan yang berpusat di Damaskus. Muawiyah dikenal dalam kepemimpinannya karena dalam dirinya terkumpul sifat seorang politikus dan administrator.Di zaman ini pertama dikenalkan materai resmi untuk mengirimkan memorandum yang berasal dari Khalifah serta pertama kali menggunakan pos untuk mengumumkan kejadian-kejadian penting dengan cepat.[16]
Penambahan administrasi pemerintahan besar-besaran terjadi pula pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, dia melakukan pembenahan administrasi negara dengan memerintahkan para pejabat negara menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi dalam pemerintahan. Hal tersebut pertaama kali diterapkan di Syiria dan Irak, kemudian di Mesir dan Persia.[17]
Dalam menjalankan pemerintahannya, Khalifah Bani Umayyah dibantu oleh beberapa al-Kuttab yang meliputi:
a.     Katib ar-Rasail yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan administrasi dan surat menyurat dengan pembesar-pembesar setempat.
b.    Katib al-Kharraj yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran Negara.
c.     Katib al-Jund yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan hal-hal yang berkaitan dengan ketentaraan.
d.    Katib asy-Syurthahk yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum.
e.     Katib al- Qaadhi yaitu sekretaris yang bertugas menyelenggarakan tertib hakum melalui badan-badan peradilan dan hakim setempat.[18]
Demikianlah kemajuan-kemajuan yang dicapai dinasti Bani Umayyah yang tentunya membawa sebuah perubahan besar dalam perkembangan sejarah peradaban Islam. Hal ini setidaknya tercermin pada masa Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680 M), Abd al-Malik ibn Marwan (685-705 M), al-Walid ibn Abdul Malik (705-715 M), Umar ibn Abd al-Aziz(717-720 M) dan Hasyim ibn Abd al-Malik (724-743 M).

B.       Kemunduran Dan Kehancuran Dinasti Bani Umayyah

Kekuasaan wilayah Bani Umayyah yang sangat luas dalam waktu yang singkat tidak berbanding lurus dengan komunikasi yang baik, menyebabkan kadang-kadang suatu wilayah situasi keamanan dan kejadian-kejadian tidak segera diketahui oleh pusat. Di samping itu kemunduran Bani Umayyah tidak terlepas dari pengaruh sikap dan kebijakan khalifah ataupun gebernur Bani Umayyah.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dan kehancuran Bani Umayyah dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitui:
1.        Faktor Intern, yaitu faktor yang berasal dari dalam istana, antara lain:
a.         Perselisihan antar keluarga khalifah.
Perselisiha antar keluarga khalifah, yaitu para putra mahkota yang menjadikan rapuhnya kekuatan kekhalifaan. Apabila yang pertama memegang kekuasaan, maka ia berusaha untuk mengasingkan yang lain dan menggantikannya dengan anaknya sendiri. Hal ini menimbulkan permusuhan dalam keluarga dan tidak hanya terbatas pada tingkat khalifah dan gebernur saja. Menurut Philip K.Hitti, sistem pergantian khalifah melalui garis keturunan adalah suatu yang baru bagi tradisi Arab yang lebih menekankan aspek senioritas, pergantian khalifah itu tidak jelas. Ketidak jelasan pergantian ini mengakibatkan terjadinya persaingan yangb tidak sehat dikalangan anggota keluarga istana.[19]
b.        Moralitas Khalifah atau gebernur yang jauh dari konsep Islam
Kekayaan Bani Umayyah disalah gunakan oleh khalifah ataupun gebernur untuk hidup berfoya-foya, bersuka ria dalam kemewahan, terutama pada masa Khalifah Yazid II naik tahta. Ia terpikat pada dua biduanitanya, Sallamah dan Hababah serta suka minum minuman keras yang berlebihan. Namun gelar peminum terhebat dipegang anaknya, al-Walid II yang terkenal keras kepala dan suka berfoya-foya. Ia diriwayatkan terbiasa berendam di kolam anggur, yang biasa ia minum airnya hingga kedalamannya berkurang.[20]Kemudian para wazir dan panglima Bani Umayyah sudah mulai korup dan mengendaliakan negara karena para khalifah pada saat itu sangat lemah.[21]
2.        Faktor ekstern, yaitu faktor yang berasal dari luar istana,antara lain:
a.         Perlawanan dari Kaum Khawarij
Semenjak berdirinya Dinasti Umayyah, para khalifahnya sering menghadapi tantangan dari golongan Khawarij. Golongan ini memandang bahwa Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah telah melakukan dosan besar.[22]Perbedaan pandangan politik antara Khawarij, Syi’ah dan Muawiyah menjadikan Khawarij mengangkat pemimpin dikalangannya sendiri. Hal ini tentu mempengaruhi stabilitas politik  pada masa itu.
b.        Perlawanan dari Kaum Syi’ah.
Kaum Syi’ah yang tidak pernah menyetujui pemerintahan Dinasti Umayyah dan tidak pernah memaafkan kesalahan mereka terhadap Ali dan Husain semakin aktif  dan mendapat dukungan publik. Di sisi mereka berkumpul orang-orang yang merasa tidak puas, baik dari sisi politik, ekonomi maupun social terhadap pemerintahan Bani Umayyah.[23]
c.         Perlawanan Golongan Mawali
Asal mula Mawali yaitu budak-budak tawanan perang yang telah dimerdekakan kemudian istilah ini berkembang pada orang Islam bukan Arab.[24]Secara teoritis, orang Mawali memiliki derajat yang sama dengan orang Arab. Namun itu tidak sepenuhnya tampak pada dinasti Umayyah bahkan mereka memandang kelompok Mawali sebagai masyarakat bawahan sehingga terbukalah jurang sosial yang memisahkan. Padahal orang Mawali ini turut serta berjuang membela Islam dan Bani Umayyah, mereka adalah basis infantry yang bertempur dengan kaki telanjangdi atas panasnya pasir, tidak di atas unta maupun kuda. Basis militer ini kemudian bergabung dengan gerakan anti pemerintah, yakni pihak Abbasiyah dan Syiah.[25]
d.        Pertentangan etnis Arab Utara dengan Arab Selatan.
Pada masa kekuaasaan Bani Umayyah, pertentangan etnis antara suku Arabia Utara (Bani Qaisy) dan Arabia Selatan (Bani Qalb) yang sudah ada sejak zaman sebelum Islam makin meruncing.[26] Apabila khalifah tersebut berasal atau lebih dekat dengan Arab Selatan, Arab Utara akan iri demikian pula sebaliknya. Perselisihan ini mengakibatkan para penguasa Bani Umayyah mendapat kesulitan untuk menggalang persatuan dan kesatuan.
e.         Perlawanan dari Golongan Abbasiyah
Keluarga Abbas, para keturunan paman Rasulullah mulai bergerak aktif dan menegaskan tuntutan mereka untuk menduduki pemerintahan. Dengan cerdik, mereka bergabung dengan pendukung Ali dan menekankan hak keluarga Hasyim. Dengan memanfaatkan kekecewaan publik dan menampilkan diri sebagai pembela sejati agama Islam, para keturunan Abbas segera menjadi pemimpin gerakan anti Umayyah.[27]
Inilah faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran yang membawa kehancuran bagi Bani Umayyah. Apalagi ketika tiga gerakan terbesar yakni Abasiyah, Syi’ah dan Mawali bergabung dalam gerakan koalisi untuk menumbangkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah dan bertujuan mendirikan kerajaan baru yang ideal.
Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Bani Umayyah di Damaskus yang telah dirintis oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dan ditandai dengan terbunuhnya Marwan bin Muhammad sebagai khalifah dari Bani Umayyah.


DAFTAR PUSTAKA
Ali, K, Sejarah Islam dari Awal Hingga Runtuhnya Dinasti Usmani, dari buku asli   A Study of Islamic History, diterjemahkan oleh Ghufron Aa,. Mas’adi, Cet. IV; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003.
Amin, Ahmad, Dhuha Islam, Kairo: Maktabah Al-Nahda,1972.
Al-Harwy, Abd, al-Sami Salim, Lugha al-Idarah, t.tp: al-Haiah al-Misrishriyah, 1986.
Al-Hisyam, Sejarah Kebudayaan Islam, Cet.IV; Jakarta: Bulan Bintang, 1993.
Hitti, Phillip K, History of the Arabs, Terj. R. Cecep Lukman Yasin & Dedi Slamet
Riyadi, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta,2008.Isamai, M. Syhudi, Pengantar Ilmu Hadis, Cet. I; Bandung: Angkasa, 1988.
Mufrodi, Ali,  Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Cet.I; Jakarta: Logos, 1999.
Karim, M. Abdul, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet.I; Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007.
Nasution, Harun , Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan,  Cet.V; Jakarta: UI Press, 1986.
-------   Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya, Jilid I, Cet.V; Jakarta:UI Press, 1985.
Al-Syaraf, Muhammad Jalal dan Ali abdul Muthy, al-fikr al-Siyasi fi al-Islam, Iskandariah: Dar al-Jama’ah al-Mashriyah, 1978.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Eds. I; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.

Subscribe to receive free email updates:

8 Responses to "SEJARAH DINASTI BANI UMAYYAH"

  1. Assalamu'alaikum, afwan izin copas...
    syukron

    ReplyDelete
  2. Assalamu'alaikum, afwan izin copas...
    syukron

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa alaikum salam... Tafaddol saudariku. Syukron jazakallah..

      Delete
    2. Wa alaikum salam... Tafaddol saudariku. Syukron jazakallah..

      Delete
  3. Replies
    1. silahkan gan dengan senang hati... semoga bermanfaat..

      Delete
  4. Akhir footnotenya mana???? tolong balas cpat ya.. soalnya sumber footnote itu penting

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf mas Agus saya sudah hapus soalnya mengambil ruang terlalu banyak... semoga bermanfaat.

      Delete

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak